Featured Articles
11:23 am by lucky junan subiakto in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons
13092011
situasi slope di tol Cipularang
Pasca kecelakaan yang terjadi di tol Purbaleunyi, berbagai pendapat bermunculan seputar penyebab kecelakaan, dari mulai opini bahwa pengemudi yang lalai, adanya sebab mistis di lokasi kejadian, hingga adanya staff khusus presiden yang bilang bahwa kecelakaan di tol itu terjadi karena adanya pergeseran sesar Lembang dan Cisarua. Weleh..masyarakat diombang-ambing berbagai pandangan. Another Pembodohan Otomotif..?
Namun adakah yang menganalisa dari sisi teknis bin logis..? Ada dong.. Pak Ofyar Z. Tamin, dosen yang juga pakar transportasi ITB sudah memberikan opininya tuh, namun sayang pemberitaan media seolah lebih menyukai meliput sisi mistis dan termehek-mehek.
Comments (0)
11:04 am by lucky junan subiakto in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons

Televisi si kotak ajaib. Mereka merangsek ke ruang keluarga. Bak mantera, dia menyihir kehidupan masyarakat. Materi siaran yang disuguhkan bisa mengubah pemirsa dengan cepat.
Derasnya aneka program menyetir kehidupan masyarakat kota dan perdesaan. Siaran iklan secara vulgar maupun terselubung mendikte naluri konsumtif. Suguhan hiburan film dan musik mengubah gaya hidup. Sajian berita dan perbincangan mencuci otak kita. Daya saringlah yang menentukan kemampuan pemirsa menepis imbas negatif si kotak ajaib tersebut.
Comments (0)
7:56 am by lucky junan subiakto in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons
Berita duka mencuat Senin (12/9/2011). Tabrakan angkutan umum elf dengan bus Sumber Kencono di Mojokerto, Jawa Timur. Sebanyak 19 nyawa melayang sia-sia. Belum hilang dari ingatan kita, sebuah angkutan travel terguling di jalan tol Cipularang, Jawa Barat, baru-baru ini. Sebanyak enam jiwa tewas.
Dua kasus kecelakaan itu menambah deretan panjang korban-korban yang bergelimpangan di atas aspal. Indonesia patut super serius menangani masalah kecelakaan. Kita semua tahu, pada tahun 2010, setiap hari ada 85 nyawa tewas sia-sia di jalan raya akibat kecelakaan. Memilukan.
Apa yang bisa kita lakukan? Selain senantiasa berdoa saat berkendara, mari kenali faktor-faktor pemicu kecelakaan. Ada tiga faktor utama, yaitu manusia, kendaraan, dan jalan atau lingkungan.
Tiga Faktor
Tidak mudah menentukan sebuah kecelakaan dipicu oleh faktor apa. Butuh investigasi yang komprehensif. Jangan-jangan dalam suatu kecelakaan ketiga faktor tadi menyatu. Kalau sudah begini pekerjaan rumah para stakeholder keselamatan jalan kian besar.
Faktor manusia menjadi dominan karena manusialah pengendali kendaraan. Unsur manusia mencakup beberapa hal, mulai keterampilan berkendara, fisik saat berkendara, hingga ketaatan pada aturan dan etika berkendara di jalan. Unsur fisik bisa jadi memagang andil vital, kondisi tubuh sedang sakit, lelah, hingga mengantuk.
Jika dikaitkan dengan kestabilan emosi saat berkendara, ceritanya bisa runyam lagi. Rasa marah dan emosional bisa meruntuhkan konsentrasi saat berkendara. Padahal, kita tahu, konsentrasi mutlak saat berkendara.

Masih soal faktor manusia. Kebiasaan memeriksa kondisi kendaraan juga harus ditanamkan. Faktor kendaraan yang kerap kali menghantui kecelakaan adalah fungsi rem, kondisi ban, hingga pencahayaan. Dalam kasus angkutan umum, bisa jadi ada persoalan kelebihan beban angkut. Sang sopir dan kernet memaksakan jumlah orang dan barang yang diangkut guna mendapat uang lebih banyak.
