Kepintaran Burung Beo
Seekor burung Beo ternyata memiliki kemampuan atau kecerdasan yang hampir setara dengan anak kecil seusia 4 tahun. Hal ini dibuktika melalui sebuah penelitian di mana burung beo abu-abu bernama Awisa menggunakan penalaran untuk mencari tahu di mana letak makanan yang tersembunyi. Tugas yang merupakan salah satu hal yang dapat dilakukan oleh anak seusia 4 tahun. Penalaran ini diketahui juga mampu dilakukan oleh jenis kera besar. Hal tersebut mampu membuat beo abu-abu menjadi hewan non-primata pertama yang menunjukkan kecerdasan logis, ujar peneliti Sandra Mikolasch, seorang calon doktor di Universitas Wina.
Beo merupakan burung yang cerdas. Bahkan Alex Seekor burung beo abu-abu mampu memahami konsep “nol,” sesuatu yang tidak dipahami anak-anak sampai mereka berusia 3 atau 4 tahun. Tak hanya itu saja, ia juga memiliki kemampuan untuk menguasai kosakata 150 kata, yang ia gunakan dalam komunikasi dua arah dengan para peneliti.
Untuk melihat apakah burung beo lain bisa melakukan hal yang sama, Mikolasch dan rekan-rekannya melatih tujuh ekor burung beo abu-abu untuk memilih antara cangkir mana yang pernah mereka lihat terdapat makanan tersembunyi dan cangkir mana yang tidak ada makanannya. Dalam satu tes, ia menyembunyikan sepotong makanan (biji-bijian) dalam satu cangkir dan sepotong makanan lainnya (seperti kenari) dalam cangkir lain selagi burung beo mengamatinya.
Selanjutnya, ia mengangkat salah satu cangkir, menunjukkan makanan di dalamnya pada burung beo dan kembali menyembunyikannya, atau dia mengangkat cangkir, menunjukkan makanan pada burung beo, lalu menaruh makanan itu ke dalam sakunya. Kemudian beo harus memilih salah satu cangkirnya.
Pada percobaan keduanya, Mikolasch melakukan hal yang sama, namun kali ini melakukannya di belakang layar buram. Burung beo hanya melihat dia memegang sepotong makanan yang dia singkirkan, tapi tidak melihat saat dia menyingkirkannya. Jika menggunakan kecerdasan mereka, pastilah tahu bahwa cangkir yang pernah diletakkan makanan sekarang sudah kosong. Para peneliti mengontrol percobaan ini untuk memastikan hasilnya bukanlah hasil dari penciuman burung pada sisa makanan.
Tiga dari tujuh ekor beo terbukti cukup baik dalam memilih sebuah cangkir berisi makanan dalam percobaan di mana mereka pernah melihat peneliti menyingkirkan atau kembali meletakkan makanan ringan, dengan tingkat keberhasilan setidaknya 70 persen, secara signifikan lebih baik daripada kebetulan. Namun dalam percobaan di mana makanan telah disingkirkan di belakang layar dan kemudian ditunjukkan pada beo, hanya seekor beo betina berusia 13 tahun dari beo tadi, yang tahu mana makanan yang tersisa, memilih cangkir yang tepat dengan tingkat keberhasilan 76 persen.
Keberhasilan tersebut mungkin dikarenakan dia adalah burung beo ajaib, sama halnya pada anak di kelas matematika yang selalu dapat nilai A-plus, kata Mikolasch. Ada juga kemungkinan bahwa burung-burung lainnya mampu melakukan penalaran logis, namun sesuatu tentang kondisi tes cukup mengganggu atau membingungkan mereka.
Pada studi sebelumnya, Mikolasch mengatakan, 18 dari 20 anak berusia 4 tahun mampu membuat lompatan logis yang sama seperti beo betina tadi. Menariknya, para peneliti menemukan bahwa burung beo memiliki kemampuan untuk “belajar menalar” tentang apa yang dilakukan peneliti di belakang layar, kata Mikolasch.
*Sumber : faktailmiah.com