Berkendara itu tidak pernah MURAH!
“mahal amat sih mao bawa motor doang?!?!”
Kalimat diatas sering terdengar oleh kuping saya ini, dan sebuah kalimat yang sangat memprihatinkan. Ketika banyak orang menganggap berkendara itu hanya sekedar “glinding” di jalan raya.
Berkendara dengan motor, idealnya adalah, menggunakan helm standar keselamatan (entah SNI, DOT, SNELL, atau lainnya), menggunakan jaket, sarung tangan, celana panjang, sepatu, terkadang ada tambahan buat yang ekstra, yaitu elbow dan knee protector.
Untuk apa? tentunya tidak perlu men-detail penjelasan fungsi dari masing-masing perlengkapan tersebut. Pada intinya, semuanya adalah usaha kita dalam menghargai badan kita, dan juga menghargai keberadaan keluarga kita. Koq gitu? Pada saat kita melindungi badan kita, berarti kita menghargai badan kita dari goresan atau robekan, pada saat kita melindungi badan kita, berarti kita menghargai orang-orang yang perhatian dengan kita, mereka tidak perlu mengeluarkan dana lebih, dan tenaga lebih untuk mengurus anda ketika kecelakaan.
Tentunya, perlengkapan itu adalah sia-sia bila kita tidak imbangi dengan attitude berkendara di jalan raya. Jika kita bisa menghargai diri kita sendiri dan keluarga kita, berarti kita akan dengan mudah menghargai dan menghormati seluruh pengguna jalan. Dengan mudah, kita dapat mendeskripsikan keselamatan yang dijaga untuk badan ini, juga perlu untuk badan mereka. Kita tidak akan menjadi pembunuh di jalan, kita tidak menjadi preman yang menganiaya pengguna jalan lain dengan kecerobohan dan ke-egois-an diri kita di jalan. Ya..membunuh dengan cara berkendara kita yang tidak memperhatikan situasi, yang mengakibatkan kecelakaan yang mungkin saja berakibat fatal untuk mereka.
Murahnya berkendara, sebetulnya diciptakan oleh beberapa pihak yang selalu mengambil keuntungan di tengah-tengah darah yang tercecer di jalan, di tengah-tengah tangis pilu kehilangan anggota badan, bahkan tangis pilu kehilangan anggota keluarga.
Berapa banyak penyedia barang, dalam hal ini sepeda motor, yang berlomba-lomba memberikan harga murah? Bahkan ada beberapa oknum penjual, yang tidak lagi melayani penjualan dengan pembelian tunai?. Masuk akal…dari penjelasan Bro Edo sebagai LitBang RSA, bahwa dealer lebih tertarik dengan menjual barang dengan cara leasing, karena pihak leasing lebih menjanjikan keuntungan lebih dalam penjualan melalui mereka, seperti keuntungan bolak-balik, yaitu yang didapat dari penjualan juga didapat dari cash back. Bahkan menurut beliau, negara di untungkan sebesar hampir 73 miliyar rupiah di dalam penjualan kendaraan bermotor ini. Sudah sangat jelas, sebuah idealisme-idealisme yang diemban oleh RSA sangat sulit untuk berkembang, karena ada faktor profit besar yang berbicara disini.
Semua kampanye yang berkedok CSR, lebih banyak terlihat seperti iklan produk dalam kapasitas besar, karena memang tidak akan pernah bisa menyentuh kepada dasar dari permasalahan. Seperti yang kita ketahui, di Jepang, angka kecelakaan bermotor menurun berbanding lurus dengan menurunnya penjualan kendaraan bermotor itu sendiri. Di Italy, sepeda motor di berikan sebuah image “kendaraan paling tidak aman” di mata masyarakat, paling tidak ini info yang saya dapatkan dari teman saya yang baru pulang dari sana.
Apa yang bisa menyentuh akar masalah? Filtrasi!.
Harus adanya birokrasi tegas dari pemerintah dalam pembatasan penjualan kendaraan bermotor, dan tentu saja pengawasan, hal ini yang paling buruk dalam penilaian sistem di negara ini.
Tidak usah muluk-muluk untuk melakukan pembatasan jumlah kendaraan bermotor, tapi coba, batasi pembeli, gunakan screening ketat dalam penjualan kendaraan bermotor.
Seperti,
- apakah ada tempat cukup di rumahnya untuk meletakkan kendaraan?
- buat tes berkendara dan psikotes independen, karena masih jauh untuk mengharapkan kinerja sistem negara ini.
Dua hal diatas adalah hal yang sepele dalam kasat mata, tapi saya yakin, ini akan jauh lebih efektif daripada kita menunggu sebuah sistem negara Indonesia menjadi sempurna. Keyakinan saya juga bertambah, ketika saya mengingat, yang menjalankan ini adalah pihak swasta, dimana kredibilitasnya masih jauh diatas kredibilitas instansi pemerintahan.
Kenapa saya terlihat sangat pesimis dengan kinerja pemerintah? Silahkan cari jawabannya dari pengalaman berkendara di jalan raya.
memang sekarang jaman2 komersil bang
assasincreeds last blog post..Star Warriors
Reply
tuh motor bebek diberangus aja..jangan diproduksi lagi. alasannya cukup jelas. mencegah orang bodoh untuk meramaikan jalan dengan style riding urakannya.
tentunya ini harus dibarengi dengan perbaikan sarana mass transport. agar si bodoh bisa tidur pulas di dalam busway yang nyaman sampai di tujuan.
di negara lain motor itu kendaraan eksklusif bukan kendaraan pasaran.
*yang punya bebek dilarang ngamuk*
Benny The Greats last blog post..Review Film KNOW1NG
Reply
digitalmbul
reply on April 21st, 2009 8:58 am:
kagak ngaruh Ben
*walau sering beradu fisik dengan bebekers*
kan sering dibahas…
yang bermasalah itu, “the man behind the gun” bukan “gun” nya…
Reply