Syndicate

digitaLmbuL’s FiLes

 

Featured Articles

Terima Kasih Afriani Susanti – Supir Maut Daihatsu Xenia B 2479 XI

Ya, itu yang bisa saya katakan sekarang ini kepada si supir maut yang telah memakan 9 korban jiwa, pada kecelakaan di Jalan Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat.
Entah, ini adalah kebetulan atau tidak, tapi kecelakaan terjadi di depan Kementrian Perdagangan, yang konon telah membantu mulusnya penjualan kendaraan bermotor di negara ini.
Kronologi yang didapat hasil keterangan Dirlantas Polda Metro Jaya adalah, mobil yang berisi 3 orang selain pengemudi maut itu, baru saja menghadiri acara di hotel Borobudur, dan memacu kendaraannya sekitar 60-70 Kmpj, dimana menurut saya, kecepatan itu cukup fantastis ditengah situasi lalu lintas di daerah tersebut.

(more…)

Comments (7)

Sehari dua kali..

Selang satu hari dari terciptanya Sharing Tips Berkendara di Jalan Tol, aku dan keluarga menuju ke rumah orang tua ku, di Situ Gintung. Mulai masuk dari tol cikunir, lalu masuk ke tol JORR, selama berkendara, istriku selalu saja mengingatkan ku untuk berhati-hati, itulah kenapa aku sangat cinta istri dan anakku (kebetulan ikutan ngomong “hati-hati, paaa”). Seperti ada talking speed limmiter, hahaha.

Kilometer demi kilometer ku berjalan, di iringi dengan rasa gemas, melihat pengendara mobilyang bertingkah bodoh, dari yang melakukan tail gating, sampai mereka yang menyalip mobil ku dengan tipis, sampai ada yang memaksa mendahului lewat bahu jalan. Masuk di sekitar KM 30,mulai padat, ada sedikit kecurigaan, karena jarang disana terjadi kemacetan panjang.

Ternyata benar, ada tabrakan beruntun, waktu ku hitung, ada 6 kendaraan yang terlibat disana, beberapa dihiasi dengan senyuman di wajah mereka, dan beberapa dengan wajah kecut. Otakku berpikir, pasti mereka tidak menjaga jarak, mengingat banyaknya kendaraan yang selalu saja berjalan dengan jarak antisipasi yang sangat rendah. Pada saat itu, aku minta tolong istriku untuk ketik SMS untuk memberitahukan kepada TMC dan rekan-rekan lainnya.

Sesampainya di rumah orang tuaku, masih saja teringat denganku kejadian itu, hampir tidak percaya, hanya selang satu hari..huh. Akhirnya tidak lupa, aku memasang status di Facebook-ku.

Pulang dari rumah orang tua, kembali aku melewati tol yang sama dengan arah yang berbeda tentunya, tapi kembali lagi aku dikejutkan dengan kemacetan, “ah, paling mau keluar Citos”..tapi dari kejauhan aku melihat kilatan strobo kuning berada di lajur kanan, dan kilatan strobo biru secara konstan berkedip di lajur yang sama, alangkah indahnya bila semua orang berada di porsi mereka untuk tidak menggunakan alat pemberi isyarat itu pada kendaraan sipil mereka. Sampai di dekat lokasi, benar saja, ternyata kilatan itu berasal dari jalur berlawanan.

Terpantau oleh ku, beberapa polisi sedang sibuk berkreja, dan sebuah mobil APV, dan Innova dengan kondisi rusak berat, dan seorang wanita yang berteriak-teriak kepada seorang pria didepan tubuh yang menggeletak di jalan, tidak jelas ia berkata apa.

Tidak habis pikir pada saat itu, aku sangat terkejut melihatnya, dalam satu hari, aku melihat tabrakan di lokasi yang berselang beberapa kilometer. Mirisnya lagi, setelah lokasi kejadian, masih banyak mobil yang bertingkah bodoh, entah mungkin mobil mereka dibeli dari hasil uang panas (korupsi, merampok, dlsb), sehingga mereka tidak mengindahkan etika dan disiplin lalu lintas jalan, berjalan zig zag, dan hal lain yang menyeramkan menurutku.

Sesampai di rumah, aku masih teringat dengan kejadian itu, seakan tidak percaya, hanya selang satu hari dari dibuatnya tips itu. Dan status di Facebook pun aku rubah, tidak lama kemudian, aku melihat update dari TMC tentang kejadian itu, dan ternyata dugaan yang sama, tidak menjaga jarak.

Ah…ada apa dengan pengguna jalan kita? Kepemilikan kendaraan yang mahal, tidak disertai dengan etika yang santun.

Semoga ini menjadi pelajaran untuk kita semua, tidak usah merasa paling hebat, walau kalian merasa puluhan tahun berkendara, kecelakaan tidak pernah mengenal skill, umur, kekayaan, pangkat atau jabatan. 55 nyawa hilang dalam satu hari, apakah nyawa anda akan dihitung sebagai yang ke 56??

Comments (3)

Tips Berkendara Di Jalan Tol

Ini adalah sebagian kecil dari tips berkendara aman yang beredar selama ini,  tapi tidak ada salahnya untuk dibaca.