Ketika menyinggung infrastruktur jalan yang kurang memadai, rambu dan marka yang tidak jelas, penerangan jalan yang minim, plus cuaca tidak bagus, menambah risiko berkendara. Peluang kecelakaan bisa membesar.
Kita para pengendara, khususnya pemotor seperti saya, cuma bisa memperkuat diri dengan secara disiplin memeriksa kendaraan sebelum berkendara. Lalu, tidak memaksakan diri berkendara jika dalam kondisi fisik melemah.
Budaya keselamatan memang harus kita tanam sedari dini. Bila sudah mengakar, saya optimistis fatalitas kecelakaan bisa ditekan. (edo rusyanto)
Comments (0)
7:49 am by lucky junan subiakto in Automotive,Headline,Horse,POLICE STORY,RETRO,Weapons
Sepekan menjelang hari raya Idul Fitri dan sepekan sesudahnya, perhatian terhadap pemotor meninggi. Media massa pun bak mendapat angle berita yang tak ada habisnya. Pengendara motor menjadi obyek perhatian dadakan.
Fokus perhatian pada satu titik, pemotor sumber kecelakaan lalu lintas jalan. Motivasi kepedulian pada pemotor pun beragam, ada yang karena tugas dan kewajibannya. Lalu, ada yang karena latar belakang ekonomi bisnisnya. Sedikit yang karena ikhlas peduli atas nama kemanusiaan. Paling repot kalau latar belakang pencitraan politis. Kalau yang ini pasti butuh timbal balik berkepanjangan. Tak ada makan siang yang gratis.
Mayoritas pemakai sepeda motor adalah anak-anak bangsa yang mencoba bertahan hidup. Mereka mencari alternatif moda transportasi untuk bertahan hidup. Motor sebagai solusi mobilitas dalam mengais rejeki. Maklum, transportasi umum belum memadai.
Di sisi lain, kondisi ini menjadi peluang bisnis amat manis. Puluhan triliun rupiah omzet bisnis sepeda motor setiap tahunnya. Para pemain bisnis ini, jika memiliki kepedulian kepada pemotor, bersifat semu. Lebih kepada upaya merawat kepercayaan sang konsumen pada produsen. Termasuk yang seperti ini adalah para pemain jasa keuangan yang terkait penjualan si kuda besi.
Kelompok yang peduli karena tugas dan kewajibannya tentu beralasan agar pekerjaannya berprestasi. Pemotor menjadi obyek pelik manakala statistik kecelakaan membubung terus. Santunan harus terus digelontorkan. Walau pundi-pundi pendapatan pajak terus gendut.
Bagaimana dengan para pemotornya sendiri?
Pemotor tentu punya cara untuk bertahan dari risiko yang mengancam. Ada yang terus meningkatkan keterampilan berkendara. Ada pula yang terus mencari tahu mengurangi risiko. Umumnya secara berkelompok sebagai kekuatan akar rumput. Tapi tak sedikit yang tak mau ambil pusing. Mengalir begitu saja.
Semestinya getok tular soal segala risiko berjalan dua arah. Mereka yang lebih dulu tahu berbagi kepada yang awam. Sebaliknya, kelompok yang minim informasi bertanya pada sipemilik informasi. Peer education lebih leluasa menyampaikan pesan.
Setiap sel yang bergerak peduli terhadap pemotor bakal meraksasa dan berimbas signifikan jika terangkum dalam satu wadah dan dirigen skala besar juga. Maklum keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan masih tinggi, tahun 2010, kontribusinya mencapai sekitar 53%.
Butuh andil pengambil keputusan dan media massa dalam menasionalkan gerakan peduli pemotor. Regulasi kita memungkinkan hal itu. Lihat saja Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Disitu ada yang namanya Forum Lalu Lintas Jalan. Strukturnya mulai tingkat nasional hingga daerah.
Pertanyaannya, sudah lebih dari dua tahun kapan Forum itu terwujud? Jangan-jangan tidak ada kemauan politis untuk mewujudkannya. (edo rusyanto)
Comments (0)