Syndicate

digitaLmbuL’s FiLes

 

Featured Articles

Spy Hacker – INK

Spy hacker

Spy hacker

10 Desember 2010, dimulai perjalanan dengan helm Spy Hacker produksi dari INK, keluar dari rumah yang ada di dalam komplek angkatan darat jatiwaringin, fungsi spying masih belum terlihat, karena masih tertutup oleh Senza istri tercinta yang juga produksi INK.

Kalau dibilang, untuk yang belum terbiasa menggunakan chin strap ala arena balap itu, akan lumayan sulit untuk memasang helm nya.

Sesekali saya melirik kearah istri, dan mendapat lambaian tangan darinya, ya bolehlah kangen-kangenan di jalan :)

Sesampainya di kantor istri yang terletak di BII Thamrin, dan hujan rintik mulai menyambut ramah. Perjalanan saya lanjutkan setelah selesai rutinitas cium tangan dan sapaan mesra suami istri.

Spy hacker vs Senza

Spy hacker vs Senza

Mulailah saya optimalkan penggunaan spion di helm ini.

Cenderung, selama perjalanan, reflek saya lebih ke arah spion motor, atau mungkin belum terbiasa.
Ternyata tidak terlalu sulit untuk melihat ke arah spion itu, dan yang dimaksud “melihat” bukan “melirik” oleh teman-teman sebelumnya mungkin karena refleksi spion ini akan lari keatas bukan kebawah, sedangkan target pengelihatan kita adalah sejajar dengan punggung kitam

Sampai dikantor, yang ada di jalan Utan Kayu Raya, Jakarta Timur, saya lagi-lagi harus membuka chin strap dengan perlahan, mungkin karena belum terbiasa.

Siang hari saya keluar kantor, kembali mencoba fasilitas spion di helm ini. Kali ini, saya menyimpulkan selama perjalanan, proyeksi yang ada di spion adalah untuk melihat siapa di belakang saya untuk kesenangan pribadi, bukan untuk antisipasi keamanan. Di lampu merah saya mencoba melihat pengendara motor di belakang saya, tampaknya beliau sedang sibuk membaca stiker yang ada di box saya :

Oya, sepanjang perjalanan, saya pikir ada pesawat jet yang lagi terbang diangkasa, ndak taunya itu berasal dari dalam helm, sebetulnya suara itu baru “ada” ketika kita konsentrasi ke suara tersebut, karena memang tidak terlalu mengganggu.

Pulangnya, saya pun menjemput istri saya, dan kembali, proyeksi cermin terhalang oleh wajah cantik bidadari yang memakai INK Senza itu.

11 Desember 2010
Pagi hari saya mengantar anak ke sekolah, kebetulan masih di dalam komplek. Jadi tidak terlalu berfungsi proyeksi Prisma View yang diciptakan oleh helm sekelas Premium dari INK ini.

Setelah itu, perjalanan saya lanjutkan ke tempat kursus Public Speaking for Proffesional di jalan Wijaya. Sayang sekali, kali ini, proyeksi cerminnya tertutup oleh sesuatu, yang saya tidak mengerti itu apa. Jadi praktis, sepanjang perjalanan, saya tidak menggunakan fasilitas cermin tersebut.

Oya, untuk yang suka “mengembunkan” helm ketika dipakai, biasanya pada saat lampu merah, cermin ini pun akan mudah terhalang embun dari perbedaan suhu yang ada, tapi tenang, embun akan cepat menyingkir ketika perjalanan anda dimulai.

Sesampainya di rumah, saya menyempatkan kembali melihat kondisi cermin yang terhalang benda misterius itu, selidik punya selidik, ternyata kain yang berada di dekat cermin terlepas sedikit, hingga menghalangi pandangan.

Dua kali sudah saya harus terpaksa membuka tutup di belakang helm untuk menyelesaikan masalah. Pertama adalah, lepasnya stiker INK yang ada di bagian belakang dimana hal tersebut menghalangi kesempurnaan proyeksi gambar, yang kedua, lagi-lagi hal sepele yang menyebabkan proyeksi tidak ditampilkan maksimal. Hal-hal ini mungkin tidak terlalu menjadi perhatian, karena mungkin juga jarang terjadi, tapi menjadikan pertanyaan bagaimana Quality Control helm secara keseluruhan sebelum terlepas ke pasaran.

Spy hacker minus Stiker INK

Spy hacker minus Stiker INK

12 Desember, saya melakukan perjanan dengan kendaraan roda empat, jadi Spy Hacker dari INK ini tidak saya gunakan, kecuali saya mau terlihat seperti pembalap sirkuit, hahahaha.

Aah..senin, tanggal 13 Desember 2010, masih belum ada perkembangan signifikan, saya tetap menggunakan fasilitas “spy” untuk kesenangan pribadi, belum dapat dikategorikan untuk keselamatan berkendara.

Pagi harinya, saya kembali harus membenarkan kain yang mengganggu pengelihatan dari cermin pemantul yang disebut Prisma View tersebut.

14 Desember, tampaknya saya mulai terbiasa menggunakan fasilitas cermin ini untuk antisipasi kendaraan di sekitar motor saya. Maklum, di motor, saya menggunakan bantuan blind spot mirror, dimana dengan tambahan itu, saya harus bisa membagi konsentrasi dari pengelihatan spion tersebut.

Diperbincangan sore hari, ada masukan menari dari teman saya, ternyata ada hal lain, selain harus membetulkan kain yang terlepas dari lem.
Teman saya mengatakan, bahwa mika plastik di belakang helm, cenderung mempunyai sifat buram. Berarti, saya harus mengganti secara rutin kaca belakang tersebut. Wah..lumayan sulit, karena saya juga harus mengganti secara rutin visor depan.

15 Desember, menjadi pengalaman pertama dalam mencoba Spy Hacker ditengah hujan malam hari, ternyata, proyeksi yang tertangkap oleh cermin Prisma View itu tidak terlalu sempurna, karena hanya cahaya yang bisa dilihat, selebihnya tidak terlalu jelas.

Pengalaman disiang hari juga sama persis, bahwa tidak ada hal yang berbeda, selain saya sudah mulai terbiasa melihat ke “spion tambahan” ini.

16 Desember, saya mencoba hal yang sedikit out of mind, paling tidak menurut saya, yaitu, melihat proyeksi di belakang saya pada saat memacu sepeda motor saya, dan hasilnya?
Sangat tidak direkomendasikan, hilang semua konsentrasi pada saat kita melihat ke belakang, walau hanya kurang dari satu detik, tapi sangat mengganggu.

Kembali saya pulang malam, pada saat itu tidak hujan, hingga saya bisa sedikit melihat keadaan di spy hacker mirror sedikit lebih jelas daripada saat hujan turun. Tapi tetap tidak sesempurna pada siang hari.

Oiya, tetap pada pagi harinya, rutinitas saya adalah memperbaiki sebuah halangan pada Prisma View tersebut, yang dikarenakan hal sepele, yaitu “lem”.

17 Desember, adalah hari terakhir saya mencoba helm futuristik ini, dan kesimpulannya adalah,

  1. Untuk safety, helm ini termasuk kategori tertier, bukan lagi kebutuhan primer atau sekunder
  2. Fungsi utama Prisma View, untuk saya pribadi, adalah sebagai kesenangan pribadi pada saat terjebak macet.
  3. Quality Control yang butuh peningkatan, karena helm yang saya terima lepas tulisan INK dibelakang, dan proyeksi terkadang terhalang oleh kain yang juga akibat lem yang kurang baik.
  4. Saya baru bisa berintegrasi dengan Prisma View setelah 3-4 hari, untuk menjadikan satu kesatuan pada saat melihat lingkungan sekitar, tapi hanya pada saat kecepatan dibawah 40Kmpj.
  5. Proyeksi cermin terlihat jernih (dalam pemakaian 7 Hari), kadang terhalang oleh kain yang tidak melekat sempurna.
  6. Posisi riding dalam kondisi tegak, motor sudah dimodisikasi, sehingga tidak terlalu sulit untuk “melirik” situasi dibelakang
  7. Sulit untuk dijadikan secondary side view mirror karena, apabila ingin melihat situasi di kiri, berarti kita harus tengok ke kanan.
  8. Proyeksi cermin terlihat stretch down vertikal

Terima kasih.

Comments (1)

Senyumlah :)

Kena tilang? Jangan jadikan sesuatu yang dilawan, tapi jadikan itu pembelajaran buat diri anda.

Banyak reaksi dari orang-orang yang terkena tilang, berikut tips saya untuk menghadapi tilang. Kebetulan ini dari pengalaman pribadi saya sendiri.

1. Pada anda diberhentikan oleh petugas kepolisian lalu lintas, tetaplah tenang, jangan panik, dan jangan terbesit perkataan “saya benar!” Tapi katakan pada diri anda, “saya salah apa, ya?”