Berkendara di jalan Tol

  1. Masuk gerbang Tol, perhatikan marka garis utuh yang ada sebelum gerbang tol, diusahakan tidak melampaui garis tersebut, karena garis itu bukan hasil sebuah vandalisme, tapi peringatan untuk kendaraan yang melintas. Dasar Hukum : Pasal 106 (4) UU No. 22/2009
  2. Sebisa mungkin tidak membuang tiket tol keluar dari kendaraan anda, karena anda akan menyumbang sampah yang beredar di sekitar gerbang tol.
    Dasar hukum : Pasal 42, PP No.15/2005
  3. Berhati-hati ketika berpindah lajur untuk mendahului, gunakan lampu sign 2 detik sebelum mulai berpindah lajur, hal ini dilakukan untuk memberikan waktu antisipasi kepada pengemudi di belakang kita.
    Sewaktu berpindah lajur, pastikan lajur yang anda tuju dalam keadaan aman.
    Dasar Hukum : Pasal 52, PP No. 43/1993, diperbaharui di Pasal 109, UU No.22/2009
  4. Ketika melihat orang lain telah menghidupkan sign di depan anda, tanda akan berpindah lajur, perlambat kendaraan anda, bukan menambah kecepatan, karena hal ini sangat membahayakan diri anda juga orang lain.
    Dasar Hukum : Pasal 52 (5) dan Pasal 56, PP. No. 43/1993, diperbaharui di Pasal 109 (3), UU No.22/2009
  5. Bila anda berniat untuk berkendara sewajarnya, gunakan lajur tengah (bila ada lebih dari 2 lajur), atau gunakan lajur paling kiri bila anda ingin berjalan pada kecepatan minimal yang telah ditetapkan, gunakan lajur kanan atau paling kanan hanya bila anda ingin mendahului. Atau bila anda berada di jalan dengan dua lajur, usahakan berada di kecepatan diatas minimal dari yang ditentukan.
    Dasar Hukum : Pasal 41 (1) PP. No.15/2005, Pasal 51 PP No. 43/1993 (diperbaharui di Pasal 108 UU No.22/2009)
  6. Tetap melihat spion anda secara periodik, bila anda di lajur paling kanan (pada kondisi jalan dengan dua lajur) hal ini dilakukan bila ada kendaraan yang akan mendahului anda dengan memberikan tanda high beam lamp ke arah anda, juga mengantisipasi pengendara ugal-ugalan yang melakukan tail gating di belakang anda, bila kondisi-kondisi ini terjadi, tetap tenang, hidupkan lampu sign kiri, dan tetap melakukan gerakan pada point nomor 2 untuk berpindah lajur.
    Dasar Hukum : Pasal 51 PP No. 43/1993 (diperbaharui di Pasal 108 UU No.22/2009)
  7. Tetap melakukan menjaga jarak minimal 3,5 detik dari kendaraan di depan anda, dengan penjabaran, 1 detik adalah waktu reflek ketika mata mengirimkan sinyal ke otak, lalu 1 detik adalah waktu otak memberikan perintah kepada organ tubuh, 1 detik adalah perkiraan teknis kendaraan (traksi ban, rem, dlsb), 0,5 detik adalah spare waktu dari semuanya.
    Dasar Hukum (menjaga jarak, bukan durasi jarak): Pasal 62, PP No.43/1993
  8. Selain menjaga jarak di depan anda, juga menjaga jarak dengan kendaraan di belakang anda lakukan point nomor 5, usahakan untuk melakukan antisipasi, dengan cara berpindah lajur, jangan melakukan sudden break ini akan membahayakan anda.
    Dasar Hukum (posisi kendaraan bukan durasi jarak): Pasal 61, PP No.43/1993
  9. Ketika anda hendak mendahului kendaraan di depan anda, berikan tanda dengan high beam walau siang hari, lakukan dengan cara yang elegan, bila membandel, tetap pada lajur anda (kondisi ruang di depan
    kendaraan depan diprediksi lebih dari 5 detik dengan kendaraan di depannya), sebisa mungkin tidak membuat diri anda di dalam posisi orang yang salah prosedur. Anggap saja mereka yang pelan di lajur yang paling kanan sebagai speed limitter perjalanan anda dan melatih kesabaran ketika berkendara di jalan tol.
    Dasar Hukum : Pasal 51 PP No. 43/1993 (diperbaharui di Pasal 108 UU No.22/2009)
  10. Tidak menggunakan bahu jalan untuk mendahului kendaraan lain.
    Dasar Hukum : Pasal 41 (1) UU. No.15/2005
  11. Tetap waspada dan memperhatikan semua rambu dan marka yang ada sepanjang jalan tol, karena itu adalah guide dasar keselamatan dan etika anda di jalan tol. Salah satu contohnya adalah, perintah untuk menggunakan lampu utama ketika melewati terowongan di salah satu ruas jalan tol, bukan menghidupkan lampu tanda bahaya (hazzard sign).
    Dasar Hukum : Pasal 106 (4) UU. No.22/2009
  12. Diusahakan untuk tidak menggunakan lampu hazard ketika hujan lebat, karena kendaraan lain akan kesulitan untuk mendeteksi gerak kendaraan anda.
    Dasar Hukum : tidak ada, hanya etika berkendara.

Tidak ada yang akan mampu menjalankan semuanya 100% sesuai dengan Peraturan atau Undang-Undang yang berlaku, selama kehidupan lalu lintas darat selalu di-anak tirikan oleh pemerintah (tidak ada ketegasan hukum, fokus atas pertumbuhan industri otomotif, dan fakto pendukung lainnya), tapi percayalah, Peraturan dan Undang-Undang yang berlaku adalah sebagai pembimbing anda untuk tetap selamat, aman, dan beretika di jalan raya.

Salam – Road Safety Association

Comments (2)

Apa susah nya berada di jalur?

Ketidak-disiplinan pengguna jalan tol, adalah penyumbang kemacetan di pagi atau sore hari (peak hours). Sering saya tidak habis pikir, apa yang sulit dalam mempertahankan posisi tetap di jalurnya.

Sebelum gerbang tol, sering kita dihadapkan dengan marka garis utuh yang melintang, seakan dengan jelas peraturan berkata “tetap pada jalur anda !”. Tapi masih saja ada yang selalu bertindak seperti hewan yang memang tidak mengerti bahasa manusia, atau mungkin mereka itu harus ikut pelatihan Police K9 untuk bisa tertib atau disiplin?

Photobucket

Photobucket

Hal ini bukan saja menimbulkan kemacetan, juga sering berujung kepada pertengkaran, bagaimana tidak? Kendaraan yang berusaha serobot jalur, sering bersinggungan dengan kendaraan lain yang berada di jalur tersebut.

Ternyata aparat pun, kalau dilihat dari kendaraannya, bukan dengan pangkat rendah, walau aku masih bingung bagaimana cara membeli kendaraan seperti ini dengan gaji setinggi-tingginya seorang aparat penegak hukum.
Opini ini bermula, dikagetkannya aku ketika ada mobil mewah dengan santainya memotong tepat di depan di depan ku,

Photobucket

Dalam hatiku, aku bertekad tidak akan merusak pagi ku seperti pagi kemarin hanya karena hewan manusia mirip hewan berlagak seenaknya di jalan. Ketika melihat ke plat nomor yang terpampang di belakang, wupsss….ternyata…

Photobucket

Disaat macetpun (kendaraan posisi berenti looh), aku berusaha mengetik SMS ke 1717 untuk melaporkan kejadian ini, dengan harapan mereka mengerti, bahwa berat sekali tanggung jawab memasang lambang itu di kendaraan.

