MUAK!
By digitalmbul • Oct 30th, 2008 • Category: Automotive, HeadlineKemuakan yang terjadi pada Om edy mungkin sangat beralasan.
Saya juga terlalu letih dan jenuh dengan jalan raya, tidak ada sama sekali peraturan di luar sana. Polisi terus menerus di hujat, apa boleh buat, banyak sekali hal yang belum diselesaikan oleh pemerintah kita.
Jalur Kalimalang adalah jalur keseharian saya pada saat pulang ataupun pergi, seperti biasa jalur saya adalah,
KPAD Jatiwaringin keluar lewat Harum - hmm…selama perjalanan keluar komplek saya menemukan banyak sekali kebodohan yang dilakukan oleh para orang tua..kenapa? sering saya bertemu dengan anak SD, SMP, atau usia muda lainnya, berkeliaran di dalam komplek dengan kepala polos. Jika saja para orang tua mau memberikan pelajaran kepada anak-anaknya..mungkin itu bisa menjadi bekal mereka nanti setelah besar.
Keluar RS. Harum, Lampu merah perempatan Jatiwaringin Pd. gede - Pada saat keluar dari jembatan RS. Harum, banyak sekali motor yang tidak mau mengalah, padahal badan motor saya sudah keluar, lalu di lampu merah, dengan jelas lampu tersebut menyala merah, masih ada saja yang menerobos, belum lagi kelakuan angkot yang berhenti, dan manuver se-enaknya.
Perempatan ke arah Kalimalang, lewat Borobudur, masuk ke komplek Cipinang Indah - sepanjang perjalanan, saya melakukan teknik defensive dan offensive. Defensive pada saat motor yang berlawanan arah terlihat mengambil jalur saya, saya memilih untuk menarik pelatuk rem di tangan kanan, dan meminggirkan motor saya, dan mempersilahkan sang “pembalap” melewati saya, juga sebaliknya, bila si “pembalap” ada di belakang saya, saya lebih memilih mempersilahkan beliau. Offensive, pada saat, angkot manuver ke kiri untuk mengambil penumpang, saya akan mendahului angkot tersebut, bukan hanya angkot koq, mobil pribadi berkelas menengah ke atas sering tidak tahu diri, mereka memperlambat kendaraanya di lajur kanan.
Sepanjang jalan Komplek Cipinang, keluar Kebun Nanas - Pemandangan seperti di komplek saya sendiri tidak ada beda, hanya saja ketika memasuki kuburan China, saya sering bertemu dengan para begundal, jalur yang ada hanya ada dua, ketika ada kendaraan dari jalan lawan arah, kendaraan dari arah saya sering memaksakan diri mengambil lajur lawan arah, sudah pasti akan membuat jalur tersendat, lucunya, seringkali mereka yang mau mendahului dengan cara tolol itu, memaksa masuk dan menyenggol stang saya, dengan keramahan kaki kanan saya, tentu saja saya sapa pengendara tersebut…aduh..pagi-pagi udah sarapan spakbor.
Perempatan PosPol kebun Nanas ke Terminal Kampung Melayu, lewat Jl. Otista III - seperti biasa di lampu merah, para belalang tempur itu berlomba-lomba mendahului traffic light, bukan hanya pengendara biasa loh…”anak klub” juga sering mengikuti perbuatan itu. Sebelum lampu merah keluar ke Otista raya menuju terminal kampung rambutan, saya sering melihat pak Pejabat dengan voorijder nya, turut berpartisipasi mengacaukan lalu lintas, lalu sepanjang jalan ke arah kampung melayu, motor/mobil sering memaksakan diri untuk masuk ke dalam busway, untung saja saya tahu malu, karena lajur itu bukan untuk saya pengendara biasa.
Kampung Melayu belok ke arah Manggarai lewat Jembatan Duri - Di pintu kereta, kesemerawutan semakin menjadi, bahkan disini “mobil rasa motor” sering saya temukan, mendahului kendaraan lain dengan menggunakan lajur lawan arah, yang paling pas, kalau di depannya ada bis., untuk catatan saja, kalau saya perhatikan, rata-rata pelanggar itu adalah pemilik dari mobil tingkat menengah keatas, bahkan tidak jarang mobil mewah..so…strata sosial juga bukan jadi patokan kan??
Manggarai lewat pasar rumput menuju ke jalan Agus Salim lewat Cik Ditiro terus belok ke Prof. Moh. Yamin - Di manggarai sama seperti lajur kampung melayu, mereka tidak tahu malu, mengambil “jatah” yang bukan untuk mereka, yaitu busway, kalau motor dan mobil itu tidak menyusahkan pengguna lain mungkin tidak kenapa, tapi ketika persimpangan guntur, dari busway, mereka paksa masuk ke jalur tengah untuk mengambil jalan lurus ke arah BNI. dan di depan pasar rumput, bis ngetem, penyebrang jalan yang tidak tau keselamatan menyebrang tanpa melalui jembatan penyebrangan, padahal ada di atas kepala mereka.
Di pertigaan Agus Salim, tempat kediaman Kedubes Inggris, saya sering heran, karena lampu merah disitu terlihat tidak di atur ulang, karena pada saat yang belok kanan ke arah Agus Salim (pintu masuk belakang hotel Nikko, bener gak tuh nama jalannya?) menandakan berhenti, dari arah kiri juga masih harus berhenti, ada selang sekitar 30 detik.
Akhirnya sampai ke tempat drop off istriku…di belakang pintu BII Thamrin.
Itu baru satu arah perjalanan menuju ke kantor istri, mau dengar perjalanan berikutnya?
- Kantor Istri ke Kantor ku di MT. Haryono…
digitalmbul is I am the owner..what else??
Email this author | All posts by digitalmbul




lah kenapa gw jadi om-om?
kan akyu masih imut…
edys last blog post..Kemping Bloger
[Reply]
digitalmbul
reply on October 31st, 2008 12:52 am:
udah ah..terima nasib aja….
[Reply]
kalimalang jalur keseharian ? hiii… syeremm…
[Reply]
digitalmbul
reply on October 31st, 2008 8:57 am:
hehehehe…iya om..ngeri yah???
[Reply]