Jarak Dekat Gak Perlu Pakai Helm, Kenapa?
COBA amati pemotor di lingkungan tempat tinggal kita. Kerap kita jumpai yang tidak memakai helm. Ada yang beralasan soal jarak. “Kalau cuma di lingkungan kompleks kan gak ada polisi yang menilang,” ujar seorang pria warga Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu. Dia membelikan anaknya yang masih bersekolah di tingkat lanjutan pertama sebuah sepeda motor skutik. Alasannya, untuk alat transportasi di sekitar kompleks tempat tinggal mereka. Tak sedikit tipikal seperti pria warga Banten itu. Tak sedikit pula yang beralasan soal jarak untuk pembenaran tidak memakai helm. Memakai helm saat bersepeda motor berfungsi untuk mencegah fatalitas lebih buruk ketika terjebak dalam insiden kecelakaan. Helm memang bukan untuk mencegah tidak terjadi kecelakaan. Helm untuk mengurangi risiko yang lebih buruk. Nah, di bagian akhir yang tak kalah penting adalah pemakaian helm yang benar. Pasanglah pengait di posisi yang tepat. Kampanye soal ini sering kita dengar adalah memakai helm hingga bunyi ‘klik’, yakni suara pengait saat mengancingkan helm. Pemakain yang benar, yakni pengait helm terpasang pada posisinya, membantu helm agar berfungsi maksimal kepala sang pengendara.
Itu semua realita di tengah masyarakat kita. Termasuk mindset memakai helm agar tidak ditilang polisi. Memakai helm menjadi kewajiban, belum sebagai kebutuhan. Sebuah kebutuhan untuk keselamatan saat bersepeda motor.
Pada gilirannya, pemilihan kualitas helm yang mumpuni juga menjadi penting. Di negara kita ada ketentuan helm standar nasional Indonesia (SNI). Setidaknya, helm seperti itulah yang menjadi rujukan.