2. Turun dari kendaraan anda, dan temui petugas dengan baik, tetap senyum, dan jangan grogi. Saya bisa pastikan, anda tidak akan di tembak atau dipukul pada saat berbicara dengan petugas, jadi tidak ada yang perlu ditakuti.

Juga jangan terlalu ekstrim, lalu pasang muka garang, dengan bekal jabatan anggota keluarga, kerabat, ataupun kenalan lalu dapat menjadi superior. Manfaatkan link anda hanya jika bertemu oknum :)

3. Tanyakan kesalahan anda, bila anda memang benar-benar tidak tahu penyebab anda diberhentikan. Gunakan kalimat yang santun dan ramah

4. Jujurlah bila memang anda belum tahu tentang aturan yang berlaku ditempat itu.

5. Sebelum percaya dengan penyebaran isu Slip Biru, baca UU No.22/2009, dan pahami denda dan sanksi. Dengan memaksa mengeluarkan Slip Biru, berarti anda MENERIMA KESALAHAN dan SIAP UNTUK MENERIMA SANKSI yang ada pada aturan terkait.

6. Jangan pernah malas, perhatikan rambu dan marka dimanapun anda berkendara.

Hari gini masih pake backing buat menghindar dari kesalahan? Malu dooong :)

Oiya..kalau anda beruntung dan dianggap kooperatif, anda mungkin akan dibiarkan melanjutkan perjalanan tanpa tilang ;)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Comments (1)

RSA Berkunjung ke Pabrik Helm

JAKARTA- Road Safety Association (RSA) bersama sejumlah anggota kelompok sepeda motor berkunjung ke pabrik helm PT Dinaheti Motor Industri (DMI), Cikarang, Jawa Barat, Selasa (20/10). Kunjungan tersebut bertujuan guna menambah wawasan tentang proses produksi helm, termasuk kualitas Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib untuk helm.

Kunjungan ke PT. DMI

Helm merupakan kelengkapan bersepeda motor yang wajib dipakai oleh setiap pengendara atau penumpang sepeda motor. Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya pasal 57 ayat 2 menegaskan bahwa setiap pengendara sepeda motor wajib memakai helm sesuai standar nasional Indonesia. Siapa saja yang melanggar aturan ini bisa dikenai sanksi kurungan maksimal satu bulan atau denda maksimal Rp 250 ribu. Tujuan aturan ini jelas untuk melindungi pengendara sepeda motor terhindar dari risiko kecelakaan. “Luka paling fatal yang dialami pengendara sepeda motor adalah akibat cedera di kepala, ini terkait dengan budaya indisipliner pengguna sepeda motor terhadap peraturan lalu lintas,” tutur Rio Octaviano, ketua RSA.

Menurut dia, tujuan dari kunjungan ke pabrik DMI juga untuk sosialisasi kepada para pengendara sepeda motor, khususnya klub/komunitas pengguna sepeda motor yang berhimpun di RSA. Perwakilan klub/komunitas pengguna sepeda motor yang ikut kunjungan antara lain DeNyut RC, HSJ, Barac, Hornet, YJOC, Everbikers, Milys, Pulsarian Community, HTML, dan YVC Depok. “Klub/komunitas pengguna sepeda motor ini adalah agen penyebar virus road safety, diharapkan mereka dapat membagikan pengetahuannya ke masyarakat pengguna sepeda motor di lingkungan masing-masing anggotanya” tandas Eko Cahyo Wibowo, wakil ketua RSA.

Manajemen PT DMI menjelaskan soal proses produksi helm. Mulai dari pembuatan tempurung helm yang terbuat dari thermal polymer, pembuatan emblem SNI yang langsung di-emboss pada saat pencetakan, hingga pemasangan bagian dalam helm. Seluruh proses produksi harus memenuhi standar mutu ISO 14000 tahun 2008 dan produknya harus lolos uji standardisasi SNI 1811 tahun 2007. Dalam presentasinya GM Manufacturing Operation PT DMI Thomas Lim menjelaskan tiga macam jenis helm yaitu full face, open face dan half face. “Helm Half Face itu adalah helm cetok yang hanya melindungi bagian atas kepala, sedangkan helm Open Face melindungi bagian atas dan samping kepala sehingga lebih aman,” jelas Thomas Lim.

RSA juga memperoleh penjelasan mengenai uji laboratorium SNI helm. Beberapa fase pengujian mencakup uji penyerapan energi kejut (impact energy), dilanjutkan uji penetrasi, uji chin strap, dan uji EPS shell. ”Tiap negara mempunyai kriteria sendiri-sendiri, tidak semuanya bisa disamakan standarnya. Pemerintah memiliki tim teknis yaitu Badan Sertifikasi Nasional (BSN) yang merumuskan standar kualifikasi SNI, bahkan standar SNI diakui lebih ketat dari standar DOT (Amerika) yang masih mengizinkan pemakaian helm half face (cetok)” papar Henry Tedjakusuma, direktur PT DMI.

Ketentuan SNI wajib untuk helm tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian No 40/M-IND/Per/6/2008 tanggal 25 Juni 2008. Semula, ketentuan itu berlaku mulai 25 Maret 2009, namun diundur menjadi 25 Maret 2010 karena ada permintaan dari sejumlah produsen helm.

SNI mengacu kepada standar Japan International Standard dan standar Eropa Saat ini, produksi helm di Tanah Air berkisar 9-10 juta unit per tahun. Sebagian produsen juga telah mengekspor produk mereka ke pasar Eropa dan Amerika.

Henry juga menjelaskan bahwa helm produksi di atas April 2009 harus sudah mengikuti sertifikasi SNI. Adanya sertifikasi SNI ini selain menjaga kualitas produk juga mencegah kemungkinan importir pemasok helm impor yang kadaluarsa atau cacat produksi untuk mengedarkan produk gagal tersebut di pasaran Indonesia.

Berdasarkan data Depperin, selama ini hanya 7 dari 15 perusahaan helm skala besar yang mengajukan Sertifikat Produk Pengguna Tanda (SPPT) SNI. Ketujuh perusahaan itu antara lain PT Tara Citra Kusuma, PT Dinaheti Motor Industri (DMI), dan PT Tara Kusuma Indah (TKI).

RSA menilai, SNI cukup mumpuni untuk melindungi para pengguna helm di Tanah Air. Konsep perlindungan terhadap pengendara sepeda motor, khususnya terkait helm, juga telah disiapkan oleh pemerintah. Proses produksi helm akan diawasi oleh Departemen Perindustrian, lalu peredarannya diawasi Departemen Perdagangan, dan Departemen Perhubungan akan membuat regulasi pemakaian helm, sedangkan Kepolisian Republik Indonesia berperan selaku penegak hukum. “Sayangnya, ini hanya akan menjadi isapan jempol belaka bila tidak diiringi dengan niat baik dan konsistensi dari berbagai instansi tersebut,” ujar Rio Octaviano.

Ia menambahkan, kegiatan penegakan aturan di lapangan masih tidak karuan. ”Masih banyak penyimpangan dan inkonsistensi” tuturnya.

Comments (4)

Orang Ganteng Dilarang Pake Helm!

orangganteng269

Photobucket

Beberapa kali saya mencoba melihat sinetron, walaupun itu secara terpaksa, sering kejadian “aneh” terjadi disana. Para pemeran utama yang jarang sekali terlihat menggunakan helm yang aman, kalaupun memakai helm, pasti tidak sempurna.

Kenapa? Setelah Litbang RSA mengadakan survey kecil-kecilan dengan bertanya kepada para pemeran dan sutradara, ternyata para pemeran mempunyai keharusan terlihat muka. Padahal sebetulnya dibelakang layar, para pemeran itu menggunakan alat pelindung diri yang termasuk lengkap bila berkendara dengan motor.

Efeknya? Pernah dengar seorang ibu yang mencubit gemas para pemain antagonis di luar sinetron, atau anak-anak muda yang berteriak histeris ketika melihat idolanya, atau meniru gaya/dandanan si artis tersebut? Ya..itulah efeknya, mereka seperti terhipnotis oleh karakter yang diperankan sang idola di sinetron.

Rupanya menurut pengakuan seorang aktor senior, memang yang menjadi dewa di dalam dunia pertelevisian adalah rating, ironis memang, sebegitu mudahnya nyawa manusia di jalan dihargai dengan uang, dengan berbagai macam pembenaran yang sebetulnya membunuh. PH, Sutradara, Produser tidak bisa berkata banyak, karena mereka pasti menginginkan uang, itu sebabnya mereka memilih dunia itu sebagai sumber penghasilan. Bagaimana membunuh budaya ini? Satu-satunya adalah ketukan hati nurani dari para Broadcaster untuk dapat jauh lebih perduli dengan nyawa yang hilang di jalan raya.

Selamatkan nyawa pengguna jalan!

Comments (5)

Berkendara itu tidak pernah MURAH!

“mahal amat sih mao bawa motor doang?!?!”