Comments (3)

Speed and Distance 2#

Beberapa hari ini, di jalan tol, saya selalu membayangkan dengan pengetahuan yang pernah dishare bersama..dan ini saya lakukan untuk jarak jauh maupun dalam city cruise…

Saya menggunakan 2 opini,

  1. Opini kumulatif, beban dan kecepatan (kecepatan yang di jabarkan per meter) – Dalam kecepatan 80 kmpj, berarti badan kita bergerak 22,2m/detik, dengan asumsi rentang waktu pengereman 3 detik ( 2 detik respon manusia (kita ambil yang terburuk), 1 detik respon kendaraan)
  2. Opini general, evaluate and re-act (2 secs), biasanya dipakai sebagian Road Safety ATPM – 1,5 sec untuk rentang total pengereman kendaraan, dan 0,5 waktu responsif manusia

Ternyata, saya tetap pilih nomor 1, kenapa?

Sewaktu berkendara dengan kecepatan 100 kmpj saya membandingkan dengan point no 2, ternyata jauh lebih mengerikan ketika saya menggunakan no. 2..kenapa? ini saya coba mengerti dan mencari tau penjelasan teknisnya…

Menurut dari sumber Road Safety Authority, 0.25 – 0.5 sec itu adalah ketika otak kita menangkap dan merespon peringatan bahaya, dan otak kita juga membutuhkan waktu untuk memerintahkan kaki kita untuk berpindah, dari pedal gas ke pedal rem, ini juga harus diperhitungkan bila kondisi kendaraan kita manual, perkiraan dari sumber tersebut adalah 0.25 – 0.75 sec. Belum lagi, angka ini juga dipengaruhi oleh keadaan kita, seperti faktor lelah, faktor konsentrasi, juga alkohol, atau mungkin minuman ber kafein tinggi, untuk jarak berhenti setelah penginjakan pedal rem juga sangat tergantung dari kondisi ban, kondisi jalan, dan kondisi suspensi.

Perbedaan kecepatan 5 Kmpj, bisa mengakibatkan fatality yang berbeda beda, ini juga di rangkum dalam artikel yang terdapat di Gov. Of South Australia, disana juga di jelaskan mengapa kecepatan dibatasi di tiap-tiap daerah tertentu. Bahkan di Europian Road Safety Observatory menggunakan rumus empiris yang cukup menarik tentang kecepatan dan efek yang diakibatkan dari kecepatan tersebut.

The higher the speed, the steeper the increase in accident risk

Grafik ini cukup menarik dari sumber tersebut,

http://ec.europa.eu/transport/wcm/road_safety/erso/knowledge/Content/20_speed/SPEEDING_bestanden/image004.gif
http://ec.europa.eu/transport/wcm/road_safety/erso/knowledge/Content/20_speed/SPEEDING_bestanden/image004.gif

Demikian sedikit hasil catut saya dari sana dan sini.

Comments (2)

Salut untuk AXIC

Di saat kegalauan ku tentang kondisi disiplin lalu lintas yang terus saja menurun, dan mulai bergabung dengan teman-teman yang memang mempunyai visi misi yang sama, perjuangan yang konstan terus saja aku dan teman-temanku lakukan.
Dari mulai kampanye darat, via cyber, maupun melalui media klub/komunitas. Tapi sayangnya, penilaian ku pribadi pun mulai menjadikan ketidaknyamanan. Yaitu, aku berpandangan, baru klub/komunitas roda dua, yang begitu concern terhadap Road Safety ini. Selama aku berkecimpung di dunia Road Safety, belum pernah aku melihat sebuah klub/komunitas dari roda empat yang juga konsisten di dalam kampanye sosial berkendara, sampai akhirnya, aku mendengar selentingan dari rekan-rekan AXIC (Avanza Xenia Indonesia Club), bahwa mereka akan menggaungkan kampanye Anti Bahu Jalan, hal ini tentu saja sangat berbeda dibandingkan event-event klub lain yang tidak pernah senada dengan mereka.
Dan, ketika aku berada di salah satu parkiran, tidak lupa aku mengabadikan kesempatan mulia ini…sebuah mobil anggota AXIC dengan Stiker Anti Bahu Jalan.

Photobucket

Salut untuk AXIC..lanjutkan perjuangan kalian untuk kampanye disiplin lalu lintas…Salut sekali lagi…Salam dari kami Road Safety Association

Comments (11)

Jl. Irian – belakang BII Thamrin (lagi)

Pembicaraan pada tanggal 10 Maret 2009, sekitar jam 07 pagi..

“mas, boleh minta tolong, dahan-dahan yang menghalangi rambu ini, tolong dipotong, biar tidak menghalangi lagi..” sambil mengeluarkan beberapa uang kertas sebagai DP pekerjaannya, berhubung beliau menyanggupinya.

Sekitar pukul 18, setelah menjemput istri saya, saya melihat rambu sudah terbebas dari halangan dahan.

“mas..” saya panggil tukang parkir yang membantu saya, dan satu lembar uang kembali saya berikan kepadanya.

Kemarin tanggal, 18 Maret 2009, saya dengan khusus duduk di taman, sebrang jalan Irian, untuk mengambil gambar-gambar.

—————–
Yang ada dalam benak saya adalah, setelah saya tulis di artikel sebelumnya, mungkin mereka tidak melihat rambu yang melarang kendaraan masuk ke jalur tersebut.
Tapi ternyata tidak, mereka ternyata sama sekali tidak perduli dengan rambu tersebut. Saya tidak habis pikir, disaat para pengendara mengeluh tentang macetnya Jakarta, disaat mereka mengeluh kendaraan roda dua yang semakin tidak tau diri, bahkan sebagian dari mereka melakukan debat kusir di mailing list – mailing list, antara pengendara motor, dengan pengendara mobil, ada yang saling mencaci, ada yang juga menyalahkan kendaraan umum.
Mereka yang lewat jalur ini bukanlah orang-orang tidak berpendidikan, semua merata, dari tukang bajaj…

Photobucket

Photobucket

Sepeda motor yang sering menjadi bulan-bulanan ini pun, turut menyumbangkan aksinya di dalam gambar saya, tidak lupa mereka yang bergaya ala anak klub/komunitas.

