Balada Sang Aparat
Ada baiknya aku menyembunyikan nama dari narasumberku ini, karena mengingat pihak swasta yang meradang lalu menuntut, bagaimana instansi pemerintahan?.
Sebutlah Jhoni, seorang aparat penegak hukum dari salah satu instansi. Beliau sudah bekerja puluhan tahun mengabdi kepada negara, aku sendiri sudah mengenalnya dari tahun 1995 dulu. Sebagai pemerhati keselamatan berkendara, aku sengaja berbicara dengannya sebagai teman. Sebetulnya aku ingin mengeluhkan bagaimana koordinasi antar instansi maupun koordinasi internal yang berjalan selama ini sangat lemah. Pembicaraan itu dimulai dari topik UU Lalu Lintas yang baru saja di sahkan.
Aku sendiri selalu berusaha objektif dalam menilai semuanya, dan memang aku katakan kepadanya, bahwa aku sangat mengerti bagaimana seorang petugas lapangan menjalani sebuah tugas. Aku sendiri yang pernah bekerja lapangan merasakan sulitnya ketika berhadapan langsung dengan masalah real di lapangan, walaupun dalam konteks kerja yang jauh berbeda, tapi secara environment aku rasa tidak jauh beda, antara lain, panas yang menyengat, kelakuan perorangan, sampai kepada polusi yang menyesakkan dada.
Ketika beliau ini menanyakan kepadaku, “apa solusi yang anda bisa berikan dalam masalah lalu lintas kita ini?”, kontan aku menjawab dengan segala sumpalan yang ada di benakku, yaitu penegakkan hukum yang tegas, bahakn terucap olehku, sesuatu yang sangat ekstrim dalam penegakan hukum tersebut, “kalo perlu di tembak di tempat, tembak saja pak..toh mereka juga membahayakan nyawa orang lain” tapi kalimat itu sebeulnya hanya sebagai kiasan, kiasan tersebut juga tidak terlalu berlebihan bila menurutku, karena memang jalanan adalah popular killing machine pada saat ini. Lalu beliau menjawab dengan bijak, bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan, akan banyak letupan sosial yang terjadi, dan ini sebetulnya akan menyulitkan. Tidak mau kalah, aku juga menyatakan, bahwa kami akan siap meredam letupan-letupan yang akan terjadi.
Dalam kesempatan lain, beliau juga mengungkapkan, betapa sulitnya menegakkan hukum di jalan raya, beliau mencurahkan isi hatinya tentang bagaimana sebetulnya yang terjadi di jalan raya menurut versi beliau sendiri. “Apakah anda tahu, bahwa kami dibiarkan sendiri ketika terjadi masalah di jalan?” ucap beliau, dalam hatiku aku bertanya, “ada apa lagi ini?”. Ternyata pada saat bertugas, beliau dan rekan-rekannya sering dihadapkan oleh orang-orang “pintar”, yang tidak segan-segan memakai jabatan atau bahkan rekanan untuk bebas dari jeratan hukum di jalan. Ya, orang-orang “pintar” dengan jabatan dan rekanan yang berulah, yang sering bertingkah bagaikan seekor anjing kampung yang tidak tahu malu. “Sering kami dipanggil dan di marahi atasan kami, hanya karena kami salah menangkap orang”, rupanya dukungan dari atasan mereka tidak lagi setegas ketika mereka menginstruksikan untuk selalu melakukan penegakkan hukum di jalan, para atasan itu hanya menjadi “yes man” dari atasannya lagi, mirip dengan teori rantai makanan di alam, yang besar dan kuat akan selalu memakan yang kecil, korbannya siapa? Ya mereka yang posisinya paling bawah alias para pelaksana tugas lapangan tersebut. Tidak ada dukungan dari atasan menandakan tidak ada keseriusan didalam penegakkan hukum, seharusnya yang berada di dalam substansi penegakkan hukum harus selalu dikedepankan, bukannya malah menekan yang paling kecil.
Pfuih…berat juga yah, tapi tidak sampai disitu keluhan mereka, mereka mengakui adanya monitoring dari atas yang di tugaskan untuk mengawasi kinerja mereka. Wah, ini sangat hebat, hal yang selama ini aku pikir tidak pernah ada, ternyata memang sudah di jalankan. Tidak lama kekagumanku itu, lalu dipecah dengan pernyataan, bahwa beliau pernah ditangkap, karena menerima pemberian dari orang lain, beliau menanyakan, yang masuk di dalam pasal itu, meminta atau menerima? Kalau memang menerima, berarti semua bakti sosial kami kemarin melanggar kode etik instansi tersebut yah? Hmmm….Belum sampai disitu, setelah beliau berdebat panjang, ternyata mereka yang bekerja sebagai pemonitor itu pun masih meminta upah dari beliau…semua ini diceritakan dengan raut muka yang marah dan seakan memintaku untuk menyampaikan keluhan ini ke top level dari instansi tersebut. Belum lagi tentang perawatan kendaraan yang digunakan untuk berkeliling, ternyata semua biaya perawatan keluar dari kocek pribadi. Menyedihkan..
Sabar Pak Jhoni, kebenaran akan selalu menang, kebathilan akan selalu berakhir pada jurang neraka. Berjuang terus, pak..kami akan berusaha mendukung sekuat kami.



Itulah Indonesia…………….. Jayalah Negeriku Jayalah Bangsaku….. Kapan ya?
[Reply]
wahhh… parah jg y…..!! hmmmmm.. kpn brubahnya y negara ini.. dari petinggi negara sampai yang kecil nglakuin korupsi…! hmmm.. smga allah mmbrikan hidayah untuk para pjabat dan rakyat yang korupsi.. amin…!!
[Reply]