Kalimat diatas sering terdengar oleh kuping saya ini, dan sebuah kalimat yang sangat memprihatinkan. Ketika banyak orang menganggap berkendara itu hanya sekedar “glinding” di jalan raya.
Berkendara dengan motor, idealnya adalah, menggunakan helm standar keselamatan (entah SNI, DOT, SNELL, atau lainnya), menggunakan jaket, sarung tangan, celana panjang, sepatu, terkadang ada tambahan buat yang ekstra, yaitu elbow dan knee protector.

Untuk apa? tentunya tidak perlu men-detail penjelasan fungsi dari masing-masing perlengkapan tersebut. Pada intinya, semuanya adalah usaha kita dalam menghargai badan kita, dan juga menghargai keberadaan keluarga kita. Koq gitu? Pada saat kita melindungi badan kita, berarti kita menghargai badan kita dari goresan atau robekan, pada saat kita melindungi badan kita, berarti kita menghargai orang-orang yang perhatian dengan kita, mereka tidak perlu mengeluarkan dana lebih, dan tenaga lebih untuk mengurus anda ketika kecelakaan.

Tentunya, perlengkapan itu adalah sia-sia bila kita tidak imbangi dengan attitude berkendara di jalan raya. Jika kita bisa menghargai diri kita sendiri dan keluarga kita, berarti kita akan dengan mudah menghargai dan menghormati seluruh pengguna jalan. Dengan mudah, kita dapat mendeskripsikan keselamatan yang dijaga untuk badan ini, juga perlu untuk badan mereka. Kita tidak akan menjadi pembunuh di jalan, kita tidak menjadi preman yang menganiaya pengguna jalan lain dengan kecerobohan dan ke-egois-an diri kita di jalan. Ya..membunuh dengan cara berkendara kita yang tidak memperhatikan situasi, yang mengakibatkan kecelakaan yang mungkin saja berakibat fatal untuk mereka.

Murahnya berkendara, sebetulnya diciptakan oleh beberapa pihak yang selalu mengambil keuntungan di tengah-tengah darah yang tercecer di jalan, di tengah-tengah tangis pilu kehilangan anggota badan, bahkan tangis pilu kehilangan anggota keluarga.
Berapa banyak penyedia barang, dalam hal ini sepeda motor, yang berlomba-lomba memberikan harga murah? Bahkan ada beberapa oknum penjual, yang tidak lagi melayani penjualan dengan pembelian tunai?. Masuk akal…dari penjelasan Bro Edo sebagai LitBang RSA, bahwa dealer lebih tertarik dengan menjual barang dengan cara leasing, karena pihak leasing lebih menjanjikan keuntungan lebih dalam penjualan melalui mereka, seperti keuntungan bolak-balik, yaitu yang didapat dari penjualan juga didapat dari cash back. Bahkan menurut beliau, negara di untungkan sebesar hampir 73 miliyar rupiah di dalam penjualan kendaraan bermotor ini. Sudah sangat jelas, sebuah idealisme-idealisme yang diemban oleh RSA sangat sulit untuk berkembang, karena ada faktor profit besar yang berbicara disini.

Semua kampanye yang berkedok CSR, lebih banyak terlihat seperti iklan produk dalam kapasitas besar, karena memang tidak akan pernah bisa menyentuh kepada dasar dari permasalahan. Seperti yang kita ketahui, di Jepang, angka kecelakaan bermotor menurun berbanding lurus dengan menurunnya penjualan kendaraan bermotor itu sendiri. Di Italy, sepeda motor di berikan sebuah image “kendaraan paling tidak aman” di mata masyarakat, paling tidak ini info yang saya dapatkan dari teman saya yang baru pulang dari sana.

Apa yang bisa menyentuh akar masalah? Filtrasi!.
Harus adanya birokrasi tegas dari pemerintah dalam pembatasan penjualan kendaraan bermotor, dan tentu saja pengawasan, hal ini yang paling buruk dalam penilaian sistem di negara ini.
Tidak usah muluk-muluk untuk melakukan pembatasan jumlah kendaraan bermotor, tapi coba, batasi pembeli, gunakan screening ketat dalam penjualan kendaraan bermotor.
Seperti,

  1. apakah ada tempat cukup di rumahnya untuk meletakkan kendaraan?
  2. buat tes berkendara dan psikotes independen, karena masih jauh untuk mengharapkan kinerja sistem negara ini.

Dua hal diatas adalah hal yang sepele dalam kasat mata, tapi saya yakin, ini akan jauh lebih efektif daripada kita menunggu sebuah sistem negara Indonesia menjadi sempurna. Keyakinan saya juga bertambah, ketika saya mengingat, yang menjalankan ini adalah pihak swasta, dimana kredibilitasnya masih jauh diatas kredibilitas instansi pemerintahan.

Kenapa saya terlihat sangat pesimis dengan kinerja pemerintah? Silahkan cari jawabannya dari pengalaman berkendara di jalan raya.

Comments (7)

7 Jam di Gunung Bunder

“BAGAIMANA kalau kita ditilang polisi?” Lalu…”Bagaimana menyadarkan pengendara motor yang ugal-ugalan di jalan raya?”

Lantas…“Apa saja dasar aturan agar tertib berlalulintas?”

Pertanyaan di atas bukan terlontar di dalam ruang pelatihan

atau penyuluhan berkendara yang aman dan selamat (safety riding) seperti yang digelar Road Safety Association (RSA). Bukan pula dalam diskusi kopdar keliling RSA yang dilaksanakan sebulan sekali di Jakarta.
Pertanyaan itu meluncur dari Ferry, ketua Minerva Riders Community (MRC) Region Bogor dan Robby, pengurus MRC kota hujan itu. Pertanyaan meluncur di sela menyantap mie rebus dan nasi goreng serta teh dan kopi hangat di Gunung Bunder, Bogor, Kamis (26/3), siang.
Kontan saja Rio, koordinator RSA yang didampingi Eko, wakil koordinator dan kepala-kepala divisi RSA, Edo, Dito, dan Rieza, serta Sontul, salah satu founder Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ), cikal bakal RSA, menjawab dengan lugas. Sesekali ditimpali para ketua divisi. RSA bikin diskusi safety riding di kawasan wisata itu?

***
Udara dingin menyelusup di balik jaket sintetis, ketika Yamaha V-ixin merah dipacu hampir 100 kilometer per jam (kpj). Kamis (26/3), sekitar 05.59 WIB, harus bergegas dari Cibubur, Jakarta Timur menuju stasiun pompa bensin umum (SPBU) Jl Tb Simatupang, depan Gedung Antam, Jakarta Selatan.
Pagi itu, libur nasional hari besar umat Hindu, Nyepi. Jalanan terasa lengang. Saat melintas kawasan Cijantung, terlihat segala usia sedang lari pagi. Bahkan ada yang membawa hewan kesayangannya. Di halaman sebuah perkantoran, terlihat puluhan ibu-ibu sedang senam pagi diiringi musik. Hemmm…hidup sehat di tengah polusi yang mendera Jakarta.
Butuh waktu sekitar 20-an menit tiba di SPBU yang terkenal karena dilengkapi gerai penjual kopi dan donat serta anjungan tunai mandiri. Sesekali juga berpapasan dengan pria pengendara sepeda. Mereka bersepeda bersama. Menikmati libur sambil berolahraga.
Di SPBU telah berkumpul Rio, Dito, dan Sontul. Mereka tiba lebih dulu karena memang sebelumnya disepakati berkumpul pukul 06.00 WIB. Kami berniat melakukan perjalanan ke Gn Bunder, Bogor. Tak lama kemudian, Rieza tiba. Sedangkan Syamsul meminta agar jika tidak tiba 07.15 WIB, ditinggalkan saja. Roki dan Edy, tidak ada kabar. Ponselnya tidak menyahut saat dipanggil.
Pukul 07.25 WIB, kami berangkat melintas Jl Margon Raya, Depok sekaligus menjemput Eko yang menunggu di Pesona Kayangan.
Sebelumnya, di Jl Raya Lenteng Agung, Jaksel, kami sempat singgah membeli pelumas rantai di Efendi Motor. Sedangkan Rio sekaligus membetulkan lampu remnya yang sempat tidak berfungsi.