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Mobil kelas menengah, menengah-atas, sampai mobil high class juga ikut terambil gambarnya. Ini yang saya tidak habis pikir.

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

tentu saja, tidak semua photo tidak saya tampilkan disini, intinya, kembali lagi, jangan coba-coba memaki, atau membenci salah satu jenis kendaraan, karena sebetulnya semuanya sama, tergantung bagaiman empunya bertindak. Dan sudah terlihat jelas, STRATA SOSIAL tidak berpengaruh terhadap attitude disiplin..

– dibuang sayang –
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Comments (0)

Safety Driving Sharing

Pada tanggal 8 Maret 2009, DTC mengadakan kopdar kecil-kecilan di Daihatsu Pondok Pinang, kebetulan DTC memberikan pengarahan tentang Manajemen Group Drive, dan etika berkendara kepada rekan-rekan ZEC.
Dimulai sekitar pukul sekitar 09.30, para tamu termasuk DTC diberikan kesempatan untuk Test Drive Luxio, presentasi dibuka untuk pengenalan Daihatsu Luxio, kendaraan Lux jelmaan dari Grand Max ini memang jauh terlihat lebih apik. Hanya saja, kabin untuk pedal gas masih terlalu sempit, kaki kanan terhimpit oleh chamber ban kanan depan, mungkin tidak akan nyaman untuk mereka yang berbadan besar. Dari akselerasi masih belum bisa dikomentari, mengingat jarak tempuh test drive hanya di dalam komplek Pondok Indah yang penuh dengan shock pipe (polisi tidur). Kabin dalam masih berisik, mengingat mesin berada di bawah bangku supir. Suspensi keras, dijelaskan oleh Om Djarwo, ini untuk menyiasati keseimbangan kendaraan.
Presentasi pertama lebih kearah aksesoris, yang memang jauh lebih baik ketimbang Gran Max, lampu yang sudah mirip dengan HID, cahaya terang tapi tetap tidak menyilaukan mata. Kondisi keseluruhan saya prefer menyebut mobil ini adalah versi generik dari Alphard.. :D
Pertanyaan demi pertanyaan membuat sang pemapar sering kebingungan, mengingat pertanyaan semuanya menuju ke arah teknis, dan akhirnya di selamatkan oleh Om Djarwo…hehehehe

Lalu paparan dilanjutkan dengan Coaching Safety Driving dari sisi peraturan dan etika berlalu lintas, kesempatan kemarin di isi dengan tema Group Drive, Rules, and Attitude, di wakili oleh Rio DTC #136 juga mewakili RSA.

Om Djarwo juga menyisipkan tips dan trik berkendara, seperti perawatan ban, perawatan aki dan lain sebagainya. Paparan ini mendapat perhatian lebih, mengingat curah hujan yang tinggi. Acara ditutup dengan penyerahan bingkisan terima kasih kepada Om Djarwo tuan rumah Daihatsu Pondok Pinang , DTC, dan RSA sebagai kontributor dalam acara tersebut.

Dan akhirnya rasa terima kasih kami untuk para teman-teman DTC yang berkesempatan hadir, Om Wahyu, Om Indra, tante Kiky, dan juga tambu jauh DTC, Om Snorkel.

Photo-photo dari om Edy – ZEC.


Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Comments (1)

Perjuanganku…

Di mulai saat aku membeli sepeda motor, dan mulainya seluruh aktivitas keseharian dengan menggunakan sepeda motor. Saat itu, akupun berusaha mencari informasi mengenai sepeda motor, dengan bergabung banyak mailing list, tapi ternyata, perhatian ku sedikit tersita kepada satu kalimat yang bertajuk “Safety Riding”. Akupun tak pelak mencari tau, dan mencoba mendalami safety riding tersebut, ternyata, yang kudapatkan adalah cara berkendara yang aman dan nyaman.

Sampai pada satu saat, aku serta istriku mengalami kecelakaan yang lumayan membuat kami shock. Kecelakaan tersebut terjadi berulang sampai 3 kali. Sampai-sampai aku membuat testimonial sendiri, dan ternyata di kutip di salah satu web saudaraku.
Dulu aku memang pengendara roda empat aktif, dan pada saat itu juga, aku menyatakan bahwa diriku adalah anti sepeda motor, semua ego berkendara aku kerahkan, dari yang menutup jalur, sampai membuat manuver yang merugikan sepeda motor.

Perjalananku terus berlanjut, sambil aku memperhatikan, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan sosial berkendara kita ini, seminar demi seminar aku ikuti, pembicaraan demi pembicaraan aku tela’ah, sampai pada akhirnya aku mulai membuat asumsi-asumsi sendiri, dan kucoba sampaikan kepada rekan-rekan ku. Memang benar ternyata.
Kesemerawutan lalu lintas merupakan rantai yang berkepanjangan, dan aku mulai menempatkan diriku dalam satu posisi yang aku anggap itu adalah sebuah solusi, yaitu, sosialisasi peraturan dan attitude berkendara.

Ah..selama aku menulis ini, aku tidak yakin akan selesai hari ini, berdasarkan dari jauhnya perjalananku di dunia otomotif yang dikhususkan kepada attitude dan rules, tapi gak apa-apa lah, aku akan coba, sebetulnya aku ingin sekali menuju kepada inti permasalahan ku pada saat merintis ini semua.

Selama perjalananku, aku selalu menjadi orang yang sangat kritis, bila satu hal tidak sesuai dengan idealisme yang ku junjung tinggi ini. Aku selalu saja mencoba mempublikasikan seluruh pandangan-pandanganku kepada masyarakat luas, karena tujuan ku hanya satu, menghilangkan kemuakan ku di jalan raya, melihat tingkah laku para pengguna jalan yang semakin tidak menentu.
Aku pernah melontarkan kemuakan ku terhadap konvoi klub otomotif, yang terlalu arogan, dengan cara blokir jalan, menggunakan sirine/strobo, dan lain sebagainya, tapi ternyata hal tersebut mendapatkan perlawanan dari mereka yang ku sindir, dan pro-kontra pun mulai berdatangan kepada ku, lewat e-mail, Instant Messaging, HP, dan lain sebagainya. Ada yang memberikan masukan, bahwa aku telah salah cara penyampaiannya, aku sebagai kritisi harus rela di kritik selama itu membangun, aku pun mulai merubah strategi ku, walaupun gaya ekstrim itu tetap saja menempel di otak ku ini.

