digitaLmbuL’s FiLes

cerita-cerita dari Rio

Enjoy Adventuride


Speak! I am the owner..what else??


Tanggal 14 Maret 2009, memang tanggal yang sudah di booking untuk menjalankan aktifitas EA ini, jam 08.30 sudah sampai di titik kumpul untuk menghadiri acara Boeaya Motor di Pamulang Square, dari 5 orang yang confirm, ternyata harus cancel karena adanya kepentingan mendadak. Addis teman SMA ku akhirnya datang sekitar pukul 08.45, lalu perjalanan tandem kami mulai dari TB. Simatupang ke depan stadion lebak bulus untuk bertemu dengan Reza (HSJ). Sebentar berkoordinasi, kamipun melakukan group ride kecil ke Pamulang Square, sesampai di lokasi pukul 09.50, bertemu dengan Bro Djoko (AMC) yang sudah sampai di lokasi, dan kami disambut dengan sangat istimewa oleh perwakilan pihak Boeaya Motor. Kami sempat mengambil gambar terlebih dahulu sambil menunggu waktu acara untuk RSA,

dan sekitar pukul 10.30 acara dimulai dengan sharing mengenai safety riding yang tentunya di dominasi oleh sosialisasi peraturan dan attitude berkendara. Dari perkiraan maksimal 60 menit, ternyata diskusi berjalan dengan sangat kooperatif dan sangat aktif, kamipun terlena dengan suasana tersebut, jarang ada klub yang sedemiikian tertarik dengan masalah peraturan dan attitude berkendara ini.

Akhirnya pukul 12.05 acara disudahi, dan dilanjutkan dengan diskusi kekerabatan, dan tidak lupa photo-photo.

Setelah shalat Dzuhur kamipun menuju Solaria Pamulang Square untuk mengisi perut kosong ini, dan berbincang-bincang lebih jauh, sambil mengenalkan Reza (Bro Djoko pulang terlebih dahulu karena ada acara keluarga) lebih dekat dengan temanku Addis, kebetulan minggu-minggu ini juga menjadi hari untuk memuaskan keberadaannya di Indonesia bersama teman-temannya.

Perjalanan dimulai dari pukul 13.30 dari Pamulang, menuju ke Puncak, tapi ditengah jalan Pamulang, ternyata lampu belakang mati, jadi saya harus mencari bengkel untuk membeli bohlam lampu belakang. Dan ER pun berjalan sambil memecah kemacetan sepanjang perjalanan ke Parung, Bogor, tidak perlu banyak klakson untuk meminta jalan, karena memang dari awal ini kita niatkan untuk menikmati tiap kilometer-nya. Tapi ternyata cuaca kurang begitu bersahabat dengan kami, di tengah jalanpun hujan turun dengan deras, dan kebetulan temanku tidak membawa jas hujan, lagipula ini adalah Enjoy Ride, tidak ada yang akan jatuh sakit, atau mati bila kami telat sampai tujuan..hahahaha. Pinggiran toko kami pergunakan untuk tempat berteduh. Siomay menjadi santapan pembuka kami dalam perjalanan tersebut, walaupun agak terheran sewaktu bayarnya..Rp. 2.500/piring?? Hahahaha…

Perjalanan kami lanjutkan sesaat setelah kami anggap hujan sudah reda, dalam serbuan rintik hujan kami melanjutkan perjalanan dengan pasti, tapi sayangnya, kembali lagi cuaca tidak bersahabat, dan kami harus kembali berteduh, kali ini warung jamu menjadi sasaran. Setelah parkir kendaraan,

mungkin karena tahu diri, karena menumpang berteduh, kami akhirnya memesan jamu, diantara kami tidak ada yang mengerti betul tentang jamu, dan kami putuskan untuk membeli jamu tolak angin, woowww….hangattt….kami menghabiskan jamu sambil melihat kemacetan lalu lintas arah cisarua.

