Ramai-ramai Lawan Arus
BEBERAPA waktu lalu saat kopi darat keliling (kopdarling) ke kawasan Depok, kami sempat menyaksikan adegan melawan arus jalan. Para pemotor dengan sadar melawan arus kendaraan untuk mencari jalan pintas. Padahal, tidak jauh dari lokasi tersebut ada putaran balik. Kenapa mesti melawan arus?
Jauh sebelumnya, kami juga sempat menyaksikan adegan serupa di kawasan dekat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Bedanya, jarak yang dijadikan untuk melawan arus lebih panjang. Jumlah pelawan arus tak tanggung-tanggung, bukan satu dua orang, tapi lebih dari sepuluh orang. Semuanya memakai sepeda motor.
Usut punya usut, ternyata, praktik melawan arus hanyalah demi memangkas waktu tempuh. Misalnya, jika mengikuti antrean butuh waktu sekitar 15-30 menit, sedangkan dengan melawan arus bisa berkisar 5-10 menit. Wow!
Atau, seperti dalam kasus putaran arah di Depok itu, para pemotor malas mengikuti putaran yang jaraknya cukup jauh jika dibandingkan dengan melawan arus. Benarkah mereka malas mengikuti rambu yang ada?
Apa pun alasannya, terlihat bahwa melawan arus bermuara pada satu kebutuhan, yakni memangkas waktu tempuh. Melawan arus berisiko memicu kecelakaan lalu lintas jalan. Para pengguna jalan yang berada diposisi arah sebenarnya, bakal kikuk melihat ada kendaraan yang melawan arah. Tak heran jika kemudian aturan lalu lintas jalan melarang praktik melawan arah.