Tubuh Dapat Menjadi Detektor Kecelakaan Pada Mobil
Peneliti Jerman telah menggunakan sinyal otak pengemudi, untuk membantu pengereman dan memberikan waktu reaksi lebih cepat serta solusi untuk ribuan kecelakaan mobil yang disebabkan oleh kesalahan manusia. Dengan menggunakan electroencephalography (EEG), sebuah teknik dengan elektroda yang menempel pada kulit kepala. Dengan sistem ini, para peneliti dapat mendeteksi niat pengemudi 130 milidetik lebih cepat daripada respon pedal rem normal
Penelitian yang diterbitkan dalam IOP Publishing Journal of Teknik Syaraf, mengidentifikasi bagian otak yang paling aktif ketika pengereman dan menggunakan simulator mengemudi dapat membantu kelangsungan hidup pengemudi. Peneliti, dari Institut Teknologi Berlin memilih untuk memeriksa myoelectric (EMG) yang menyebabkan ketegangan otot pada tungkai bawah dan digunakan untuk mendeteksi gerakan kaki sebelum menginjak pedal rem.
Sebuah perkembangan baru diimplementasikan pada studi ini. Dimana sistem hibrida pada laser eksternal dan sensor dapat memprediksi sebelum kecelakaan terjadi. Sehingga begitu pedal disentuh, kendaraan akan masuk ke sebuah prosedur pengereman darurat.
Penulis utama studi Haufe Stefan mengatakan, rata-rata semua sistem deteksi yang menggunakan sensor dapat mendeteksi situasi darurat 130 milidetik lebih awal dari sistem yang tidak menggunakan EEG dan EMG. Kita dapat mengatakan bahwa hal ini terutama EEG yang mengarah ke deteksi dini. Kini kami sedang mempertimbangkan penguji sistem online dalam mobil. Namun jika teknologi memasukkan secara komersial, tentu akan melengkapi teknologi untuk menghindari konsekuensi dari alarm palsu yang dapat mengganggu dan berbahaya.
*Sumber : sciencedaily.com/Kartika Maharani