* * *
Sepanjang jalan melintasi kawasan Cikaret dan Pemda Bogor, sempat berpapasan dengan rombongan kampanye dari Partai Golkar. Sekitar pukul 08.28 WIB, tiba di tikum SPBU Warung Jambu, Bogor. Sambil istirahat, menunggu rekan-rekan dari MRC Bogor. Selang beberapa menit, muncul Bro Ferry. MRC diajak Bro Edo untuk memandu rute ‘baru’ menuju Gn Bunder. Tak berapa lama kemudian muncul Bro Robbik dan Bro Akew bersama boncengernya Nuy.
Perjalanan sempat tersendat di kawasan Pasar Ramayana, Bogor, sebelum menuju Ciomas dan jalan menuju Curug Nangka. Jalan yang menanjak dan berlubang serta banyaknya angkot, membuat kecepatan rombongan agak tersendat. Setelah melewati Pamijahan dengan jalannya yang berkelok dan menanjak, akhirnya sekitar pukul 10.21 WIB, rombongan tiba di Gn Bunder.
Dalam perjalanan, sesekali Bro Edo mengambil gambar dengan handycam.
Setelah ngobrol-ngobrol soal safety riding dan berbagai permasalahan seputar sepeda motor, rombongan bergerak ke Pemandian Air Panas. Kali ini, Nuy, membantu mengambil gambar saat rombongan menelusuri hutan pinus dan hutan damar di kawasan wisata yang dikelola Perum Perhutani itu.
Sekitar 10 menit, rombongan tiba di gerbang Pemandian Air Panas. Jarum jam menunjukkan 12.25 WIB. Tim dari MRC Bogor memilih untuk menunggu di parkiran sepeda motor dekat gerbang pemandian.
Jarak menuju pemandian dari pintu gerbang sekitar 350 meter. Namun, karena tingkat kemiringannya hampir mencapai 45 derajat, perjalanan terasa melelahkan. Untung saja terhibur oleh pemandangan nan hijau dan suara gemericik air sungai. Setiap pengunjung dikenai tiket masuk Rp 2.000, lebih murah dibandingkan tiket masuk kawasan yang sebesar Rp 4.000 per orang, sedangkan untuk setiap motor dikenai Rp 2.000.
Saat tiba di areal pemandian air panas yang memiliki fasilitas pancuran, kolam anak dan dewasa, serta pemandian private, kawasan itu juga menyediakan pemandian gratis di sungai yang berbatu. Hanya saja, airnya tidak panas seperti dipemandian yang tarifnya mulai Rp 2.000 hingga Rp 5.000. Banyak wisatawan yang memilih mandi disungai.
Bro Eko yang memang memiliki janji untuk pertemuan keluarga, akhirnya pamit lebih dulu kembali ke Jakarta, sekitar pukul 13.05 WIB.
Di sela istirahat, bro Syamsul menelepon menanyakan situasi di Gn Bunder sekaligus siapa saja yang ikut touring kali ini. Walau sinyal seluler timbul tenggelam di area pemandian air panas,
Syamsul masih bisa menjelaskan kenapa dirinya tidak bisa ikut. Menurut dia, dirinya terpaksa tidak ikut karena anaknya sakit dan ia baru bisa istirahat tidur pada pukul 03.30 WIB. Rio sempat menanyakan soal draf AD/ART RSA. Namun, akhirnya bro Edo bilang siap menyusun drafnya sekembali dari Gn Bunder.
Perjalanan kembali ke gerbang pemandian lebih melelahkan. Maklum, harus menanjak. Sempat Rio, Edo, dan Sontul beberapa kali istirahat. Sedangkan Rieza dan Dito melenggang. Tiba lebih dulu di gerbang.
Jarum jam menunjukkan pukul 14.51 WIB, saat hendak meninggalkan kawasan pemandian untuk menuju Jakarta. Baru sekitar 500 meter dari pemandian, hujan turun deras. Rombongan terpaksa berteduh di sebuah gubuk di pinggir jalan. Sambil menunggu hujan reda, kami memilih memesan teh dan kopi hangat di warung depan gubuk berteduh. Obrolan pun mengalir. Dari soal motor, safety riding, hingga persoalan asmara. Hujan tak kunjung reda. Akhirnya rombongan RSA bertekad menerabas hujan. Maklum, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.20 WIB. Sedangkan rombongan MRC Bogor memilih menunggu hujan reda karena mereka tidak membawa jas hujan.
Praktis perjalanan menuju Jakarta agak melambat karena hujan deras dan jalan yang menurun licin tertimpa air hujan. Sekitar pukul 18.15 WIB, kami mampir di warteg Darmaga,Bogor untuk mengisi perut. Makanan dan minuman cukup menghangatkan tubuh ketika kami berangkat lagi menuju Jakarta sekitar pukul 18.45 WIB. Jalur yang ditempuh adalah lewat Jl Raya Parung menuju Jl Raya Bogor. Rombongan berpisah, ketika Dito berbelok di Pal, Cimanggis. Kemudian, Edo berbelok di Cibubur. Rieza, Sontul, dan Rio terus hingga akhirnya mereka berpisah di perempatan Pasar Rebo. Rio terus menuju Kalimalang. (edo)

source : Bang Edo Blog

Photo-Photo dibuang sayang..


Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Comments (2)

Enjoy Adventuride

Tanggal 14 Maret 2009, memang tanggal yang sudah di booking untuk menjalankan aktifitas EA ini, jam 08.30 sudah sampai di titik kumpul untuk menghadiri acara Boeaya Motor di Pamulang Square, dari 5 orang yang confirm, ternyata harus cancel karena adanya kepentingan mendadak. Addis teman SMA ku akhirnya datang sekitar pukul 08.45, lalu perjalanan tandem kami mulai dari TB. Simatupang ke depan stadion lebak bulus untuk bertemu dengan Reza (HSJ). Sebentar berkoordinasi, kamipun melakukan group ride kecil ke Pamulang Square, sesampai di lokasi pukul 09.50, bertemu dengan Bro Djoko (AMC) yang sudah sampai di lokasi, dan kami disambut dengan sangat istimewa oleh perwakilan pihak Boeaya Motor. Kami sempat mengambil gambar terlebih dahulu sambil menunggu waktu acara untuk RSA,

dan sekitar pukul 10.30 acara dimulai dengan sharing mengenai safety riding yang tentunya di dominasi oleh sosialisasi peraturan dan attitude berkendara. Dari perkiraan maksimal 60 menit, ternyata diskusi berjalan dengan sangat kooperatif dan sangat aktif, kamipun terlena dengan suasana tersebut, jarang ada klub yang sedemiikian tertarik dengan masalah peraturan dan attitude berkendara ini.

Akhirnya pukul 12.05 acara disudahi, dan dilanjutkan dengan diskusi kekerabatan, dan tidak lupa photo-photo.

Setelah shalat Dzuhur kamipun menuju Solaria Pamulang Square untuk mengisi perut kosong ini, dan berbincang-bincang lebih jauh, sambil mengenalkan Reza (Bro Djoko pulang terlebih dahulu karena ada acara keluarga) lebih dekat dengan temanku Addis, kebetulan minggu-minggu ini juga menjadi hari untuk memuaskan keberadaannya di Indonesia bersama teman-temannya.

Perjalanan dimulai dari pukul 13.30 dari Pamulang, menuju ke Puncak, tapi ditengah jalan Pamulang, ternyata lampu belakang mati, jadi saya harus mencari bengkel untuk membeli bohlam lampu belakang. Dan ER pun berjalan sambil memecah kemacetan sepanjang perjalanan ke Parung, Bogor, tidak perlu banyak klakson untuk meminta jalan, karena memang dari awal ini kita niatkan untuk menikmati tiap kilometer-nya. Tapi ternyata cuaca kurang begitu bersahabat dengan kami, di tengah jalanpun hujan turun dengan deras, dan kebetulan temanku tidak membawa jas hujan, lagipula ini adalah Enjoy Ride, tidak ada yang akan jatuh sakit, atau mati bila kami telat sampai tujuan..hahahaha. Pinggiran toko kami pergunakan untuk tempat berteduh. Siomay menjadi santapan pembuka kami dalam perjalanan tersebut, walaupun agak terheran sewaktu bayarnya..Rp. 2.500/piring?? Hahahaha…

Perjalanan kami lanjutkan sesaat setelah kami anggap hujan sudah reda, dalam serbuan rintik hujan kami melanjutkan perjalanan dengan pasti, tapi sayangnya, kembali lagi cuaca tidak bersahabat, dan kami harus kembali berteduh, kali ini warung jamu menjadi sasaran. Setelah parkir kendaraan,

mungkin karena tahu diri, karena menumpang berteduh, kami akhirnya memesan jamu, diantara kami tidak ada yang mengerti betul tentang jamu, dan kami putuskan untuk membeli jamu tolak angin, woowww….hangattt….kami menghabiskan jamu sambil melihat kemacetan lalu lintas arah cisarua.

Setelah kami pastikan hujan sudah berhenti total, kami pun melanjutkan perjalanan kembali, tanpa derungan suara knalpot dan tanpa bisingnya suara klakson yang berlebihan, apalagi sirine strobo..hehehe… Sepanjang perjalanan, jalan dipenuhi oleh kebanyakan masyarakat yang mungkin ingin menghilangkan kepenatan selama di Jakarta, begitu juga dengan kami, apalagi aku yang selama ini selalu berjalan jauh dengan roda empat, keletihan yang mendera sangat terasa. Aku hampir lupa sensasi berjalan jauh dengan menggunakan kendaraan roda dua. Pukul 17.58, sampailah kami di Masjid At Tawun, Puncak Pas, mie rebus yang pertama ku pesan pada saat itu, didampingi dengan teh tawar panas mencoba mengembalikan kehangatan tubuh yang terasa hilang seiring menyerbunya rasa dingin di seluruh badan ini.

