Korban Lakalantas, Duka Kita Semua
Berita duka mencuat Senin (12/9/2011). Tabrakan angkutan umum elf dengan bus Sumber Kencono di Mojokerto, Jawa Timur. Sebanyak 19 nyawa melayang sia-sia. Belum hilang dari ingatan kita, sebuah angkutan travel terguling di jalan tol Cipularang, Jawa Barat, baru-baru ini. Sebanyak enam jiwa tewas. Dua kasus kecelakaan itu menambah deretan panjang korban-korban yang bergelimpangan di atas aspal. Indonesia patut super serius menangani masalah kecelakaan. Kita semua tahu, pada tahun 2010, setiap hari ada 85 nyawa tewas sia-sia di jalan raya akibat kecelakaan. Memilukan. Masih soal faktor manusia. Kebiasaan memeriksa kondisi kendaraan juga harus ditanamkan. Faktor kendaraan yang kerap kali menghantui kecelakaan adalah fungsi rem, kondisi ban, hingga pencahayaan. Dalam kasus angkutan umum, bisa jadi ada persoalan kelebihan beban angkut. Sang sopir dan kernet memaksakan jumlah orang dan barang yang diangkut guna mendapat uang lebih banyak.
Apa yang bisa kita lakukan? Selain senantiasa berdoa saat berkendara, mari kenali faktor-faktor pemicu kecelakaan. Ada tiga faktor utama, yaitu manusia, kendaraan, dan jalan atau lingkungan.
Tiga Faktor
Tidak mudah menentukan sebuah kecelakaan dipicu oleh faktor apa. Butuh investigasi yang komprehensif. Jangan-jangan dalam suatu kecelakaan ketiga faktor tadi menyatu. Kalau sudah begini pekerjaan rumah para stakeholder keselamatan jalan kian besar.
Faktor manusia menjadi dominan karena manusialah pengendali kendaraan. Unsur manusia mencakup beberapa hal, mulai keterampilan berkendara, fisik saat berkendara, hingga ketaatan pada aturan dan etika berkendara di jalan. Unsur fisik bisa jadi memagang andil vital, kondisi tubuh sedang sakit, lelah, hingga mengantuk.
Jika dikaitkan dengan kestabilan emosi saat berkendara, ceritanya bisa runyam lagi. Rasa marah dan emosional bisa meruntuhkan konsentrasi saat berkendara. Padahal, kita tahu, konsentrasi mutlak saat berkendara.
Ketika menyinggung infrastruktur jalan yang kurang memadai, rambu dan marka yang tidak jelas, penerangan jalan yang minim, plus cuaca tidak bagus, menambah risiko berkendara. Peluang kecelakaan bisa membesar.
Kita para pengendara, khususnya pemotor seperti saya, cuma bisa memperkuat diri dengan secara disiplin memeriksa kendaraan sebelum berkendara. Lalu, tidak memaksakan diri berkendara jika dalam kondisi fisik melemah.
Budaya keselamatan memang harus kita tanam sedari dini. Bila sudah mengakar, saya optimistis fatalitas kecelakaan bisa ditekan. (edo rusyanto)
