Mahalnya Harga Sebuah Bangku

bangkuPendidikan di Indonesia tampaknya belum bisa dinikmati oleh seluruh lapisan. Andika Imam Taufik (9), siswa kelas III SD Negeri Kotakusuma, Sangkapura, Bawean, harus membawa kursi plastik sendiri dari rumahnya karena tak mampu membayar "biaya kursi" yang ditetapkan pihak sekolah.

Andika yang merupakan siswa kelas unggulan ICP (International Class Program) di sekolahnya terpaksa mendapat perlakuan berbeda di sekolah. Untuk memasuki tahun pelajaran baru setiap siswa ICP, diharuskan membayar biaya sebesar Rp 324.000 sesuai ketentuaan pihak sekolah. Tidak termasuk biaya beli kursi yang nilainya Rp 55.000. Keluarga Andika hingga kini belum bisa membayar biaya sekolah termasuk ‘biaya kursi’ sekolah. Demi sang anak, Musnada (35) ibunda andika pun nekad membeli kursi plastik sendiri ke pasar, meskipun dengan cara kredit agar gang buah hati dapat bersekolah.

Musnada menjelaskan, ia mendapatkan informasi dari tetangga yang putranya juga sekelas dengan Andika bahwa ada rapat wali murid yang menyebutkan penarikan uang kursi sebesar Rp 55.000. “Saya tidak ikut rapat dan saya juga tidak membayar karena belum ada uang. Biasanya bayarnya di belakang saat semesteran atau saat dapat uang waktu Lebaran,” terang Musnada, yang kini menjadi orangtua tunggal setelah suaminya meninggal dunia dua tahun lalu, dengan pemasukan dari berjualan jamu, dalam sehari rata-rata ia mengantongi Rp 20.000 hingga Rp 35.000.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Kotakusuma, Hadi Suwoyo, mengatakan akan mengevaluasi kebijakan lama yang sudah tidak bisa diterapkan kembali, dan melanjutkan program yang selama ini telah berjalan dengan baik.

 

 

*Sumber : surya.co.id/Kartika Maharani

Leave a Reply

CommentLuv badge

Mahalnya Harga Sebuah Bangku

bangkuPendidikan di Indonesia tampaknya belum bisa dinikmati oleh seluruh lapisan. Andika Imam Taufik (9), siswa kelas III SD Negeri Kotakusuma, Sangkapura, Bawean, harus membawa kursi plastik sendiri dari rumahnya karena tak mampu membayar "biaya kursi" yang ditetapkan pihak sekolah.

Andika yang merupakan siswa kelas unggulan ICP (International Class Program) di sekolahnya terpaksa mendapat perlakuan berbeda di sekolah. Untuk memasuki tahun pelajaran baru setiap siswa ICP, diharuskan membayar biaya sebesar Rp 324.000 sesuai ketentuaan pihak sekolah. Tidak termasuk biaya beli kursi yang nilainya Rp 55.000. Keluarga Andika hingga kini belum bisa membayar biaya sekolah termasuk ‘biaya kursi’ sekolah. Demi sang anak, Musnada (35) ibunda andika pun nekad membeli kursi plastik sendiri ke pasar, meskipun dengan cara kredit agar gang buah hati dapat bersekolah.

Musnada menjelaskan, ia mendapatkan informasi dari tetangga yang putranya juga sekelas dengan Andika bahwa ada rapat wali murid yang menyebutkan penarikan uang kursi sebesar Rp 55.000. “Saya tidak ikut rapat dan saya juga tidak membayar karena belum ada uang. Biasanya bayarnya di belakang saat semesteran atau saat dapat uang waktu Lebaran,” terang Musnada, yang kini menjadi orangtua tunggal setelah suaminya meninggal dunia dua tahun lalu, dengan pemasukan dari berjualan jamu, dalam sehari rata-rata ia mengantongi Rp 20.000 hingga Rp 35.000.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Kotakusuma, Hadi Suwoyo, mengatakan akan mengevaluasi kebijakan lama yang sudah tidak bisa diterapkan kembali, dan melanjutkan program yang selama ini telah berjalan dengan baik.

 

 

*Sumber : surya.co.id/Kartika Maharani

Leave a Reply