Terlihat serombongan komunitas otomotif juga sedang menikmati dinginnya udara di Puncak Pas, tanpa terasa adzan maghrib memanggil kewajiban kami sebagai umat muslim, setelah menghabiskan jagung bakar pedas dan juga skoteng panas, kami memutuskan untuk beranjak dari warung tersebut, untuk memenuhi panggilan. Uh! Dingin! Aku harus melewati genangan air di masjid itu, keadaan dingin itu sebetulnya diperparah oleh keringat dan basah air hujan yang mendera kami selama di bogor dalam perjalanan ke Puncak .

Setelah melakukan pose narsis,

kami keluar lokasi, dengan sebelumnya mengambil keputusan untuk pulang melalui cianjur menuju jonggol. Di Cinajur kami sempat memastikan arah perjalanan kami dengan bertanya dengan penduduk setempat.

Track menantang selama perjalanan sangat memuaskan, tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata, setelah sedemikian lama diriku tidak merasakan perjalanan jauh dengan roda dua-ku. Di Cianjur, papan penunjuk arah ke Jonggol sering menjadi perhatian kami, suasana gelap menemani tandem ride kami berdua, hanya 2 cahaya lampu yang keluar dari head lamp kami yang menerangi jalan tersebut, belum lagi jalur yang tidak terprediksi, dimana kami harus sering menahan laju kendaraan, dengan jarak pandang hanya 20m (sejauh head lamp menyorot) banyak jurang dan kubangan mennyambut perjalanan kami, gosh! It’s really amazing!.. Perjalanan kami beberapa kali terhenti, dari serangga yang ikutan nimburng di dalam helm ku, sampai sekedar melepas sedikit lelah. Tempat yang menjadi pemberhentian kamipun beragam, dari sebuah pabrik, sampai ke pom bensin.

Selama kurang lebih 86 Km perjalanan kami, didominasi oleh keadaan gelap, karena kebetulan sepanjang jalan banyak lampu mati, dan juga listrik yang mati pada pemukiman penduduk, yang menyumbang makin gelapnya suasana. Sekitar pukul 11.40 kami sampai di cibubur, untuk melepas rasa lapar, kami berhenti untuk menikmati mie aceh di pinggir jalan cibubur, 1 mie aceh di temani oleh 1 piring nasi putih menjadi santapan ku, juga tidak lupa air teh manis panas untuk melepas dahaga. Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan pulang, dan memisahkan diri di interchange cawang – lebak bulus. Sesampai dirumah istri tercinta membukakan gerbang, ah, rasa senang ini pun makin menjadi lengkap, kembali melihat anak dan istri. Tapi mungkin agak sedikit muram ketika harus berpikir memandikan si Badak. :D

Mungkin ini ada perjalanan 255Km terlama yang pernah ada..hahahahahaha…

Comments (4)

Arti Identitas Perkumpulan…

Wush..wush..wush…sebuah perjalanan membelah jalur ibukota yang penat ini..akselerasi ku pacu sesuai dengan kondisi lalu lintas untuk menuju tempat aktivitas, atau kemanapun tujuanku.
Di traffic light, aku sengaja melihat spion kanan dan kiri, ada beberapa mata yang sesekali melirik, memperhatikan..ups..ternyata mereka melirik atribut ku. Tidak lupa, memperhatikan segala tulisan yang terpampang di box motor ku.

Ada berbagai macam tulisan, dan ada 3 nama organisasi yang tertempel di box belakang ku, Daihatsu Taruna Club, Road Safety Association, dan 10-28 kebanggaan RAPI ku JZ09HLE. Ramai yah?

Ada sedikit kelumit yang sering tersirat dalam benak ini, tulisan yang terpampang itu, bukan tulisan nama ku, dimana tentu saja, bila namaku yang tertulis di situ, orang akan mengenali Rio yang sedang berjalan. Berhubung tulisan yang terpampang itu organisasi, berarti aku sedang membawa ribuan nama di dalam perjalananku. Adakah ribuan nama itu setuju bila aku melanggar lampu merah? Akankah ribuan nama itu merasa rela bila aku berhenti di depan lampu merah? Atau mungkin, ribuan nama itu akan setuju bila aku memaki kendaraan lain? Jawabannya tentu saja tidak.

Setitik kesalahan yang kuperbuat, maka ribuan nama itu yang akan tersangkut di ulah ku, ketika melanggar rambu dilarang masuk, maka akan ada ribuan nama yang akan kupermalukan. Orang lain tidak akan mengatakan “Rio brengsek!” tapi orang lain akan memaki identitas pertama yang dilihatnya, karena aku tidak menggunakan nama Rio pada box motor ku.

Sedemikian beratkan tanggung jawab nya? Aku tentu akan jawab, IYA…apakah yang akan ku lakukan bila aku mau mendahulukan ego negatifku? Melepas atribut itu, mungkin jalan satu-satunya.

Comments (7)

Perjuanganku…

Di mulai saat aku membeli sepeda motor, dan mulainya seluruh aktivitas keseharian dengan menggunakan sepeda motor. Saat itu, akupun berusaha mencari informasi mengenai sepeda motor, dengan bergabung banyak mailing list, tapi ternyata, perhatian ku sedikit tersita kepada satu kalimat yang bertajuk “Safety Riding”. Akupun tak pelak mencari tau, dan mencoba mendalami safety riding tersebut, ternyata, yang kudapatkan adalah cara berkendara yang aman dan nyaman.

Sampai pada satu saat, aku serta istriku mengalami kecelakaan yang lumayan membuat kami shock. Kecelakaan tersebut terjadi berulang sampai 3 kali. Sampai-sampai aku membuat testimonial sendiri, dan ternyata di kutip di salah satu web saudaraku.
Dulu aku memang pengendara roda empat aktif, dan pada saat itu juga, aku menyatakan bahwa diriku adalah anti sepeda motor, semua ego berkendara aku kerahkan, dari yang menutup jalur, sampai membuat manuver yang merugikan sepeda motor.

Perjalananku terus berlanjut, sambil aku memperhatikan, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan sosial berkendara kita ini, seminar demi seminar aku ikuti, pembicaraan demi pembicaraan aku tela’ah, sampai pada akhirnya aku mulai membuat asumsi-asumsi sendiri, dan kucoba sampaikan kepada rekan-rekan ku. Memang benar ternyata.
Kesemerawutan lalu lintas merupakan rantai yang berkepanjangan, dan aku mulai menempatkan diriku dalam satu posisi yang aku anggap itu adalah sebuah solusi, yaitu, sosialisasi peraturan dan attitude berkendara.

Ah..selama aku menulis ini, aku tidak yakin akan selesai hari ini, berdasarkan dari jauhnya perjalananku di dunia otomotif yang dikhususkan kepada attitude dan rules, tapi gak apa-apa lah, aku akan coba, sebetulnya aku ingin sekali menuju kepada inti permasalahan ku pada saat merintis ini semua.

Selama perjalananku, aku selalu menjadi orang yang sangat kritis, bila satu hal tidak sesuai dengan idealisme yang ku junjung tinggi ini. Aku selalu saja mencoba mempublikasikan seluruh pandangan-pandanganku kepada masyarakat luas, karena tujuan ku hanya satu, menghilangkan kemuakan ku di jalan raya, melihat tingkah laku para pengguna jalan yang semakin tidak menentu.
Aku pernah melontarkan kemuakan ku terhadap konvoi klub otomotif, yang terlalu arogan, dengan cara blokir jalan, menggunakan sirine/strobo, dan lain sebagainya, tapi ternyata hal tersebut mendapatkan perlawanan dari mereka yang ku sindir, dan pro-kontra pun mulai berdatangan kepada ku, lewat e-mail, Instant Messaging, HP, dan lain sebagainya. Ada yang memberikan masukan, bahwa aku telah salah cara penyampaiannya, aku sebagai kritisi harus rela di kritik selama itu membangun, aku pun mulai merubah strategi ku, walaupun gaya ekstrim itu tetap saja menempel di otak ku ini.

Sekarang, aku dan teman-teman di Road Safety Association mempunyai satu visi, dan satu misi, hanya saja, sebuah ironi kembali harus aku alami. RSA adalah sebuah perkumpulan teman-teman yang sadar keselamatan, dan sangat sadar terhadap peraturan juga attitude dalam berkendara, didominasi oleh para pengguna sepeda motor. Aku tidak menyerah, aku ingin seluruh pengguna jalan, juga harus melihat ini adalah sebagai solusi dalam semakin hancurnya kehidupan lalu lintas kita. Di saat aku mulai menemukan celah untuk mencoba berbagi dengan teman-teman pengguna mobil, aku pun mulai bertepuk sebelah tangan, ternyata mereka tidak banyak yang perduli dengan hal ini. Kenapa? Aku pun sedang mencoba menyelidikinya, bila ada rekan yang satu suara dengan ku, itupun hanya bisa bicara ketika dengan diriku saja, untuk bersama berjalan, masih belum bisa, dengan banyak alasan, yang paling terlihat adalah alasan dalam bersosialisasi dengan sesama pengguna roda empat.