Sekarang, aku dan teman-teman di Road Safety Association mempunyai satu visi, dan satu misi, hanya saja, sebuah ironi kembali harus aku alami. RSA adalah sebuah perkumpulan teman-teman yang sadar keselamatan, dan sangat sadar terhadap peraturan juga attitude dalam berkendara, didominasi oleh para pengguna sepeda motor. Aku tidak menyerah, aku ingin seluruh pengguna jalan, juga harus melihat ini adalah sebagai solusi dalam semakin hancurnya kehidupan lalu lintas kita. Di saat aku mulai menemukan celah untuk mencoba berbagi dengan teman-teman pengguna mobil, aku pun mulai bertepuk sebelah tangan, ternyata mereka tidak banyak yang perduli dengan hal ini. Kenapa? Aku pun sedang mencoba menyelidikinya, bila ada rekan yang satu suara dengan ku, itupun hanya bisa bicara ketika dengan diriku saja, untuk bersama berjalan, masih belum bisa, dengan banyak alasan, yang paling terlihat adalah alasan dalam bersosialisasi dengan sesama pengguna roda empat.

Kini aku terus berjalan dengan segenap kekuatanku, aku tak akan menyerah dengan segala halangan, aku hanya bermimpi, lalu lintas bukan lagi sebuah momok menakutkan untuk anak cucuku nanti, dan aku tidak ingin, semua hal yang ku alami selama ini, harus juga di jalani oleh anak cucu ku nanti, cukup mereka menikmati saja.

Bertahanlah Rio..bertahanlah….

Comments (0)

Bahu Jalan..oh Bahu Jalan…

Koleksi para pengguna bahu jalan nih…

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Comments (1)

Apa Bedanya?

Seiring dengan adanya keluhan tentang dua pengguna kendaraan bermotor…sedikit mau kasih iklan gambar.. :D

Tentang pelanggaran bahu jalan yang sering terjadi di jalan tol,
Photobucket

Photobucket

Jelas-jelas ada marka jalan yang melarang, tapi koq diteruskan? Dan menyusahkan orang lain…membuat bottle neck…
Photobucket
Tenang..Bus sama mobil mewah sama kelakuannya…

Terus apa bedanya dengan cacian kepada oknum pengendara sepeda motor yang selalu melanggar marka jalan??
Photobucket

Saya bingung, apakah waktu beli mobil tidak mendapatkan ash tray di dalamnya? atau beli tanpa ash tray??
Photobucket

Comments (3)

STOP AROGANSI!

Pada sekitar pukul 14.55, di kisaran tol dalam kota arah semanggi, saya pulang dari bandara Sukarno Hatta. Ada iring-iringan RI 42, yang saya lihat mereka ada di barisan paling kiri, tiba-tiba menelusup sampai ke jalur paling kanan tempat saya berada. Masalahnya adalah, sang pengawal yang menghidupkan lampu strobo itu menyalip dengan sangat tipis, sehingga saya harus mengerem mendadak, dan saya otomatis membunyikan klakson, dengan harapan mereka ada yang turun, tapi ternyata tida, mereka terus berjalan dengan jalan zig-zag.

Karena saya tidak tau harus berbuat apa, akhirnya saya coba sms ke 1717, alhamdulillah ada tanggapan positif.

Rio : “Pengawal RI 42 di tol dalam kota arah semanggi, sangat membahayakan, dan Arogan..Kemana sy hrs mengadukan hal spt ini? -rio-”

1717 : “maaf apa yg dilakukannya?”

Rio : “Menyalip tipis tepat di depan saya..kondisi sdg ramai..”

1717 : “Selamat siang,hal ini akan kami sampaikan kpd pimpinan”

Rio : “Terima kasih,saya akan tunggu perkembangannya. -Rio, Road Safety Association”

1717 : “terima kasih kembali”

Semoga memang ada perkembangannya, dan saya sangat menunggu hal ini, karena secara pribadi saya sudah muak dengan arogansi yang sering dilakukan oleh para pengawal-pengawal yang sering memaksakan kehendak, walaupun keadaan lalin sedang padat.

Comments (5)

Jalan belakang BII Thamrin (Jalan Riau dan sekitarnya)…

Pagi ini saya mau sedikit berbicara…dan saya menulis ini dari hasil pengalaman saya sendiri, yang memang setiap hari mengantar istri saya di BII Thamrin, terkadang saya menggunakan sepeda motor, terkadang juga dengan kendaraan roda empat.

Hai..para pengguna jalan..khususnya pengguna jalan Riau dan sekitarnya, di belakang BII Thamrin Jakarta.
Lucu..sungguh lucu…di saat cacian, cercaan, makian, umpatan, atau apapun itu, di lontarkan kepada para pengendara sepeda motor, dari mereka pengguna mobil, karena mereka sering menyalip mobil, karena mereka sering melanggar lampu merah, karena mereka sering menggunakan trotoar, atau lebih singkatnya, mereka yang tidak pernah tertib di jalan. Kini seperti karma, pengendara mobil pun ikutan bejat, dengan membuat peraturan sendiri, dan tidak melihat kasta atau strata sosial. Kenapa saya bilang tidak melihat kasta? Sering tertangkap oleh mata saya, pengguna kendaraan roda empat itu adalah eksekutif muda, atau para owner yang mapan, kalaupun mereka itu driver, pastinya mereka driver ter-eksekutif yang pernah saya lihat. Tenang, bukan hanya itu, mereka yang menggunakan real driver pun, yang duduk di bangku belakang, sama bejadnya, koq ya sudah tau melanggar, si driver tidak di tegur? Atau si driver bertindak atas perintah si Tuan?

Kemacetan di jakarta memang sudah di luar toleransi, tapi dengan sifat mau menang sendiri, dengan melanggar peraturan/rambu yang ada, bahkan makin membuat para kemacetan itu sendiri. Apakah terpikir oleh mereka? Atau mereka terlalu retards sehingga tidak mampu untuk berpikir jernih? Lalu kenapa mereka sanggup membeli/kredit kendaraan roda empat?
Hal ini sebenarnya hanya seujung kuku dari kesemerawutan jalan raya, krisis disiplin yang melanda hampir seluruh pengguna jalan ini terlalu parah.
Oiya..tidak lupa, “anak klub/komunitas” roda dua, atau kendaraan roda dua yang berdandan ala motor Touring…maaf kalo gak pernah saya balas salam nya…terus terang..saya MALU!

