Depresi Dapat Memicu Penyalahgunaan Zat Berbahaya
Gangguan suasana hati dapat meningkatkan risiko untuk melakukan penyalahgunaan zat yang dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap stres atau penyakit. Sebuah studi baru menemukan bahwa penggunaan kokain dapat meningkatkan keparahan depresi. Penelitian, yang diterbitkan oleh Cell Press memantau perkembangan pengobatan baru untuk gangguan mood yang berhubungan dengan penyalahgunaan zat.
"Bukti klinis menunjukkan bahwa penyalahgunaan zat dapat meningkatkan risiko individu untuk gangguan mood," kata Dr Eric Nestler dari Gunung Sinai School of Medicine. Namun, meskipun hal ini mungkin dimediasi oleh obat-induced yang mengubah respon terhadap stres, mekanisme yang mendasari fenomena ini sebagian besar belum diselidiki.
Dr Nestler dan tim menguji apakah histon H3 lisin 9 dimethylation (H3K9me2) memiliki peran dalam penggunaan kokain terhadap depresi seperti perilaku. Histon ditemukan dalam DNA kromatin, dan mengubah kelompok metil histon untuk mengubah ekspresi gen. Penurunan H3K9me2 mencerminkan penurunan jumlah kelompok metil histon, dan penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan antara metilasi histon dan gangguan mood.
Para peneliti menemukan bahwa kokain dapat meningkatkan kerentanan tikus terhadap stres dan penurunan H3K9me2 di nucleus accumbens, pusat utama pada otak dimana mekanisme sentral menghubungkan kokain dengan kerentanan stres. Yang penting, sebuah enzim yang disebut G9a mengontrol H3K9me2 dalam nucleus accumbens untuk meningkatkan kerentanan binatang terhadap stres, sementara kelebihan G9a di wilayah yang sama diblokir oleh kemampuan kokain dalam meningkatkan stres.
Para peneliti kemudian menunjukkan bahwa ketahanan G9a-dimediasi untuk stres dimediasi, melalui represi dari jalur sinyal BDNF-TrkB-CREB. Hal ini penting karena sinyal BDNF-TrkB-CREB meningkat dalam nucleus accumbens oleh paparan stres atau kokain dan mempengaruhi depresi atau perilaku adiktif. Mengidentifikasi mekanisme seperti peraturan umum dapat membantu dalam pengembangan terapi baru untuk kecanduan dan depresi."
*Sumber : sciencedaily.com/Kartika Maharani