Hey! Mau kamu apa?
Saya memang pengguna kendaraan pribad dalam keseharian aktifitas, roda dua dan juga roda empat, hanya saja, akhir-akhir ini ada satu tujuan saya yang bisa di cover oleh tranportasi publik yang paling aman dan nyaman di kota ini, yaitu Transjakarta, atau yang lebih dikenal sebagai Busway.
Setiap kali perjalanan saya, selalu saja terbayangkan, apabila fasilitas transportasi publik ini disempurnakan, maka saya yakin, sebagian besar masyarakat ibukota ini akan berpaling dari kendaraan pribadinya. Bagaimana tidak, pengguna dimanjakan dengan kemudahan yang didapat, yaitu, tidak usah berpusing ria memikirkan kapan harus pindah persneling, atau kapan haru membelok, semuanya sudah dilakukan oleh paramudi transjakarta ini.
Walaupun memang, kualitas yang masih dalam perkembangan, tapi ini adalah langkah yang sangat baik dalam mengurai kemacetan dan kecelakaan di ibukota. Seperti, pintu otomatis halte yang sudah rusak, antrian panjang karena kurangnya armada di salah satu rute, bis yang sudah rusak (maklum, kendaraan bekas), tapi kembali lagi, diluar dari itu, ini adalah terobosan terbaik yang pernah ada, dibandingkan masukan untuk memperlebar ruas jalan, bayangkan, air yang tidak kembali ke bumi sudah terlalu banyak, akibat pembangunan secara sporadis yang terjadi.
Di lain hal, ketika saya menikmati perjalanan di dalam bus transjakarta, saya sering melihat mereka para “perampas hak” dengan seenaknya menggunakan lajur ini. “Hey! Mau kamu apa?!”, mobil atau motor itu demikian egoisnya, sehingga masih harus mementingkan kepentingan pribadi, “kamu butuh waktu? Kami semua juga butuh waktu”, apakah tidak terbesit didalam otak mereka yang sebagian adalah otak-otak dengan intelektualitas tinggi, bahwa, kendaraan mereka hanya menampung beberapa di dalamnya, bahkan tidak sering saya melihat “single driver” di dalam mobil nya, apalagi motor, bandingkan dengan jumlah satu bus yang lewat di jalur tersebut?.
Manuver hebat yang sering ditunjukan oleh pengendara sepeda motor sering membuat saya menahan napas beberapa mili detik, tahukah mereka, viewable area di dalam bus itu? Dan mekanisme rem dalam bus, atau lainnya yang berkaitan dengan bus berikut dimensi yang sangat luar biasa itu?.
Pejalan kaki yang seenaknya saja menyebrang di busway? lucunya, tepat diatas kepalanya adalah jembatan penyebrangan.
Lihatlah hard median yang membujur itu, itu bukan batu nisan yang anda bisa ambil ketika anda mati ditabrak, atau sebuah batu asahan bila bodi mobil anda tersenggol bus, itu adalah peringatan, bung!
Peduli setan dengan perseteruan antara instansi, tapi ini adalah permasalahan pelik yang harus ditangani bersama-sama, tanpa melihat jumlah uang yang bisa di dapat tentunya, tapi mari lihat efek ke depan, lihat nyawa, lihat kecelakaan yang terjadi, lihat penumpukan polusi akibat pertumbuhan dunia otomotif yang begitu cepat.
Apakah sudah sedemikian jauh mundurnya mental pengguna jalan kita? Yang saya lihat adalah, mereka yang mengaku pintar, justru terlihat bodoh, mereka yang mengaku kaya, justru dipertanyakan darimana kekayaan itu? Apakah hasil dari merampas hak orang lain juga?
SANGAT SETUJU KANG… PERBUATAN ITU MENCERMINKAN SIFATNYA.
Reply
bah!
mana ada itu, jalur busway udah bikin sempit jalur umum, isinya juga gak seberapa, kalau pagi butuh buru-buru selalu penuh, wong armada gak banyak, isinya sempit, brenti di satu terminal aja udah langsung penuh. apalagi kalau harus transit dengan berjalan kaki 1 kilo di dukuh atas, trayeknya juga cuma jalan protokol, ke tempat tujuan masih harus nyambung lagi jalan kaki / ngangkot.
mau kamu apa ?
gara-gara busway jalur jalan di potong sama egoisnya busway, dipake sendirian!!
justru busway yang nyerobot dan ngangkangi jalan umum, yang semula lebar jadi sempit!!
kenapa gak sekalian monorel di selesaiin, lebih manfaat, gak motong jalan …..
saya lebih setuju seperti yang berlaku di surabaya sekarang, jalur mobil di pisah dengan jalur sepeda motor. yang bikin tambah gak karu-karuan ya biker, kagak pernah mau ngalah, ada lowong dikit aja nyerobot, zig-zag, bahkan sampai naik trotoar.
bah!
Reply