Kini aku terus berjalan dengan segenap kekuatanku, aku tak akan menyerah dengan segala halangan, aku hanya bermimpi, lalu lintas bukan lagi sebuah momok menakutkan untuk anak cucuku nanti, dan aku tidak ingin, semua hal yang ku alami selama ini, harus juga di jalani oleh anak cucu ku nanti, cukup mereka menikmati saja.

Bertahanlah Rio..bertahanlah….

Comments (0)

Apa Bedanya?

Seiring dengan adanya keluhan tentang dua pengguna kendaraan bermotor…sedikit mau kasih iklan gambar.. :D

Tentang pelanggaran bahu jalan yang sering terjadi di jalan tol,
Photobucket

Photobucket

Jelas-jelas ada marka jalan yang melarang, tapi koq diteruskan? Dan menyusahkan orang lain…membuat bottle neck…
Photobucket
Tenang..Bus sama mobil mewah sama kelakuannya…

Terus apa bedanya dengan cacian kepada oknum pengendara sepeda motor yang selalu melanggar marka jalan??
Photobucket

Saya bingung, apakah waktu beli mobil tidak mendapatkan ash tray di dalamnya? atau beli tanpa ash tray??
Photobucket

Comments (3)

Jalan belakang BII Thamrin (Jalan Riau dan sekitarnya)…

Pagi ini saya mau sedikit berbicara…dan saya menulis ini dari hasil pengalaman saya sendiri, yang memang setiap hari mengantar istri saya di BII Thamrin, terkadang saya menggunakan sepeda motor, terkadang juga dengan kendaraan roda empat.

Hai..para pengguna jalan..khususnya pengguna jalan Riau dan sekitarnya, di belakang BII Thamrin Jakarta.
Lucu..sungguh lucu…di saat cacian, cercaan, makian, umpatan, atau apapun itu, di lontarkan kepada para pengendara sepeda motor, dari mereka pengguna mobil, karena mereka sering menyalip mobil, karena mereka sering melanggar lampu merah, karena mereka sering menggunakan trotoar, atau lebih singkatnya, mereka yang tidak pernah tertib di jalan. Kini seperti karma, pengendara mobil pun ikutan bejat, dengan membuat peraturan sendiri, dan tidak melihat kasta atau strata sosial. Kenapa saya bilang tidak melihat kasta? Sering tertangkap oleh mata saya, pengguna kendaraan roda empat itu adalah eksekutif muda, atau para owner yang mapan, kalaupun mereka itu driver, pastinya mereka driver ter-eksekutif yang pernah saya lihat. Tenang, bukan hanya itu, mereka yang menggunakan real driver pun, yang duduk di bangku belakang, sama bejadnya, koq ya sudah tau melanggar, si driver tidak di tegur? Atau si driver bertindak atas perintah si Tuan?

Kemacetan di jakarta memang sudah di luar toleransi, tapi dengan sifat mau menang sendiri, dengan melanggar peraturan/rambu yang ada, bahkan makin membuat para kemacetan itu sendiri. Apakah terpikir oleh mereka? Atau mereka terlalu retards sehingga tidak mampu untuk berpikir jernih? Lalu kenapa mereka sanggup membeli/kredit kendaraan roda empat?
Hal ini sebenarnya hanya seujung kuku dari kesemerawutan jalan raya, krisis disiplin yang melanda hampir seluruh pengguna jalan ini terlalu parah.
Oiya..tidak lupa, “anak klub/komunitas” roda dua, atau kendaraan roda dua yang berdandan ala motor Touring…maaf kalo gak pernah saya balas salam nya…terus terang..saya MALU!

Kembali lagi, apakah yang kalian pikirkan? Apakah anda sudah terlalu bodoh? Atau hati anda sudah terlalu tertutup dengan kehidupan sosial di jalan raya akhir-akhir ini?

Photobucket

Photobucket

Photobucket
Tulisan ini kasar? tanyakan kembali kepada diri anda..apakah anda sudah sopan terhadap pengguna jalan lain???

Comments (4)

Salut Buat SATLANTAS Polwitabes Bandung!

Mendadak dikirimin message via YM sama temen :

http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20090107060736&idkolom=tatarbandung

Wah..ada apa ini? Jangan-jangan kena virus YM nya, tapi enggak ternyata, dia kasih tau, bahwa itu operasi yang kita lihat pada saat melintasi Cihampelas kemarin siang.

Rabu, 07 Januari 2009
250 Pengguna Helm Batok Jalani Sidang Tilang
MERDEKA,(GM)-
Sebanyak 250 pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm standar, terjaring razia yang dilakukan Satuan Lalu Lintas Polwitabes Bandung, Selasa (6/1). Razia dilakukan di dua tempat berbeda, yaitu di depan Mapolwiltabes Bandung, Jln. Merdeka dan di depan Premier Plaza, Jln. Cihampelas.

Razia pertama yang dilakukan pagi hari di depan Mapolwiltabes Bandung, petugas menjaring 85 pelanggar. Umumnya mereka yang masih menggunakan helm batok adalah yang dibonceng. Razia berlangsung selama 1,5 jam mulai pukul 08.00-09.30 WIB.

Siang harinya sekitar pukul 11.30 WIB, razia kembali dilakukan. Kali ini petugas memilih Jln. Cihampelas sebagai lokasi razia. Selama 1,5 jam hingga pukul 13.00 WIB, petugas sedikitnya menjaring 165 pelanggar. Para pelanggar dikenai sanksi untuk menjalani sidang tindakan langsung (tilang) di Pengadilan Negeri Kota Bandung.

Pemberian tilang kepada pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm standar, berlaku di seluruh ruas jalan di Kota Bandung mulai Selasa (6/1). Peraturan itu berlaku pula bagi mereka yang dibonceng.

Namun demikian, masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui atau tidak mengerti aturan tersebut. Lain Nano, lain pula Deni (36). Ia mengaku mengetahui peraturan tersebut, namun terpaksa memakai helm batok. “Saya biasanya juga pakai helm standar. Tapi karena ini lagi disuruh bos, saya pinjam motor dan helm kepunyaan teman. Mungkin lagi sial, jadi kena tilang,” akunya.

Sementara itu, Kasat Lantas Polwiltabes Bandung, AKBP Herukoco kepada wartawan di sela-sela razia di Jln. Cihampelas mengaku heran karena angka pelanggaran masih tinggi. “Sosialisasi sudah, pemberlakuan kawasan wajib helm standar sudah. Kita harus apa lagi? Apa yang kita lakukan ini (razia, red) salah satu upaya lainnya,” katanya. (B.114/dil.job)**

Waah, memang dari perjalanan saya ke kantor hari ini, saya terbayang-bayang, bagaimana tegasnya Polisi di Bandung, seringkali saya dengar dari rekan saya Sofyan, yang kebetulan “orang Bandung”. Hal ini bukan berarti saya mempercayai mentah-mentah ucapan rekan saya itu, saya sendiri dengan mata kepala ini, melihat bagaimana Polantas secara tegas menindak pengendara yang mencoba menerobos lampu merah, dan berhenti di depan garis putih, bahkan saya lihat tindakannya sangat aktif, sampai mencabut kunci di motor. Arogan? Kejam? menurut saya pribadi “tidak”, tindakan ini sangat relevan disaat produksi atau penjualan sepeda motor semakin rapid, massive.

Saya pernah sampaikan juga ke rekan di TMC, dan di Dikyasa, bagaimana salutnya saya dengan Polantas di Bandung yang tegas seperti itu. Andaikan di Jakarta ke-galak-annya juga seperti itu, wah, mungkin akan berkurang biang kerok – biang kerok di jalan itu. Tapi selalau saja ada jawaban, entah dari personil kuranga atau wilayah yang terlalu besar, atau apapun itu. Rupanya niat Polisi menjadikan motto “polisi bersahabat” terlalu kebablasan, saking bersahabatnya, Polisi menjadi toleran kepada para “sahabat pelanggar”. Polisi kehilangan giginya…kenapa saya selalu sebut Polisi? Pertama, ini topik tentang Polisi, kedua, saya sangat concern dengan polisi, bukan Pol-PP, DisHub atau lainnya, mereka yang jelas-jelas memang tidak terlihat kinerja nya. Selama ini yang paling konsekwen masih ada pada instansi POLRI, walaupun masih membutuhkan perbaikan sana-sini, itu sebabnya saya sebar artikel ini.

