Sahabatku…
Bertemu di SMA, kebetulan aku dan Harry adalah anak baru di sekolah itu. Oni, dia berada dari kelas 1..alias penduduk asli.
Waktu SMA, seperti biasa, kami masing-masing punya teman, dan kesibukan, tapi kami juga selalu kumpul bersama-sama, seiring dengan waktu, aku dan kawan-kawanku mulai lekat, sampai akhirnya sampai ke penghujung tahun, dimana kami harus meninggalkan sekolah itu. Harry dan aku pergi ke kampus yang sama, hanya beda jurusan, Perbanas, sedangkan Oni, dia melanjutkan ke Trisakti. Kenakalan kami pun menjadi, kami terjerumus lembah setan, tapi entah bagaimana, ikatan di hati itu selalu ada, apapun yang terjadi, kami tetap merasa bersama, padahal waktu itu kami adalah mayat hidup, dan berada di lingkungan yang berbeda-beda, walau juga sering kami berkumpul.
Waktu berlalu, dan kami pun beruntung, sanggup keluar dari lembah kenistaan itu, dan bangkit kembali, entah bagaimana, motivasi kami juga sama, yaitu..Ayah..ibu..kakak..adik….atau keluarga.
Tahun demi tahun kami lewati, tahap demi tahap kami lalui, masalah demi masalah kami juga hadapi dengan keadaan sadar, dan ternyata tidak sulit menghadapi kenyataan, memahami masalah, karena kita manusia, yang tidak akan pernah lepas dari masalah.
Sampai akhirnya, Oni, melepas masa lajangnya, dengan wanita pilihannya, kami bahagia pada saat itu, lalu disusul dengan aku, dan Harry berikutnya. Hubungan kami mulai renggang, ketika ada keluarga di tengah-tengah kami, tidak lagi bisa mengikuti aktivitas serutin dulu, apalagi dengan kehadiran bocah-bocah kecil ditengah kami.
Setiap kesempatan bertemu, tidak jarang kami menertawakan masa lalu, dan juga tidak lupa, kami selalu takut, akankah kami bisa mempertahankan ini? Only God Knows..and we will do the best we can.
Pekerjaan, Oni terlebih dahulu bekerja, lalu disusul Harry, lalu aku, lingkungan pekerjaan kami pun berbeda-beda, dan kebetulan aku lebih dulu kerja paruh waktu sewaktu kuliah, walaupun berantakan. Seiring waktu berjalan, sampai saat ini, kami sudah mulai establish, sudah dapat menapakan kaki di tanah kembali. Lingkungan kerja…hmmmm…ini nih….
Ternyata lingkungan kerja menentukan juga yah? Terakhir temanku bercerita, tentang kehadirannya di Rave Party pantai carnaval sabtu kemarin, dia terlihat sangat senang menceritakan semuanya, walaupun dengan muka lesu. Satu kalimat yang membuat hati ini terhentak, menangis, berteriak, bahwa dia diberikan “happy pills” oleh teman kantornya. Bukan kali ini saja aku menangis untuk sahabatku, tapi ah..kenapa terjadi lagi? Terkunci mulut ini, tak bisa berbicara, hanya senyum palsu, dan aku berusaha tidak langsung mengomentari hal tersebut. Hanya ikut bersenang hati, dan bercerita, bahwa sebetulnya aku juga sangat ingin pergi ke acara-acara seperti itu, hanya saja, sekarang aku lebih ke arah kegiatan sosial, dari Road Safety, sampai ke teman-teman yang menanggulangi bencana banjir di lingkungan tempat tinggal, anehnya, selalu saja ada alasan, untuk tidak pergi ke acara-acara tersebut, walau dalam hati, ingin sekali kembali merasakan dunia gemerlap itu.
Sekarang, aku hanya menunggu waktu, untuk dapat memberitahu, dan mengingatkan dia, untuk tidak terpengaruh oleh teman-temannya yang mungkin terlambat dalam pergaulan. Mungkin juga, bila aku berada di posisi temanku, susah hati ini untuk menolak ajakan-ajakan seperti itu, dengan materi yang cukup memadai, dan lingkungan yang sangat bebas, hmmm…masih ragu hati ini bila aku berkata..”tidak..aku tidak akan terbawa arus..”.
Rasanya ingin diri ini datang ke tempat sahabatku bekerja, dan menginjak-injak kepala orang-orang yang meracuni temanku, tapi itu bukan solusi, mereka hanya mempengaruhi, bukan memaksa, kembali lagi kepada individu, apakah mau dipengaruhi atau tidak..dan jawaban untuk situasi ini…susah. Padahal aku selalu meringis sinis kepada mereka yang selalu bangga atas kehidupan metropolis nya…tapi…sekarang…berbalik kepada diriku…kepada sahabatku yang sangat kucinta. Masih terngiang di otak ini, saat kami bertiga bercerita, saat pacaran dulu, kami sering bertengkar dengan pasangan masing-masing..hanya karena kami mendahulukan kepentingan sahabat, dibandingkan pacar..(tapi sekarang sudah tidak berlaku lagi….).
Sahabatku, aku hanya bisa mendoakan mu…aku hanya bisa berucap..aku hanya bisa menulis..semuanya kembali kepada dirimu…

Sahabat…!
sedih juga rasanya kl sahabat saya mengalami masalah yg sama.
yang tabah yach mas.
Reply
Wah, sedih juga ya melihat sahabat kita terjerumus kembali..
Sabar Mas, jangan lupa buat ngingetin dia
Reply
@Ina : jangan sampe ya, non
@Nazieb : belum..tapi jangan sampe….
Reply
kirain nama sayah.. hihihihi
Reply