Syndicate

digitaLmbuL’s FiLes

 

Featured Articles

Truk Tewaskan Tiga Pesepeda Cilik

LAGI-LAGI sopir ugal-ugalan renggut jiwa pengguna jalan. Kali ini, tiga bocah naik sepeda menjadi korbannya. Mereka tewas dihajar truk. Sang pengemudi diduga belum mahir mengendarai truk pengangkut barang.
Kronologis kejadian seperti dilansir situs poskota.co.id, bermula dari ketiga bocah tersebut sepulang bermain sepak bola. Ketiganya bersepeda. Tiba-tiba muncul truk yang dikendarai Agus (31), yang masih belajar mengemudikan mobil. Diduga, karena tidak menguasai kendaraan, truk tersebut langsung menabrak ketiga bocah malang ini.
Warga mengamuk. Sang pengemudi dan kendaraannya pun menjadi amukan warga. Satu fakta lagi, berkendara tak bisa asal injak gas dan rem. Mesti punya keterampilan dan kepedulian kepada sesama pengguna jalan. Tak terkecuali, termasuk para pesepeda cilik. Buat saya, ini duka yang mengajak kita semua agar lebih waspada. Kecelakaan lalu lintas jalan masih terus mengintai.
Di bawah ini, saya lampirkan kronologis seperti yang dilansir poskota.co.id(edo rusyanto)

Comments (0)

Pejalan Kaki "Dirampok"

SEMUA pengguna jalan memiliki hak yang sama. Mulai dari pejalan kaki, pesepeda, hingga pengguna mobil. Masing-masing berhak memakai jalan. Di balik hak, sudah barang tentu mereka juga memiliki kewajiban. Saling mentaati aturan yang ada. Saling menghargai sesama pengguna jalan. Demi kenyamanan dan keselamatan bersama. Bagaimana jika salah satu di antara mereka saling serobot? Mudah ditebak, lalu lintas jalan karut marut.

Dua peristiwa yang kami saksikan dalam dua hari yang berbeda bercerita soal itu. Potret buram lalu lintas jalan metropolitan Jakarta. Para pengendara mobil dan motor saling serobot. Mereka merajai zebra cross. Marka jalan untuk menyeberang jalan diduduki. Pada gilirannya, nasib pejalan kaki tercerabut haknya. Pejalan kaki ‘dirampok’.

Sempat kami menyaksikan seorang pejalan kaki bersusah payah menyeberang jalan. Dia melintas di antara roda-roda kendaraan. Entah disimpan dimana nurani sang perampas jalan. Seakan dengan pongah menantang silemah. Tak ada nada protes. Pejalan kaki pasrah. Padahal, seingat kami, ada sanksi pidana kurungan penjara atau sanksi denda bagi pelanggar zebra cross. Entah kemana sembunyinya para penegak hukum di jalan raya.

Mungkinkah mereka juga jenuh dengan realitas Jakarta? Jika ya, sebuah isyarat memasuki dekade petaka. Hukum rimba, sikuat yang berkuasa.
Saya termasuk yang percaya, kedisiplinan berlalu lintas jalan bisa mewujudkan kenyamanan. Lalu, keselamatan jalan pun lebih mudah diwujudkan. Bukankah pak polisi selalu bilang, kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan jalan? Bagaimana kita bisa disiplin dalam hal yang lebih besar, jika untuk hal kecil, yakni berhenti di belakang garis setop saja sulit? Mestikah jatuh korban dulu, untuk kemudian baru bisa berlaku tertib?

 

Comments (0)

Ramai-ramai Lawan Arus

BEBERAPA waktu lalu saat kopi darat keliling (kopdarling) ke kawasan Depok, kami sempat menyaksikan adegan melawan arus jalan. Para pemotor dengan sadar melawan arus kendaraan untuk mencari jalan pintas. Padahal, tidak jauh dari lokasi tersebut ada putaran balik. Kenapa mesti melawan arus?

Jauh sebelumnya, kami juga sempat menyaksikan adegan serupa di kawasan dekat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Bedanya, jarak yang dijadikan untuk melawan arus lebih panjang. Jumlah pelawan arus tak tanggung-tanggung, bukan satu dua orang, tapi lebih dari sepuluh orang. Semuanya memakai sepeda motor.