Kembali lagi, apakah yang kalian pikirkan? Apakah anda sudah terlalu bodoh? Atau hati anda sudah terlalu tertutup dengan kehidupan sosial di jalan raya akhir-akhir ini?

Photobucket

Photobucket

Photobucket
Tulisan ini kasar? tanyakan kembali kepada diri anda..apakah anda sudah sopan terhadap pengguna jalan lain???

Comments (4)

Cerita Lama Yang Menggugah

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Prit!


Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu.
Hati Jono agak lega.
Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Jon.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru.
Istri saya sedang menunggu di rumah.”
“Oh ya?”
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.

“Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”

Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.

“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.”

Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

“Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.”

Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit.
Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.

“Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)”.

Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan… ….

Comments (1)

Tanggapan via email untuk Ibu Dinar Imelda

Selamat sore Ibu Dinar,
Sebelumnya perkenalkan saya Rio Octaviano, dari Road Safety Association, kami bermula dari para pengguna jalan khususnya sepeda motor, dan juga seluruh jenis kendaraan, kini kami berusaha melihatnya dari berbagai sisi.
Sadar atau tidak, email keluhan ibu telah banyak beredar di mailing list otomotif, dan pembacanya pun bisa diperkirakan lebih dari ribuan. Tentunya, banyak feedback yang datang ke pihak ibu, dan itupun pasti beragam, salah satunya adalah jenis tanggapan dari saya dan rekan-rekan di Road Safety Association, kebetulan saya mendapati pertama kali dari mailing list komunitas Suzuki Thunder.
Dalam keadaan lalu lintas di Jakarta (khususnya) memang sangat miris bila kita melihat, bahkan merasakan, dan kesemerawutan ini bukan hanya disebabkan oleh satu masalah/sumber, seperti ketika kita mendeskripsikan pengguna jalan, berarti kita harus berbicara, sepeda motor, mobil, kendaraan umum, pejalan kaki, gerobak, dan masing-masing mempunyai penjabaran yang panjang lagi, seperti mobil, ada beberapa kriteria, mobil yang dikendarai pemilikmya, atau oleh asisten, lalu juga, ada mobil instansi, dan lain sebagainya.

Ibu Dinar,
Kami sekarang ini sedang menggalakan program “Road Safety” dan yang kita ketahui, Road Safety tidak hanya berkutat di Technical Skill, kita berusaha melebarkan kepada empati, dan juga tertib terhadap peraturan lalu lintas. Tapi ini bukan semata kami “melemparkan” kampanye ini ke masyarakat tanpa ada implementasi terhadap diri kami yang tergabung di dalam Road Safety Association terlebih dahulu.
Maksud saya, dari ratusan email yang terkait masalah “pembenturan” jenis kendaraan yang beredar, semuanya mempunyai efek masing-masing, seperti, ketika email ini diterima oleh rekan-rekan kita di mailing list otomotif di roda empat, pastinya sebagian besar akan menyalahkan pengguna roda dua, tetapi ketika email ini sampai ke pengguna roda dua, maka terjadilah pembelaan dari kaum pengendara roda dua, dalam hal ini ibu menyebutkan “bikers”.
Bila kita telaah lagi, keadaan ini akan terus bergulir, dan menjadi debat kusir yang tiada henti. Bila kita bertanya kembali kepada pengguna jalan, sampai mana pengguna jalan mengerti peraturan yang mengatur lalu lintas? Peraturan Pemerintah No. 44, No. 43, tahun 1993, UU No. 14, tahun 1992, belum lagi KepMen, dan PerDa. Pasti jawabanya sedikit yang tahu. Prosedur pembuatan SIM yang angin-anginan, pasti sebagian besar pembuat SIM, tidak melalui prosedur yang sah, termasuk saya, dan saya sedikit tahu mengenai peraturan justru dari niat saya sendiri untuk mencari tahu akan peraturan itu sendiri.
Saya adalah pengguna kendaraan roda empat yang rutin (dulunya) tapi sekarang saya sudah merubah moda transportasi saya menjadi kendaraan roda dua, kendaraan roda empat saya gunakan hanya hari-hari tertentu. Sepeda motor, menjadi sorotan, karena memang jumlah sepeda motor yang berbanding terbalik dengan jumlah kendaraan roda empat, tapi kalau diperhatikan kembali, ulahnya sama saja, dan mental/tingkah laku dijalan sangat tidak bisa diukur dari tingkat intelektual dan strata sosial, ibu mungkin bisa membuktikan, bahkan sering melihat hal ini.
Banyak sekali yang harus diperhatikan, ketika kita harus menilai satu masalah, seperti jarak/lingkup pandang pada saat berkendara, sisi psikologis, faktor ekonomi dan lainnya. Dan teramat sangat mudah, bila kita harus menilai bahkan cenderung menyalahkan dari satu kendaraan, tapi hal itu malah membuat emosi unstable dari diri kita, dan sangat mengganggu di kemudian hari, tanpa kita sadari. Contohnya, kita akan selalu berpandangan negatif terhadap sesuatu yang kita benci, dan justru kebencian itu yang akan merusak diri kita secara perlahan, tapi pasti.
Intinya, kami menghimbau, cobalah memandang lebih bijaksana dalam berkendara di jalan raya, karena memang kampanye tertib dan aman berkendara bukan hanya milik instansi pemerintah, atau organisasi-organisasi seperti kami ini, tapi juga milik seluruh pengguna jalan.

Sekian bu, kami hanya bisa menghimbau, tidak bisa berharap lebih, apabila email ini mengganggu, mohon hapus dan abaikan, dan juga terimalah maaf dari kami, segelintir orang yang berusaha merubah kondisi jalan menajdi lebih baik.

Terima kasih.

cc.
- blog saya : http://digitalmbul.com/blogs/2008/04/16/tanggapan-via-email-untuk-ibu-dinar-imelda/
- mailing list Dewan Presidium Road Safety Association (former Forum Safety Riding Jakarta), dan hanya menjadi konsumsi mailing list ini, bukan untuk disebarluaskan kembali.

