Dua Mata Kuliah Baru
Dua mata kuliah baru akan hadir untuk meramaikan dunia kampus, Mata kuliah baru tersebut adalah Syariah dan Hak Asasi Manusia. hal ini terkait dengan Komunitas pengajar perguruan tinggi Islam atau studi Islam pada perguruan tinggi umum di Malang yang meyakini akan dapat merubah paradigma pendidikan syariah selama ini dan menjadi pendekatan yang konkrit terhadap upaya mengikis radikalisme pada generasi muda selama ini.
Hal tersebut terungkap dalam acara konferensi pakar pada Kursus Tingkat Master studi Syariah dan Hak Asasi Manusia yang diselenggarakan pada Senin (13/6/2011) hingga Rabu (15/6/2011) di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang, bekerjasama dengan Norwegian Centre of Human Rights (NCHR), dari Norwegia.
Guru besar sosiologi agama Program Pasca Sarjana UMM Prof Dr Syamsul Arifin menjelaskan, di dunia pemikiran syariah post modern, untuk dikategorikan selain pemahaman syariah versi abad pertengahan dan versi modern, relasi antara syariah dan hak asasi manusia telah berhasil dirumuskan dengan jelas. Dimana keduanya merupakan dua hal yang berbeda.
Kontroversi yang selama ini terjadi, apakah syariah dan hak asasi manusia kompatibel atau tidak kompatibel, sudah berhasil dijawab, bahwa kompatibel. Persoalan-persoalan yang muncul yang mengiringi tindak terorisme dan radikalisme dan jihad Islam selama ini dapat diatasi dengan membentuk model pendidikan, yang meski sulit dan berat, namun merupakan tantangan kemanusiaan, demi menyelamatkan kemanusiaan itu sendiri,tambahnya.
Menurutnya, hak asasi manusia tidak mengurus hal-hal terkait peribadatan, namun diurus oleh hukum-hukum syariah. Sehingga sejumlah guru besar syariah moderat tidak ragu-ragu untuk menyatakan, bahwa ada kesesuaian antara hak asasi manusia dengan syariah. Bahkan syariah yang teosentris (berpusat pada Tuhan) berpotensi untuk memberikan landasan penguatan pada hak asasi manusia yang antropopsentris (berpusat pada manusia) yang didasarkan pada deklarasi universal hak asasi manusia PBB (DUHAM PBB),katanya.
*Sumber : Kompas.com