Featured Articles
5:45 am by Let's Share The Road in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons

Comments (0)
5:43 am by Let's Share The Road in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons

Comments (0)
5:41 am by Let's Share The Road in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons

Comments (0)
5:41 am by lucky junan subiakto in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons

Comments (0)
4:31 am by Let's Share The Road in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons


Comments (0)
4:31 am by lucky junan subiakto in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons


Comments (0)
4:11 am by Let's Share The Road in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons
MASIH ingat Butet Kertaradjasa? Tokoh yang kerap meniru suara Pak Harto? Yah. Sosok seniman kritis asal Jogjakarta itu, memang punya talenta khas. Karya-karya seninya tajam dan menggelitik. Coba saja tengok ‘Sentilan Sentilun’ di Metro TV.
Bagi saya, pelakon ini mengemas kritik dalam canda yang menyegarkan. Ulasan soal perilaku politikus maupun sepak terjang pemerintah yang korup, digelontorkan dalam candaan yang menghibur. Entah bagi koruptor yang disindir.
Nah, Butet bahkan menuangkan sesuatu yang lebih dalam ‘Kadal Nguntal Negoro’. Kenapa dahsyat? Di pagelaran teatrikal itu dikupas habis soal perilaku koruptor. “Korupsi siji, korupsi kabeh,” kata Butet saat membuka teatrikal, di Bentara Budaya Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (29/10/2011) malam.
Alur cerita yang mengisahkan seorang koruptor minta ditahan karena korupsi itu, cukup apik. Tentu saja digarap dengan jenaka. Apalagi dijahit dengan lagu-lagu satir oleh Djaduk. Merdunya alunan musik Sinten Remen membuat panggung kian semarak.
Di antara padatnya kupasan soal korupsi, terselip juga pesan-pesan yang terkait keselamatan jalan. Khususnya, soal kemacetan lalu lintas jalan Jakarta dan perilaku korup polisi di jalan.
“Maaf acara ini terlambat dibuka karena menunggu penonton yang terlambat datang karena kemacetan lalu lintas. Kita juga mesti ngasih penghargaan atas prestasi gubernur Jakarta yang sudah bikin taman parkir terbesarn,” ujar Butet dengan gaya khasnya.
Di bagian lain, dikisahkan seorang pesepeda yang diperas karena dituduh salah parkir. Dua polisi meminta sejumlah uang kepada sang pemilik sepeda. “Kamu salah parkir, ayo bayar,” kata pelakon yang memakai seragam. Saat itu, setting-nya adalah petugas kepolisian Afrika Selatan.
Sontak sang pemilik sepeda protes. Pasalnya, saat dia parkir, rambunya menunjukan boleh parkir. Tapi oleh sang polisi, rambu tadi diubah. “Wah, rambu apaan ini?” Sergah sang pemilik sepeda yang akhirnya harus membayar sejumlah uang.
Sentilan soal lalu lintas juga mencuat soal gubernur yang memakai pengawalan untuk membuka jalan. “Saya gak usah pakai pengawalan, nanti malah bikin macet. Wong gak ada saya aja jalanan sudah macet,” ujar sang Gubernur Afrika Selatan yang diperankan Sulistyo.
Adegan itu parodi perilaku pejabat yang memakai kawalan voorijder yang justeru menimbulkan antrean panjang. Apalagi di Jakarta yang lalu lintas jalannya sangat padat. “Selama transportasi publik belum nyaman, warga banyak memakai kendaraan pribadi yang bikin macet,” kata Agus Pambagio, pengamat kebijakan publik, saat berbincang dengan saya di selan menyaksikan Kadal Nguntal Negoro, Sabtu.
Kisah Kadal Nguntal Negoro atau Kadal Makan Negara digelar dua hari, 28-29 Oktober 2011 di TIM. Dalam alur cerita yang berlangsung sekitar 180 menit, nyaris seluruh penonton dikocok perutnya. Seorang wanita muda yang duduk persis di belakang saya bahkan tak henti-hentinya tertawa. Suaranya melengking, bikin saya juga tersenyum.
Comments (0)
4:01 am by lucky junan subiakto in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons
Senin (31/10/2011), berita miris muncul di situs detik.com. seorang wanita hamil tewas. Dia korban tabrak lagi. Namun, sebelum tewas, sang korban masih sempat melahirkan bayi yang dikandungnya.
Berikut ini cuplikan berita dari situs tersebut.
Tragis! Seorang wanita hamil menjadi korban tabrak lari di Texas, Amerika Serikat. Dia pun sempat menjalani operasi caesar untuk melahirkan bayi dalam kandungannya. Namun setelah melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat, wanita itu meninggal akibat luka-luka yang dialaminya saat ditabrak mobil.
Demikian seperti diberitakan surat kabar lokal, San Antonio Express-News dan dilansir New York Daily News.com, Senin (31/10/2011).
Wanita AS bernama Diann Ford tersebut tengah menyeberang di jalan di San Marcos, Texas ketika mendadak dirinya ditabrak sebuah mobil. Saat itu dia tengah dalam perjalanan pulang menuju rumahnya usai bekerja di sebuah restoran di mana dia menjadi kasir di resto tersebut.
Comments (0)
3:57 am by Let's Share The Road in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons
MALAM kian larut. Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat masih berdenyut. Aneka kelompok sepeda motor hilir mudik. Riuh rendah suara knalpot ditingkahi sesekali suara bak klakson mobil polisi. Tot tot tot….dibarengi cahaya biru terang.
Di sudut jalan terlebar di seantero Kota Depok itu, belasan anak-anak muda para penunggang Bajaj Pulsar asyik masyuk sendiri, Sabtu (29/10/e011). Mereka bersimpuh di atas pelataran parkir rumah toko (ruko). Membentuk lingkaran dan saling berbagi masalah keselamatan jalan.
Saya tiba persis jelang tengah malam masuk ke dinihari. Di lokasi ada tiga kolega saya dari Road Safety Association (RSA). Bro Rio Octaviano, bro Joan, dan bro Azdi. Seorang bikers anggota Pulsarian Depok sedang menyampaikan masukan dan pertanyaan. Sebagian lainnya menyimak, sedangkan lainnya sibuk ada yang berbincang-bincang sendiri. Lumrah.

