digitaLmbuL’s FiLes

cerita-cerita dari Rio

MENGHAPUS MOTOR?!?!


Speak! I am the owner..what else??


Setelah [maksa ikutan] meeting dengan sebagian dari para pendiri Global Road Safety Partnership for Indonesia, di kantor MASTEL, ada satu yang menarik perhatian gue, pada akhir acara. Tulisan dari pak Giri Suseno, sebagai ketua umum GRSP Indonesia, menyebutkan bahwa, secara garis besar, bagaimana kita bisa menghapus sepeda motor, sementara kalangan menengah kebawah di Indonesia adalah 80%.
Ilustrasi yang menarik adalah, dari UMP di Indonesia, (let’s say) sebesar Rp. 900.600, dengan biaya makan per hari sebesar Rp. 10.000, maka perbulan dia hanya mempunyai sisa sebesar Rp. 650.000, jumlah ini harus di kurangi dengan beban bayar biaya listrik, susu anak, obat-obatan, air, dan lain sebagainya.

So, moda transportasi apa yang layak untuk mereka, iini bagian yang menariknya,
Mobil Pribadi.
Dengan Rp. 7.500 perhari, dia akan mempunyai bensin sekitar 2 liter, yang mana jarak tempuh terjauh ibukota adalah 18 KM, dalam 1 hari, bagaimana bila lebih dari itu? So hampir bisa dipastikan, moda transportasi ini di coret dari daftar alternatif transportasi.

Kendaraan Umum
Rp. 2000 rupiah, satu kali perjalanan, sungguh beruntung untuk mereka yang memang berada pas di pinggir jalan, atau dalam kata lain, hanya membutuhkan satu kali transportasi pergi/pulang kerja, yang kemudian akan di akumulasikan Rp. 4000 pulang pergi. Bagaimana nasib mereka yang tinggal di pedalaman, atau memerlukan transportasi lebih dari 3 kali, Rp. 18.000 pulang pergi, per hari, berapakah per bulan? Rp. 450.000 ?

Motor
Dengan rasio jarak tempuh 1:40KM, maka hanya memerlukan Rp. 4500 untuk jarak 40 KM, perhari, bisa dibandingkan berapa jauhnya perbedaan yang terjadi.

Maka tidak pelak, motor adalah pilihan satu-satunya untuk mereka, berbeda dengan kita, pak Giri Suseno mengkategorikan gue dan Fordi (TRiC) ada di dalam 20% (AMIN ya ALLAH!), bisa membayangkan bagaimana pertumbuhan kendaraan roda dua tidak dapat lagi di bendung, karena memang demand yang begitu tinggi dari masyarakat.

So, sangat tergelitik buat gue sekarang, mendengar ocehan mereka yang selalu berpendapat miring tentang kendaraan roda dua, apakah mereka sanggup memberikan solusi? Karena memang ini terkait dengan kehidupan ekonomi di Indonesia yang sangat terpuruk. Dan sangat sulitnya, mengendalikan bahkan berusaha merubah budaya carut marut di Jakarta ini, terutama untuk pengguna sepeda motor.

Yah..begitulah kenyataan yang harus di hadapi oleh kita semua (bukan hanya pemerintah), gue sekarang tinggal tunggu, pak Giri mau berbagi artikel kontroversi (untuk kalangan dinas perhubungan) mengenai amburadulnya transportasi darat di Indonesia, semoga aja dikasih izin untuk me-rilis ulang di blog gue…hehehehe.

Selamat berpikir panjang….

Tagged as:

4 Comments

  1. ide menghapuskan roda 2 gak lebih fikira egoistis dari orang yg gak pernah sama sekali merasakan ‘nimmatnya’ dan ‘pentingnya’ sepedamotor.. :)

    [Reply]

  2. Pertemuan di Kantor Mastel kemarin adalah memberikan gambaran ttg fenomena perkembangan sepeda motor di Ind khususnya jakarta, & ini terkait dgn kondisi perekonomian qt… Kl Transportasi Baik….Ekonomi Baik…… maka motor menjadi moda penunjang hoby bukan alat transportasi….ok bos

    [Reply]

  3. waduh..siap komandan..jadi gak enak nih..ada dari dirhubdar..hehehehehee

    [Reply]

  4. @ herman armanda, fenomena itu major-nya kan dijakarta, coba tengok ke daerah2 pak, terutama daerah saya, motor bener2 alat transportasi utama disini :)

    [Reply]

Leave a Response