RSA Tantang Faisal Basri Bikin Aksi Konkret
TATAPAN matanya tajam. Nada bicaranya tegas, tapi bersahabat. Tutur katanya terbalut kedalaman intelektual. Maklum, sehari-hari beliau adalah dosen. Dialah Faisal Basri. Sesuai peraturan, setiap calon independen di Jakarta minimal didukung oleh 4% dari penduduk atau sekitar 400 ribuan suara pada 2011 ini. Para pendukung harus melampirkan kartu tanda penduduk (KTP) sebagai wujud dukungannya. Kelak, KPUD akan memverifikasi validitas data dukungan tersebut. Bagi saya, selain bersiaran, para penyiar atau pengelola radionya juga perlu dibekali pengetahuan soal keselamatan jalan. Sehingga, dalam setiap kesempatan ketika bersiaran, bisa menyelipkan pesan-pesan keselamatan jalan. Dalam segala program selama Bens Radio memancar. Maklum, Jakarta sudah cukup menderita dengan belasan orang korban luka setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Bahkan, setiap hari rata-rata ada tiga korban jiwa akibat kecelakaan pada 2010. belum lagi, kerugian material akibat kemacetan jalan yang mencapai tak kurang dari Rp 1,7 triliun per tahun. (edo rusyanto)
Saya coba mengikuti alur pikir ekonom kondang yang kini berniat mencalonkan diri sebagai gubernur DKI Jakarta itu. Walau obrolan informal di sudut food court, samping lapangan futsal Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (11/10/2011) malam, Faisal Basri mengajak saya dan teman-teman berpikir rasional. Malam itu, kami dari Road Safety Association (RSA) Indonesia, menerima kunjungan dosen Universitas Indonesia tersebut. Selain kami, datang juga Ratna Yudita dari Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), lembaga yang concern soal Trans Jakarta.
Faisal Basri menceritakan niatnya menjadi calon gubernur dari kelompok independen. Tidak melalui jalur partai politik. “Saya baru punya 60 ribu dukungan suara,” kata dia, seraya menyeruput kopi hitamnya.
Faisal Basri yang menggandeng Biem Benjamin, putera tokoh Betawi almarhum Benyamin S itu, menempatkan program mengurai kemacetan dan trasportasi publik yang nyaman sebagai jurus pertama. Pria kelahiran Bandung, 6 November 1959 itu, memiliki lima jurus untuk mengelola Jakarta.
”Transportasi bagian dari penataan kota. Salah satu mengurai kesemrawutan lalu lintas jalan adalah dengan jangan asal memberi izin pembangunan,” tutur Faisal, sesekali mengepulkan asap kreteknya ke udara yang terasa dingin malam itu.
Terkait keselamatan jalan, saya dan ketua umum RSA Rio Octaviano mengajak Faisal Basri untuk membuat program konkret mengenai keselamatan jalan. Sontak, Faisal menawarkan langkah awal dengan bersiaran melalui jaringan Bens Radio. “Kita siarkan masalah keselamatan jalan melalui radio,” katanya.
“Tapi harus pakai pantun, biar asyik,” tukas Faisal Basri yang mengusung jargon “Berdaya Bareng-bareng”..
Program konkret lain terkait keselamatan jalan belum terlintas di benak Faisal Basri. Pastinya, kata dia, dirinya bakal komit untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat. Lantas saya sodorkan pemikiran, tak perlu menunggu jadi gubernur lantas berbuat sesuatu bagi masyarakat sekitar, khususnya soal keselamatan jalan. Faisal mengamini.