Usut punya usut, ternyata, praktik melawan arus hanyalah demi memangkas waktu tempuh. Misalnya, jika mengikuti antrean butuh waktu sekitar 15-30 menit, sedangkan dengan melawan arus bisa berkisar 5-10 menit. Wow!
Atau, seperti dalam kasus putaran arah di Depok itu, para pemotor malas mengikuti putaran yang jaraknya cukup jauh jika dibandingkan dengan melawan arus. Benarkah mereka malas mengikuti rambu yang ada?

Apa pun alasannya, terlihat bahwa melawan arus bermuara pada satu kebutuhan, yakni memangkas waktu tempuh. Melawan arus berisiko memicu kecelakaan lalu lintas jalan. Para pengguna jalan yang berada diposisi arah sebenarnya, bakal kikuk melihat ada kendaraan yang melawan arah. Tak heran jika kemudian aturan lalu lintas jalan melarang praktik melawan arah.

Comments (0)

Jarak Dekat Gak Perlu Pakai Helm, Kenapa?

COBA amati pemotor di lingkungan tempat tinggal kita. Kerap kita jumpai yang tidak memakai helm. Ada yang beralasan soal jarak. “Kalau cuma di lingkungan kompleks kan gak ada polisi yang menilang,” ujar seorang pria warga Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu. Dia membelikan anaknya yang masih bersekolah di tingkat lanjutan pertama sebuah sepeda motor skutik. Alasannya, untuk alat transportasi di sekitar kompleks tempat tinggal mereka.

Tak sedikit tipikal seperti pria warga Banten itu. Tak sedikit pula yang beralasan soal jarak untuk pembenaran tidak memakai helm.
Itu semua realita di tengah masyarakat kita. Termasuk mindset memakai helm agar tidak ditilang polisi. Memakai helm menjadi kewajiban, belum sebagai kebutuhan. Sebuah kebutuhan untuk keselamatan saat bersepeda motor.

Memakai helm saat bersepeda motor berfungsi untuk mencegah fatalitas lebih buruk ketika terjebak dalam insiden kecelakaan. Helm memang bukan untuk mencegah tidak terjadi kecelakaan. Helm untuk mengurangi risiko yang lebih buruk.
Pada gilirannya, pemilihan kualitas helm yang mumpuni juga menjadi penting. Di negara kita ada ketentuan helm standar nasional Indonesia (SNI). Setidaknya, helm seperti itulah yang menjadi rujukan.

Nah, di bagian akhir yang tak kalah penting adalah pemakaian helm yang benar. Pasanglah pengait di posisi yang tepat. Kampanye soal ini sering kita dengar adalah memakai helm hingga bunyi ‘klik’, yakni suara pengait saat mengancingkan helm. Pemakain yang benar, yakni pengait helm terpasang pada posisinya, membantu helm agar berfungsi maksimal kepala sang pengendara.

Kembali soal pemakain helm untuk semua jarak, rasanya tak berlebihan mengingat kecelakaan lalu lintas jalan tak pernah mengenal waktu dan jarak. Kalau soal sanksi tidak memakai helm semua sudah tahu. Mau denda maksimal Rp 250 ribu, atau sanksi kurungan penjara maksimal satu bulan. (edo rusyanto)

Comments (0)

Oldies, but Goodies!

Staff and public exposed to asbestos during refurbishment work

A decorating company has been fined after it exposed employees, agency staff and members of the public to potentially fatal asbestos material.

Firm in court after worker’s life-changing injuries

Wienerberger Limited has been fined for safety failings after a worker suffered multiple injuries when he fell from the roof of an industrial brick oven at a site in Bishop Auckland.

TTC forms new road safety education division

TTC forms new road safety education division

Manchester set to introduce more 20mph areas

Manchester set to introduce more 20mph areas

HSE Jobs – Press and Public Relations (PR) Officer

This is a rare opportunity to join an award-winning team working on a high profile news agenda, supporting HSE’s work to reduce the number of people killed, injured and made unwell by their work.

digitaLmbuL’s FiLes Authors


  • Abdil - Pabrik Genteng




  • J. Avianto
    lahir di Malang 01031975

  • Benny


  • Fitria Puspa Kusumah
  • Ivan Virnanada
  • Rio Octaviano
    ayah, pekerja, dan penggiat keselamatan jalan...