Untuk masalah alasan “terlalu luas” yuridiksi dalam penegakkan hukum, saya hanya mengutip dari rekan saya yang kebetulan perwira menengah di POLRI. Bahwa, dia pernah memperkarakan kapolsek, karena kejahatan terjadi hanya beberapa kilometer dari Polseknya.
Nah, mungkin ini bisa dijadikan acuan, misalnya buat shock therapy, buat karpet merah (seperti zona aman anak sekolah) sepanjang 2-5 Km di depan setiap PosPol, Polsek, atau Polres, atau Polda, di dalam zona itu, semua harus taat kepada peraturan lalu lintas, membuat efek jera untuk mereka yang “berniat” melanggar peraturan, dengan harapan, keluar dari jalur itu, atau semakin sering lewat jalur tersebut, para pengendara menjadi lebih terbiasa dengan patuh peraturan. Jangan pikirkan jauh, mulai dari lingkungan terkecil. Entah, jawaban apalagi bila ide ini saya ungkapkan, atau terdengar oleh para pejabat diatas sana.
Lagipula, setiap saya berbicara dengan para Pamen atau Pati pasti bulu kuduk ini merinding dengan metode-metode dan teori teorinya, tapi masalahnya satu, “kontrol di lapangannya gimanaaaaa?” yang jadi msalah kan selalu di tingkat pelaksana, bagaimana sosialisasi, bagaimana kontrol kerja atasan, bukan hanya teori belaka, akhirnya ya seperti saya ini…hehehehe.

Sudahlah..tapi itu yang saya harapkan terjadi dengan Polantas Polantas di Jakarta ini, TEGAS dan DISIPLIN !. Hilangkan dulu motto “Polisi bersahabat”, warga jakarta rata-rata saking merasa bersahabat, jadi semuanya merasa kebal hukum..”lawong sahabat saya POLISI koq…”. Apalagi dengan para oknum yang benar-benar kenal dengan pamen atau pati..waaah..ini kelakuannya melebihi dari pamen atau pati itu..gak percaya?? Lihat sekitar….

source image

Comments (10)

Group Ride

Pada tanggal 28 Desember 2008, RSA kembali menjadi pembawa materi di dalam acara ulang tahun HSJ yang ke-5. Di kesempatan ini, RSA yang di wakili oleh Rio dan Syamsul dengan posisi sebagai Dewan Pengarah RSA.

Materi yang dibawakan adalah mengenai Group Ride, kebetulan materi ini yang juga dibawakan pada ulang tahun S2W di Suzuki IJA beberapa waktu lalu, didalam materi ini dibahas bagaimana pentingnya Manajemen Group Riding, dan penghapusan kebiasaan lama dalam melaksanakan Group Ride.

Disampaikan, bahwasannya ada beberapa kendala pada saat melaksanakan Group Ride, salah satunya, buruknya citra group riding di mata masyarakat akhir-akhir ini, seperti contohnya, beberapa kali, group ride “ditimpuki” masyaraka sekitar,  hal ini diakibatkan oleh hadirnya sifat arogansi kelompok, pemberlakuan blokir jalan dengan alasan “mengamankan rangkaian”, penggunaan sirine strobo oleh pihak yang tidak berhak, penggunaan light stick, penggunaan foot/hand signal yang tidak disosialisasikan kepada kelompok dengan baik, juga kecelakaan, ini semua diakibatkan oleh buruknya manajemen group ride, bagaimana first check kepada peserta group ride, seperti teknis (TCLOCS), formasi group,  tidak diperhatikannya kondisi mental, dan fisik pada saat melakukan perjalanan. Posisi peserta yang juga tidak diperhatikan menjadi salah satu penyebab kecelakaan, seperti peserta handicap yang di posisikan dibarisan terakhir menjadikan potensi untuk memaksakan skill over the limit.

Hal ini sebetulnya bisa di reduce dengan rencana matang, misalnya di buat panitia kecil untuk pelaksanaan group ride ini. Penentuan ketua kelompok, sweeper, voorijder, Health officer, pengelompokan peserta (bila berada pada konvoi besar) dlsb.

Kendala faktor ketiga di jalan, hanya diselesaikan oleh salah satu petugas yang telah ditunjuk.

Manajemen waktu, dimana sangat diperlukan, agar lebih menjaga stamina dan mental seluruh peserta group ride.

Posisi handicap lebih baik di letakan pada barisan awal, ini lebih dapat mengontrol barisan secara lebih optimal.

Pengecekan kendaraan secara teliti, bagaimana Rem, Akselerasi, kondisi ban, shock, oil, bahan bakar.

Maka, arogansi group ride, seperti blokir jalan, penggunaan aksesoris yang bukan pada tempat dan hak nya, bisa dieliminir dengan manajemen group ride.

Yang sangat ditekankan adalah, ketika melakukan Group Ride, logo organisasi, entah itu klub, komunitas, ormas, atau lain sebagainya, menjadi penilaian citra di masyarakat, semakin baik manajemen group ride, maka semakin baik pula citra logo atau tulisan yang tertempel di motor atau jaket peserta.

RSA mengajak rekan-rekan bikers pada acara itu, untuk turut menjadikan citra pengendara motor lebih baik, dan menghilangkan arogansi berkendara secara berkelompok.

Acara ini berlangsung agak sedikit pasif, kemungkinan pendengar/pserta dalam acara diskusi ini masih terbilang baru dalam hal klub atau komunitas. Tapi salut buat HSJ yang bisa membuat GOR Ragunan menjadi ramai.

Comments (4)

Apa kabar Insto?

Bila masyarakat umum ditanya, “tau Insto ndak?” pastilah mereka mengenal brand obat cuci mata yang sangat terkenal ini.

Tapi bila bertanya kepada para klub pengendara motor? Jawabannya pun di tambah, menjadi, “oya…yang mendukung gerakan safety riding”. Kebetulan saya sendiri pernah menghadiri beberapa acara klub motor dan mereka mengusung selamat berkendara yang di dukung oleh Insto ini. Supaya mempermudah para pengguna internet silahkan cari di google dengan keyword insto safety riding

Apa boleh buat, mungkin tujuan mereka mendukung acara-acara mulia temen-temen di klub motor, dalam menggalakan safety riding, hanya sebagai bagian dari “brand activation” di masyarakat.
Saya sering mengeluhkan “pengecilan makna safety” yang sering terjadi di masyarakat, karena dukungan-dukungan sponsor yang sangat semu, dan jelas-jelas terlihat bahwa mereka hanya ingin mengenalkan, atau acara itu adalah bagian dari budget marketing mereka. Mungkin teman-teman harus bisa menularkan “virus safety” kepada para EO penyelenggara acara-acara seperti ini, minimal di terapkan kepada staff EO nya dulu.

Mungkin (semoga saya salah) ini juga terjadi pada perusahaan besar seperti Insto, mereka menggunakan jasa penyelenggara yang tidak mendukung arti Safety, sangat bisa terlihat pada iklan berjalannya, kreatif sangat kreatif, tapi…..

Pertanyaan dari pernyataan panjang saya di atas..”helm standarnya kemana, mbak?”

Comments (3)

Loooh…????

Modifikasi untuk sebagian orang adalah sebuah pride dalam berkendara, seperti beberapa waktu lalu dalam postingan saya.
Modifikasi kendaraan motor batangan beberapa tahun terakhir ini, terus saja mengalami perubahan, saya pun terkena gelombang itu. Masukan dan kritikan tentunya saya pertimbangkan pada saat hendak memberi tambahan pada kuda besi yang bernama badak item itu.
Seperti penggunaan side bag, yang memang, rear box K-42 saya sudah tidak mumpuni untuk meletakkan jaket, protektor, P3K, dan jas hujan saya dan istri saya.
Maka hal modifikasi sudah menjadi hal yang sangat biasa, tentu saja, kocek yang terogoh pun semakin dalam.

Tapi apalah arti modifikasi tanpa diiringi dengan keinginan selamat di jalan? Ini yang saya temukan pada jalan jatiwaringin saat itu, kebetulan saya dan keluarga baru saja pulang dari jalan-jalan..biasalah..refreshing…

Istri saya dan saya kontan tertegun melihat pemandangan ini, dengan modal yang cukup besar untuk modifikasi, tapi kenapa sang “boncenger” tidak dibekali dengan peralatan standar keamanan, apa alasannya pada saat itu? Dekat? Helm di colong? atau bandana itu adalah sebuah helm futuristik?
Entahlah, mungkin yang penting di pahami adalah, keselamatan tetap nomor satu dibandingkan style atau kemudahan berkendara.

Comments (7)

Pasca Isu Operasi Patuh Lalu Lintas

Lagi-lagi hanya isapan jempol belaka…suatu aksi yang sangat saya impikan, yaitu penegakan hukum di jalan, sanksi bagi para pelanggar lalu lintas.
Bagaikan hal yang sudah biasa, tapi saya sungguh tidak ingin menjadi terbiasa, ketika hukum, dan aparatnya menjadi barang pajangan di jalan. Mungkin lebih baik, kita ganti patung, dengan lengkap pakaian dan atribut aparat.