*Kalo mao cepet jangan di kiri, kalo mao lambat jangan di kanan..*

Rio Octaviano
DTC #136 | FSDI | BM-TTM #002 | RSA/FSRJ | JZØ9HLE
www.digitaLmbuL.com | www.informasiku.net | www.rapijakarta0506.com

From: thunder125@yahoogroups.com [mailto:thunder125@yahoogroups.com] On Behalf Of Benny The Great
Sent: 16 April 2008 11:09
To: yamaha_scorpio@yahoogroups.com; honda-tiger@yahoogroups.com; vixion-indonesia@yahoogroups.com; jakartamioclub@yahoogroups.com; thunder125@yahoogroups.com; tecepe@yahoogroups.com; tigerrevo@yahoogroups.com; kuya2k@googlegroups.com; Yamaha-Matic@yahoogroups.com; ysc-indonesia@yahoogroups.com; GL-ProMax-Riders@yahoogroups.com; GPMR@yahoogroups.com; REDZonerz@yahoogroups.com; ssfc@yahoogroups.com; suzuki-2wheels@yahoogroups.com
Subject: [Thunder 125] Curhat pengendara mobil tentang kelakuan Bikers

Bagaimana pendapat anda membaca posting di bawah ini?

Re: (OOT) Pelajaran buat Perempuan yang Menyetir Sendiri
Posted by: “Dinar Imelda” dinar_liebe@ yahoo.co. uk dinar_liebe
Tue Apr 15, 2008 4:11 pm (PDT)
mbak Eva,

ikut prihatin ya..
tapi bu ibu, aku prihatin melihat pengendara sepeda motor
di Jakarta ini.
aduh.. kalo dilihat dan diperhatikan NGELUNJAK deh..

(maaf ya) bawa motor doang, tapi maunya haknya kayak orang
bawa mobil. Ya jelas beda dong, pan yang bawa mobil itu bayar
pajaknya lebih mahal. Iya kalo itu doang yang dimasalahin,
kalo udah tabrakan, pastiiii aja yang bawa mobil yang diintimidasi,
dianggap ga perduli orang kecil lah..
dianggap nggak aware lah…
padahal.. jelas2 mereka yang suka ugal2 an.
Jalan di tempat yang bukan peruntukannya,
giliran kegiles/ ketabrak atau sebaliknya menabarak orang,
selalu minta excuse..

udah aneh deh pengendara motor sekarang ini.
kayak kemaren, aku lagi nyupir, ada motor di depanku,
jalan nya lelettttt banget, udah gitu di tengah jalan pula…
diklakson pelan, malah dileletin.

coba deh, ujian macam apa sih yang harus pengendara mobil alami?
kayak orang berdosa aja bawa mobil.

ah, jaman edan,… semua nuntut hak yang bukan pada tempatnya..

gelenggelengkepala,
dinar

Comments (8)

Lampu kelap kelip masih laku looh..

Berbeda sekali dengan pembicaraan saya dan teman saya, yang kebetulan menggunakan strob light di motornya.
Dengan tertawa-tawa, dia berbicara, tidak ada lagi yang mau beli strob light, walaupun sudah dijual murah.
Dalam hati, senangnya, banyak ternyata bikers yang tidak lagi bangga dengan hal-hal berbau arogansi, walaupun dengan alibi aksesori.
Apa sih yang salah dengan seorang sipil memasang strobe light di kendaraan?

http://www.ekkton.com/images/gyros/ff_1_sbl.jpg
Selain sudah melanggar PP 44/1993 Pasal 65 s/d Pasal 67, penggunaan lampu isyarat ini mengundang ego seseorang untuk menjadi “lebih” diantara pengguna jalan lainnya. Dari ego tersebut, merangsang sisi negatif dari pengguna. Apalagi delengkapi juga dengan raungan sirine, maka makin jadilah perangai negatifnya.
Loh..salah gambar..hehehehe…

Setelah beberapa waktu berselang, melihat sana…sini…akhirnya melihat berita tentang seseorang yang ingin menjual lightbar nya..kebetulan untuk kendaraan roda empat, harganya pun relatif murah, hanya dengan 1,4 juta.
lightbar2.jpg
Terlihat gagah ketika diletakkan pada mobil si penjual, tak urun mendapat balasan dari yang lain…”Gue bayarin deh..”….
Sudah malas, saya berargumentasi dengan mereka-mereka ini, sekarang saya melakukan pendekatan lain, dengan cara yang jauh lebih arif, hehehehe…bisa gak yah?

Kenapa dulu enggak jadi TNI/POLRI kalau memang mau bergaya ala militer? Apakah sudah sampai tingkat “sipil gila hormat” ?
Oiya..”budaya salah” ini juga mendapat dukungan dari pemerintah looh…buktinya..penjual di toko-toko aksesori tidak pernah mendapat ganjaran tuh…

Comments (14)

Bukan Motor aja koq…

Ah..pagi ini antar istri…baru sempat buat b log sore ini, setelah liat kejadian yang berulan di wilayah ini.
Hanya penasaran, baru kali ini saya sempat mengabadikan kejadian ini. Bagaimana tingkah laku kendaraan roda empat, bahkan, sebagian adalah bukan dari kalangan menengah kebawah.

Rambu yang teramat jelas pada lajur tersebut.
Malu deeeh

ah…saya suka berpikir, setiap kali melihat mereka yang berkendara dengan roda empat itu, andaikan saja trotoar cukup untuk kendaraan roda empat, mungkin mereka sudah melewati seperti para oknum pengendara sepeda motor lainnya.
andai saja, jalanan cukup luas, mungkin mereka pasti melewati jalur berlawanan arah…

ah..berarti..bukan cuman motor koq…

Comments (7)

Rragh..!!!!

Terkadang, bosan diri ini melakukan hal baik…
Terkadang, ingin rasanya berhenti saja…
Terkadang, emosiku terlalu mendominasi dari akal sehatku…

Rrraaggghhh….mereka mundur satu persatu, mereka yang kupikir dapat menjadi pionir dalam pergerakan ke arah yang lebih baik.
Baru saja, notifikasi grup, menyampaikan, bahwa kembali, seseorang mundur dari keanggotaan mailing list, yang kubuat dengan harapan, menjadikan wadah bertukar pikiran, tentang kehidupan sosial di jalan raya.
Ku rasa, mereka lebih baik menjadikan jalan raya, tempat yang hanya mereka pergunakan, tanpa harus memikirkan nasib pengguna yang lain.
Entah apa, sebabnya, kebencian? Kemunafikan? Apakah tidak ada lagi yang dapat memikirkan perjuangan menuju hal yang jauh lebih baik.