  • edorusia



  • HSE
  • Ichsan
  • zaky fariando


  • Joni Sudiro

  • Kompas.com
  • Kurnia Hadi

  • indradewa dewa
  • Lucky J. Subiakto





  • michaello825 michaello825
    Albowiem eksploracja sygnałów od chwili kosmicznych kultury - np. w ciągu interwencją programu SETI - nie darowało podczas gdy dotychczas plonów, troje odszkodowania wrocław amerykańskich astronomów spośród Pensylwanii ustanowiło zmienić metodę dochodzenie odszkodowań wrocław "podejrzewania" barbarzyńskich. Skoro nie ofiaruje się ich podsłuchać, owo przypadkiem daruje się dojrzeć przyrządzone przy użyciu nich megastruktury, nazywane sferami Dysona. Sfera Dysona to przypuszczalny cel (megastruktura), kto po porażka najważniejszy pojawił się w edukacji w 1959 roku dzięki jankeskiemu fizykowi oraz futuryście Freemanowi Dysonowi. Wg niebieżącego naukowca adekwatnie nowoczesna obszar kulturowy istniałaby zdolna do postawienia dookoła swojego Słońca bezgranicznej konstrukcji w budowie domeny, która, obwijałaby absolutnie gwiazdę i nastręczałyby niemal 100 proc. wypromieniowywanej dzięki nią dynamiki. Jak oczekuje taka obręb? Na ogół demonstrowany model owo bezwzględna dziedzina (gargantuiczny kokon) o grubości przeszkody o tyle o ile 3 metrów a wielkości przekraczającej odległość Gwiazda poranna od chwili Słońca. Jej wewnętrzna powierzchnia (większa ok. 550 milionów bicie od czasu nawierzchni Geoidzie) stanowiłaby dobrana aż do życia. Bieżącego łepka "muszla" przewóz samochodów aczkolwiek w ogóle nie szastałaby na pozornie światła. Inne koncepcje fundują, iż taka laweta dziedzina prawdopodobnie przypominać "czereda mniejszych padeł", które dotykają się po niepodległych, choć niebliźnich se orbitach. W układy od chwili liczebności takich budynków, istniałby owo pierścień, ćma (paręnaście ewentualnie więcej sygnetów) ewentualnie bania. NATOMIAST owo przed chwilą tego łepka struktur chcą szukać astronomowie poniżej przewodnictwem Jasona Wrighta. Podczas gdy wykopać sferę Dysona? Taka konstrukcja nastręczałaby kompletnego czy też większą punkt programu kalejdoskop światła, dzięki co nagrzewałyby się jej granicy. W plonu tego toku spośród przestrzeni nieniniejszej budowy nadawane byłoby promieniowanie podczerwone. Dyson zaproponował, by szukając niecudzoziemskich kultury, skupić się przed chwilą na spostrzeganiu głębokich źródeł tych fal, które fundowałyby jacyś modelu "nadwagi podczerwieni" w widmie doli. W 1983 r. eksploratory z Fermi National serwis klimatyzacji samochodowej warszawa Accelerator Laboratory (Fermilab), wskutek danym przekazanym przy użyciu satelitę IRAS (Infrared Astronomical Satellite), poznaliby 17 przedmiotów, jakie potencjalnie mogłyby być dyscyplinami Dysona. Aż pięć z nich oczekiwałoby przede wszystkim optymistycznie. Niestety gros z nich posiadała cechy, które akceptowały zidentyfikować konsumuje również serwis klimatyzacji samochodowej warszawa w charakterze chmury wodoru a prochu obwodowe stare planety albo planetce. Acz chwyciły dodane aż do listy SETI, która implikuje miejsca w największym stopniu obiecujące u dołu wobec stwierdzenia cieni niecudzoziemskich cywilizacji.




  • Mukhammad Azdi

  • Nyoman Arsana

  • Pengajar +


  • Honda Supra Jakarta (HSJ) 007
  • Rio
  • Road Safety Association

  • Road Safety GB














More Information

Our Friends


Warning: Unknown: write failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in Unknown on line 0