Jl. Irian – belakang BII Thamrin (lagi)
Pembicaraan pada tanggal 10 Maret 2009, sekitar jam 07 pagi..
“mas, boleh minta tolong, dahan-dahan yang menghalangi rambu ini, tolong dipotong, biar tidak menghalangi lagi..” sambil mengeluarkan beberapa uang kertas sebagai DP pekerjaannya, berhubung beliau menyanggupinya.
Sekitar pukul 18, setelah menjemput istri saya, saya melihat rambu sudah terbebas dari halangan dahan.
“mas..” saya panggil tukang parkir yang membantu saya, dan satu lembar uang kembali saya berikan kepadanya.
Kemarin tanggal, 18 Maret 2009, saya dengan khusus duduk di taman, sebrang jalan Irian, untuk mengambil gambar-gambar.
—————–
Yang ada dalam benak saya adalah, setelah saya tulis di artikel sebelumnya, mungkin mereka tidak melihat rambu yang melarang kendaraan masuk ke jalur tersebut.
Tapi ternyata tidak, mereka ternyata sama sekali tidak perduli dengan rambu tersebut. Saya tidak habis pikir, disaat para pengendara mengeluh tentang macetnya Jakarta, disaat mereka mengeluh kendaraan roda dua yang semakin tidak tau diri, bahkan sebagian dari mereka melakukan debat kusir di mailing list – mailing list, antara pengendara motor, dengan pengendara mobil, ada yang saling mencaci, ada yang juga menyalahkan kendaraan umum.
Mereka yang lewat jalur ini bukanlah orang-orang tidak berpendidikan, semua merata, dari tukang bajaj…
Sepeda motor yang sering menjadi bulan-bulanan ini pun, turut menyumbangkan aksinya di dalam gambar saya, tidak lupa mereka yang bergaya ala anak klub/komunitas.
Mobil kelas menengah, menengah-atas, sampai mobil high class juga ikut terambil gambarnya. Ini yang saya tidak habis pikir.
tentu saja, tidak semua photo tidak saya tampilkan disini, intinya, kembali lagi, jangan coba-coba memaki, atau membenci salah satu jenis kendaraan, karena sebetulnya semuanya sama, tergantung bagaiman empunya bertindak. Dan sudah terlihat jelas, STRATA SOSIAL tidak berpengaruh terhadap attitude disiplin..
















