Pemandangan ini menjadi hal yang lazim, dan berita menggembirakan itu, kembali menjadi dongeng lalu lintas ibukota.

Berhenti di belakang garis putih?

Comments (5)

Rolling TekTok RSA

Dear All Members

RSA mengadakan ROTEK pada tanggal 25 Oktober 2008
Tujuan : Puncak Pas
Pergi pagi, pulang malem (Rolling Tek Tok)

Anggota RSA yang sudah confirm mengikuti acara ini adalah sebagai berikut :
1. Rio
2. Edy Caplang
3. Edo
4. Budi
5. Ridwan

Tikum : Pom Bensin Tanjung Barat (yang gede).
Jam 6.30 sampai lokasi
Note.

Bagi rekan2 yang ingin mengikuti acara ini harap mendaftarkan diri kepada pengurus masing-masing dan memberitahu RSA dengan cara menginformasikan berapa anggota yang ingin mengikuti ROTEK ini.
Demi kelancaran management rolling tektok kita, Saudara Rio akan menjadi PIC untuk acara ini

PIC = Bro Rio 0812 1271 978 / 021 9550 4578 / 021 33188210
Terima Kasih atas waktu yang telah diberikan

Salam Hangat
Dewan Presidium / http://rsa.or.id

Comments (1)

Inilah salah satu inkonsistensi itu…

Masih terngiang di kuping ini, ketakutan para pelanggar rambu dilarang parkir, bahwasannya mereka akan terkena sanksi gembok di roda nya.
Siapapun akan merasa taku dengan perihal ini, bahkan semua sekarang mulai melihat rambu-rambu, bagus sekali shock therapy itu.
Dan sering nya terucap, kata inkonsistensi terhadap penegakkan hukum tidak lagi menggugah hati para penegak hukum itu sendiri, malah mereka semua berlomba-lomba, membuktikan bahwa itu semua adalah BENAR.

Gambar ini saya ambil pada tanggal 18 Oktober 2008, hari Sabtu siang, dan ini sudah menjadi pemandang sehari-hari setiap saya melewati jalan Casablanca ini.

Kenapa? Kenapa cerita penegakan hukum lalu lintas di negara ini, Jakarta pada khususnya selalu berakhir kepada opini pesimis? Apa yang salah, dan kenapa sangat tidak bisa di perbaiki??? Kenapa??

Salahkan kami jika terus meneriakkan, “inkonsistensi penegak hukum, menjadi salah satu biang keladi dari kesemerawutan lalu lintas?” Tolong, jangan selalu melihat rakyat, bercerminlah…dan perbaiki..bukan membiarkan…

Comments (2)

Kepala istriku lebih kuat!

“Tenang saja, kepala istri dan anakku lebih kuat daripada kepalaku, aku tidak harus memperhatikan mereka”, mungkin itu yang terbesit di kepala bapak yang satu ini, juga banyak lagi pengendara tidak bertanggung jawab itu.
Apa yang mereka pikirkan ketika membeli helm standar safety itu? Kemana nurani nya? Tapi tidak bisa disalahkan sepenuhnya, istriku juga pernah berkata, kaum wanita terkadang enggan menggunakan helm standar safety, karena mereka tidak ingin rambutnya berantakan, atau rusak. Berarti mereka lebih baik kepala pecah, tapi rambutnya tetap bagus yah? Untungnya istriku malah memintaku untuk membeli helm full face, bahkan yang modular/flip up helmet untuk melindungi kepalanya.

Comments (3)

Harga Diri Sebuah Club Motor Besar

Ah…sekedar kebanggaan dan apresiasi gue terhadap temen-temen di Ducati Club…pada saat itu gue sedang membicarakan di dalam pertemuan gue sebelumnya dengan mas Nugroho, yang mengatakan, bahwa di Ducati tidak suka dengan Voorijder, juga disaat klub-klub otomotif yang makin ingin “diperhatikan” setiap mereka berkonvoi ria. Dan pernyataan ini juga di perkuat oleh Bro Eko, yang juga dari Ducati.

From: Eko W [xxx]
Sent: Monday, September 15, 2008 12:06 PM
To: Rio digitaLmbuL
Subject: Re: [otocup_2008] Konvoi SOTR Swift Club Membahayakan

Iya. Kebetulan anak2 ducati ga suka sama patwal. Selain, kebetulan membernya punya kesadaran juga bahwa memang kita pengguna jalan biasa & ga mau image kita rusak, alasan lainnya adalah banyak yang demen ngebut. Dan patwal tuh malah bikin lambat. Seni pake ducati dibanding moge full size tuh justru nyelip2nya. hehehehe
Kayak touring ke Jogja Bike Randezvous tahun lalu. Banyak banget rombongan2 harley yang dikawal. Kita tadinya di belakang mereka, pada ga tahan malah nyelip2 di antara mereka sampe akhirnya nyusul & ninggalin

Untuk touring, ga pernah sekalipun pake pengawal yang kita nyiapin sendiri. Kalaupun ada pasti disediakan panitia acara yang ngundang. Dan setiap kali disediakan tuh ngga pernah suka. Sekali2nya bersyukur ada patwal tuh waktu tahun lalu diundang acara ke sukabumi. Ternyata pasar2 sekitar sukabumi macet banget. Walaupun ga bangga, tetep bersyukur ada patwal. Sekali itu aja loh :-p
Tapi kebanyakan ngga suka. Kayak acara plaza fx bulan lalu. Kita dikawal keliling bunderan HI trus balik. Yang ada barisan malah jadi kacau. Pada ngebut dr belakang barisan sampe depan, trus mundur lagi, maju lagi, dst. Pada ga sabaran cuma jalan 40-50 kph sepanjang jalan kosong.
Di acara yang sama, kita diminta boncengin SPG mereka. Dikira bakalan surprised & seneng. Tapi karena mereka ngga nyiapin helm, pada ga mau karena ga safe & SPG pada diturunin di depan fx. Langsung klub motor lain yang ikut boncengin pada protes. hehehehe

Yang bro nug cerita patwal ditaro belakang mungkin acara peluncuran program Marlboro X2, keliling jakarta. Karena ane selalu jadi sweeper, & patwalnya ada dilakang ane, malah keliatannya ane yang dikawal (atau dikejar mau ditilang yak?). heheheh

Pernah kejadian, ada yang modif ducatinya jadi police version, pake sirine segala. Mau jalan ke puncak.
Begitu dia nyalain sirinenya & nerobos lampu merah, langsung dibentak sama member bule di rombongan kita :)

Yup, ane emang bangga sama klub ane itu. Diluar hobby member2nya yang suka ride sedikit kenceng di jalan, kesadaran membernya (diluar beberapa oknum yang pasti ada di komunitas manapun) cukup bagus, dan memang sebagian besar anggotanya bener2 punya passion for riding. Ga cuma show off motor aja.
Kalo mau touring motor dinaikin truk aja suka banyak yang protes. Banyak yang pengennya riding sepanjang jalan….

Loh, kok malah membanggakan klub sendiri yak?
Sorry ya bro…

2008/9/15 Rio digitaLmbuL Hehehehe…iya….
Tapi gue emang salut banget sama Ducati Club (as told by Mas Bro Nugroho)…waktu cerita, tentang konvoi Ducati, di kasih patwal, malah patwalnya di taro belakang…hehehehehe…salut..salut….soalnya emang we’re nobody out there..hak kita sama dengan pengguna jalan lain…hehehehe….

Ane japri yah..soalnya diluar sana masih “sensi” dengan kalimat2 ane diatas..hehehehe….

Salute for all of you Bro…you’re right..we’re nobody out there
Pembicaraan ini berlangsung pada saat pembahasan temen2 Suzuki Swift yang “disesatkan” oleh para Polisi…huh….

Comments (6)

Oldies, but Goodies!

Lewisham Homes in court after woman breaks jaw

Lewisham Council’s homes provider has been fined after a meter reader broke her jaw and smashed most of her teeth in a fall into an unprotected flood pit cellar beneath a block of flats.

Bedford company in court over worker’s broken leg

A nationwide removals firm has been fined for safety failings after a worker broke his leg whilst moving machinery at a site in Bedford.

Joinery firm in court over worker’s severed finger

A Dagenham-based firm has been sentenced after a worker severed a finger and seriously injured two others on a badly-guarded cutting block capable of 10,000 cuts per minute.

Unsafe gas work leads to fine for kitchen installer

A Staffordshire kitchen fitter has been fined after he carried out illegal gas work and put families’ lives at risk.

Keeping in touch with HSE

Subscribe for free news and updates, by email or RSS, on a wide range of health and safety topics and industries – all for free.

What's the dilly, yo?

cerita-cerita dari Rio

Categories

Archives

digitaLmbuL’s FiLes Authors

More Information

Our Friends


Warning: Unknown: write failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in Unknown on line 0