Butet dan Lalu Lintas Jakarta

MASIH ingat Butet Kertaradjasa? Tokoh yang kerap meniru suara Pak Harto? Yah. Sosok seniman kritis asal Jogjakarta itu, memang punya talenta khas. Karya-karya seninya tajam dan menggelitik. Coba saja tengok ‘Sentilan Sentilun’ di Metro TV.

Bagi saya, pelakon ini mengemas kritik dalam canda yang menyegarkan. Ulasan soal perilaku politikus maupun sepak terjang pemerintah yang korup, digelontorkan dalam candaan yang menghibur. Entah bagi koruptor yang disindir.
Nah, Butet bahkan menuangkan sesuatu yang lebih dalam ‘Kadal Nguntal Negoro’. Kenapa dahsyat? Di pagelaran teatrikal itu dikupas habis soal perilaku koruptor. “Korupsi siji, korupsi kabeh,” kata Butet saat membuka teatrikal, di Bentara Budaya Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (29/10/2011) malam.

Alur cerita yang mengisahkan seorang koruptor minta ditahan karena korupsi itu, cukup apik. Tentu saja digarap dengan jenaka. Apalagi dijahit dengan lagu-lagu satir oleh Djaduk. Merdunya alunan musik Sinten Remen membuat panggung kian semarak.

Di antara padatnya kupasan soal korupsi, terselip juga pesan-pesan yang terkait keselamatan jalan. Khususnya, soal kemacetan lalu lintas jalan Jakarta dan perilaku korup polisi di jalan.

“Maaf acara ini terlambat dibuka karena menunggu penonton yang terlambat datang karena kemacetan lalu lintas. Kita juga mesti ngasih penghargaan atas prestasi gubernur Jakarta yang sudah bikin taman parkir terbesarn,” ujar Butet dengan gaya khasnya.

Di bagian lain, dikisahkan seorang pesepeda yang diperas karena dituduh salah parkir. Dua polisi meminta sejumlah uang kepada sang pemilik sepeda. “Kamu salah parkir, ayo bayar,” kata pelakon yang memakai seragam. Saat itu, setting-nya adalah petugas kepolisian Afrika Selatan.

Sontak sang pemilik sepeda protes. Pasalnya, saat dia parkir, rambunya menunjukan boleh parkir. Tapi oleh sang polisi, rambu tadi diubah. “Wah, rambu apaan ini?” Sergah sang pemilik sepeda yang akhirnya harus membayar sejumlah uang.

Sentilan soal lalu lintas juga mencuat soal gubernur yang memakai pengawalan untuk membuka jalan. “Saya gak usah pakai pengawalan, nanti malah bikin macet. Wong gak ada saya aja jalanan sudah macet,” ujar sang Gubernur Afrika Selatan yang diperankan Sulistyo.

Adegan itu parodi perilaku pejabat yang memakai kawalan voorijder yang justeru menimbulkan antrean panjang. Apalagi di Jakarta yang lalu lintas jalannya sangat padat. “Selama transportasi publik belum nyaman, warga banyak memakai kendaraan pribadi yang bikin macet,” kata Agus Pambagio, pengamat kebijakan publik, saat berbincang dengan saya di selan menyaksikan Kadal Nguntal Negoro, Sabtu.

Kisah Kadal Nguntal Negoro atau Kadal Makan Negara digelar dua hari, 28-29 Oktober 2011 di TIM. Dalam alur cerita yang berlangsung sekitar 180 menit, nyaris seluruh penonton dikocok perutnya. Seorang wanita muda yang duduk persis di belakang saya bahkan tak henti-hentinya tertawa. Suaranya melengking, bikin saya juga tersenyum.

Leave a Reply

CommentLuv badge