“Bagaimana agar kita bisa menghindari dari kesan dan perilaku arogan di jalan saat konvoy? Bagaimana kita mensosialisasikan dan menggoyang pemerintah bahwa klub motor tidak ugal-ugalan?” Tutur bro Deni dari Pulsarian Depok serius.
Bagi saya, pertanyaan itu amat tajam.
Sekaligus menyimpan sebuah ajakan untuk berkendara yang bisa saling peduli.
Soal kelompok pemotor arogan saat berkonvoy adalah yang beredar di tengah masyarakat kita. Ada apatisme ketika melihat iring-iringan pemotor. Kuncinya adalah bagaimana kelompok tersebut punya aturan main yang saklek. Misal, saat konvoy, tidak boleh arogan. Titik.
“Citra klub itu melekat dalam anggotanya,” kata bro Rio yang merupakan Ketua Umum RSA.
Sementara bro Rino, anggota Pulsarian Depok lainnya, berbagi pengalaman soal dirinya yang terpaksa masuk busway karena padatnya kendaraan di jalur arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan. Adegan itu difoto rekan Pulsarian lainnya dan dimasukan ke jejaring milis. “Saya minta maaf, tapi Saya juga mempertanyakan pemotor yang memotret saat berkendara, itu juga tidak safety,” tukas bro Rino.
Sontak hal itu membuat kolega saya, bro Rio, melontarkan rasa kagumnya. “Hanya orang besar yang mau mengakui kesalahannya sendiri, mengalah bukan berarti kalah,” sergahnya.
Soal aktifitas lain saat bermotor, kata bro Rio, berpotensi mengurangi daya konsentrasi pemotor. Ujung-ujungnya bisa memicu kecelakaan lalu lintas jalan.
Pentingnya Perilaku
Kita tahu, pemicu terbesar kecelakaan lalu lintas jalan adalah perilaku pengendaranya. Praktis, hal itu amat terkait soal konsentrasi. Di sisi lain, perlu ada gerakan baru soal melihat keselamatan jalan. Bila saat ini yang digulirkan adalah soal kewajiban, rasanya sudah waktunya digulirkan bahwa keselamatan adalah kebutuhan. Misal, memakai helm saat bermotor adalah sebuah kebutuhan, bukan semata kewajiban karena ada regulasinya.

Hal itu menggelitik bro Ghodex, ketua Pulsarian Depok. Dia berbagi pengalaman soal kesadaran memakai helm di keluarganya. “Suatu ketika saya lupa tidak memakai helm ketika hendak bermotor di sekitar rumah, tapi isteri saya mengingatkan pentingnya memakai helm,” kata dia.
RSA memang bukan siapa-siapa. Kelompokpressure group ini hanya ingin berbagi seluas mungkin soal keselamatan jalan. “Karena itu, kami senang sekali berbagi dengan RSA soal perilaku dan faktor-faktor lain yang terkait keselamatan jalan,” tutur bro Budi, anggota Pulsarian Depok, di penghujung sharing RSA dengan kelompok penunggang Bajaj Pulsar. Saya termasuk yang mengamati kelompok tersebut. Dipersepsi saya, pemakai Pulsar ini cukup antusias soal keselamatan jalan. Bahkan, mereka memiliki tim inti yang disebut Pulsarian Safety Riding Team (PSRT). Semangat mereka sekuat srigala malam. Seperti makna kata Pulsar itu sendiri yang berarti srigala dalam bahasa Indonesia.
Hampir pukul 01.30 WIB, Minggu (30/10/2011) ketika saya berpamitan. Bergegas menuju rumah untuk istirahat. Satu lagi pengalaman saya bertemu dengan para Srigala Margonda. (edo rusyanto)
Comments (0)