Padahal mereka adalah orang-orang pengguna jalan raya, mereka pula yang sering mengeluh, mereka juga yang sering menyalahkan pengguna jalan lain, atau pemerintah, atau setan monyet lainnya. Apakah sebatas itu saja? apakah mereka tidak perduli? Apakah mereka memang benar-benar tidak menginginkan perubahan?

Arrggh…kesabaran ku..ntah berapa lama kesabaran ini akan berdiam di dalam diri ku, entah seberapa kuat, kesabaranku memegang pendirianku, entahlah…entahlah..entahlah…

Selamatlah untuk kalian, selamat lah..semoga kalian bisa menjadi pengguna jalan yang jauh lebih arif, jauh lebih bijaksana..dan jauh lebih dapat memikirkan orang lain, dari pada diri kalian atau kelompok kalian….

Musnahlah kalian!!

Comments (7)

Siapa bilang [oknum] Polisi baik??

Di dalam hujan yang lebat…gue menerobos jalan raya, dari kalimalang, casablanca, rasuna said, imam bonjol, agus salim, dan ke BII, lalu berputar menuju kantor ku tercinta….
Dari arah menteng, hujan mengguyur makin lebat, jas hujan boor yang gue pakai, tidak sanggup menahan air, akhirnya membasahi seluruh badan gue…hmm..(apa gunanya pake jas ujan yak?)

Tapi..di sebrang tugu 66, sekitar pukul 08.30, terjadi konsentrasi sedikit, ternyata setelah diselidiki, ada motor yang menabrak mobil kijang, pengendaranya pun anak SMA.
Setelah menawarkan jasa untuk mengobati luka si korban (pengendara motor SMA) di tolak, gue pun mencoba melaju kembali meneruskan perjalanan.
Tapi ada sedikit kisah unik di dalam kejadian ini, pada saat gue datang ke lokasi, sudah terlihat beberapa orang memanggil-manggil Polisi yang ada di dalam mobil PATWAL dengan nomor punggung 01-750, hmm…herannya..sampai motor itu berpindah ke tempat teduh, pak Polisi tidak turun sama sekali, bahkan hanya menanyakan keadaan si korban. Ironis yah?

Niat hati ingin SMS ke Kasubdit Dikyasa PMJ, tapi hati masih ragu, apakah hal ini nantinya akan menimbulkan efek domino yang merugikan untuk gue?

Yah…akhirnya SMS itu hanya tersimpan di folder draft di dalam handphone gue…apa daya…keraguan terhadap sistem masih menggulana di hati gue.

Selamat pagi pak Polisi, sedang tidak enak badan kah?

Comments (6)

Bingung…

Pagi ini, seperti biasa, berjalan mengantar istri ke Thamrin melewati Imam Bonjol lalu ke arah Agus Salim, “ting” lampu merah menghadang perjalanan gue di perempatan kedubes Australia…gue pun berhenti, sambil bingung…koq motor lain masih meneruskan perjalanan..dan wush…2 mobil mengikuti di belakangnya…salah satu ironi yang terjadi adalah…yang melanggar lampu merah mobil berikutnya adalah salah satu klub mobil “menengah keatas” dengan identitas nomor anggota klub di kaca belakang…ya..mencoba memberitahukan kepada rekan yang kebetulan ada di klub tersebut.

Setelah mengantar istri, lalu lanjut ke kantor untuk kembali bekerja.
Dengan santai, dan tentunya di lajur paling kiri, saya melaju sekitar kecepatan kurang dari 50Kmpj, tiba-tiba ada motor dari kanan langsung dengan tipisnya menyalip…”hmmm..kupret nih…klakson aah…” dan bunyi klakson pun terdengar dari mulut Hella 66 watt di depan mesin tertutup oleh body kit. Orang itu berhenti, dan dengan melihat marah ke gue…”waduh…koq marah yah”..tidak seperti biasa, saya menegur orang itu dengan sopan…”Bapak mengerti peraturan gak?…bapak tadi salip motor saya tipis banget..” lalu di jawab…”saya pake sign koq…”hmm…argumen yang benar..tapi kurang tepat…saya coba menghimbau, bahwa bisa saja keluarga dia yang celaka akibat ulahnya…
Yaaaa…seperti biasa…mereka yang melakukan ini, memang tidak mengerti…memang tidak tahu dan sudah membudaya…dia terus memberikan argumen…tapi argumen gue pun selelsai ketika bertanya ” bapak mengerti, bapak bisa mencelakakan orang..?” dia bilang “iya…” tapi ironisnya dengan nada percaya diri, bahwa dia tetap benar…dan banyak sekali argumentasi..dan gue tetap berusaha sopan…wwuuiiihhhh….Riooooo…sape duluuuu…kekekekekekkk…
OK…sisihkan dulu emosi…gue lalu berjalan..setelah gue sekali lagi bingung..mau bilang apa lagi…baku hantam??? hmm…atas dasar apa? Gue harus mengerti, bahwa orang yang gue tegur bukan orang yang berpendidikan cukup…dan untuk melanjutkan perdebatan gue cukupi sampai situ saja…

Yah…begitulah…
Kehidupan jalan raya, dengan mental pengendara yang jauh dibawah rata-rata…tapi gue sekarang masih bingung..bagaimana gue bisa se-sopan itu? hehehehe…
sudahlah…

Memang sabar harus tak berbatas..

Comments (0)

Oldies, but Goodies!

Staff and public exposed to asbestos during refurbishment work

A decorating company has been fined after it exposed employees, agency staff and members of the public to potentially fatal asbestos material.

Firm in court after worker’s life-changing injuries

Wienerberger Limited has been fined for safety failings after a worker suffered multiple injuries when he fell from the roof of an industrial brick oven at a site in Bishop Auckland.

TTC forms new road safety education division

TTC forms new road safety education division

Manchester set to introduce more 20mph areas

Manchester set to introduce more 20mph areas

HSE Jobs – Press and Public Relations (PR) Officer

This is a rare opportunity to join an award-winning team working on a high profile news agenda, supporting HSE’s work to reduce the number of people killed, injured and made unwell by their work.

What's the dilly, yo?

cerita-cerita dari Rio

Categories

Archives

digitaLmbuL’s FiLes Authors

More Information

Our Friends


Warning: Unknown: write failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in Unknown on line 0