Setelah kami pastikan hujan sudah berhenti total, kami pun melanjutkan perjalanan kembali, tanpa derungan suara knalpot dan tanpa bisingnya suara klakson yang berlebihan, apalagi sirine strobo..hehehe… Sepanjang perjalanan, jalan dipenuhi oleh kebanyakan masyarakat yang mungkin ingin menghilangkan kepenatan selama di Jakarta, begitu juga dengan kami, apalagi aku yang selama ini selalu berjalan jauh dengan roda empat, keletihan yang mendera sangat terasa. Aku hampir lupa sensasi berjalan jauh dengan menggunakan kendaraan roda dua. Pukul 17.58, sampailah kami di Masjid At Tawun, Puncak Pas, mie rebus yang pertama ku pesan pada saat itu, didampingi dengan teh tawar panas mencoba mengembalikan kehangatan tubuh yang terasa hilang seiring menyerbunya rasa dingin di seluruh badan ini.

Terlihat serombongan komunitas otomotif juga sedang menikmati dinginnya udara di Puncak Pas, tanpa terasa adzan maghrib memanggil kewajiban kami sebagai umat muslim, setelah menghabiskan jagung bakar pedas dan juga skoteng panas, kami memutuskan untuk beranjak dari warung tersebut, untuk memenuhi panggilan. Uh! Dingin! Aku harus melewati genangan air di masjid itu, keadaan dingin itu sebetulnya diperparah oleh keringat dan basah air hujan yang mendera kami selama di bogor dalam perjalanan ke Puncak .

Setelah melakukan pose narsis,

kami keluar lokasi, dengan sebelumnya mengambil keputusan untuk pulang melalui cianjur menuju jonggol. Di Cinajur kami sempat memastikan arah perjalanan kami dengan bertanya dengan penduduk setempat.

Track menantang selama perjalanan sangat memuaskan, tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata, setelah sedemikian lama diriku tidak merasakan perjalanan jauh dengan roda dua-ku. Di Cianjur, papan penunjuk arah ke Jonggol sering menjadi perhatian kami, suasana gelap menemani tandem ride kami berdua, hanya 2 cahaya lampu yang keluar dari head lamp kami yang menerangi jalan tersebut, belum lagi jalur yang tidak terprediksi, dimana kami harus sering menahan laju kendaraan, dengan jarak pandang hanya 20m (sejauh head lamp menyorot) banyak jurang dan kubangan mennyambut perjalanan kami, gosh! It’s really amazing!.. Perjalanan kami beberapa kali terhenti, dari serangga yang ikutan nimburng di dalam helm ku, sampai sekedar melepas sedikit lelah. Tempat yang menjadi pemberhentian kamipun beragam, dari sebuah pabrik, sampai ke pom bensin.

Selama kurang lebih 86 Km perjalanan kami, didominasi oleh keadaan gelap, karena kebetulan sepanjang jalan banyak lampu mati, dan juga listrik yang mati pada pemukiman penduduk, yang menyumbang makin gelapnya suasana. Sekitar pukul 11.40 kami sampai di cibubur, untuk melepas rasa lapar, kami berhenti untuk menikmati mie aceh di pinggir jalan cibubur, 1 mie aceh di temani oleh 1 piring nasi putih menjadi santapan ku, juga tidak lupa air teh manis panas untuk melepas dahaga. Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan pulang, dan memisahkan diri di interchange cawang – lebak bulus. Sesampai dirumah istri tercinta membukakan gerbang, ah, rasa senang ini pun makin menjadi lengkap, kembali melihat anak dan istri. Tapi mungkin agak sedikit muram ketika harus berpikir memandikan si Badak. :D

Mungkin ini ada perjalanan 255Km terlama yang pernah ada..hahahahahaha…

2 Comments

  1. hwehehehhe..
    si oom turing ga ngajak2 sayah..
    pengen donk ikutan.. :D

    bangibets last blog post..Kampanye di Musholla

    [Reply]

  2. ini judulnya turing kuliner sayang…

    [Reply]

Leave a Response