Masalah Transportasi Di Jakarta, Masalah Teknis Atau Politis ?

Source : http://www.trotoar.org/forum/showthread.php?p=231#post231
——————————————————————————–

Kemacetan, pelanggaran lalu-lintas dan kecelakaan adalah masalah yang paling sering tampak dipermukaan sebagai masalah lalu lintas. Sedangkan tata ruang, jaringan jalan, sistem transportasi moda terpadu, rencana dan kebijakan angkutan umum, populasi kendaraan, pengaturan lalu lintas, penegakan hukum, ketersediaan sumber daya dan aturan bisa dikatakan sebagai akar masalah transportasi di Jakarta.

Pembahasan tentang kemacetan, selalu melibatkan masalah angkutan umum dimana seharusnya angkutan umum adalah salah satu penyelesaian masalah kemacetan di Jakarta, pemikiran yang logis jika mengingat semakin mahalnya harga BBM, tingkat polusi, dan kapasitas jalan yang terbatas.

Sayangnya angkutan umum malah ditinggalkan oleh sebagian besar warga DKI Jakarta, terbukti dari tahun ke tahun semakin tingginya jumlah kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan angkutan umum yang ada, tentu ini bukan tanpa sebab, selain kondisi angkutan umum kita yang jauh dari nyaman, aman dan tepat waktu, jumlah angkutan umum kita juga masih jauh dari ideal.

Kemacetan, yang dinyatakan oleh Meneg Perencanaan Pembangunan mengakibatkan kerugian 7 Triliun rupiah setiap tahunnya, telah semakin memperburuk kondisi angkutan umum kita, kondisi macet telah mengakibatkan life time kendaraan angkutan umum semakin berkurang, apa lagi di jaman yang serba mahal membuat para pengusaha angkutan umum menekan harga perawatan kendaraannya.

Kondisi ini terlihat menjadi seperti benang kusut dan lingkaran tak berkesudahan, macet disebabkan kondisi dan pelayanan angkutan umum kemasyarakat tapi akibat macet juga menurunkan kualitas pelayanan angkutan umum ( 70.4 % masyarakat Jakarta tidak puas dengan pelayanan angkutan umum; hasil jajak pendapat Litbang Kompas September yang lalu )
Tapi mari kita lihat dari satu sisi dulu yaitu buruknya pelayanan angkutan umum terhadap masyarakat dan mencari tahu apa penyebabnya.

Sering kita lihat Angkot, Metromini, Kopaja, bahkan bus-bus besar bertindak nekat melawan peraturan lalu lintas, ngetem, stop and go disembarang tempat, saling sodok, pokoknya seringkali jadi penyebab tersendatnya arus lalu lintas, membahayakan penumpangnya dan mencerminkan tidak ada disiplin dalam membawa kendaraan umumnya, tapi kenapa para supir ( Paramudi ) Trans Jakarta, cendrung lebih tertib ? lebih mengikuti aturan ?

Dari banyak faktor yang membedakan supir angkutan umum dengan paramudi bus Trans Jakarta, maka faktor sistim penggajian adalah yang paling membedakan, jika Paramudi Trans Jakarta digaji tetap 1,2 Juta Rupiah perbulan ditambah 40 ribu tunjangan per hari kerja, maka supir angkutan umum yang lain mendapat hasil dari berapa banyak penumpang yang bisa dia bawa, dipotong setoran wajib, uang bensin + Susu Tante ( Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan ) dari oknum petugas di jalan.

Jadi jelas ada perbedaan orientasi dalam mengemudi, kalo Paramudi bus Trans Jakarta sudah bisa berorientasi kepada pelayanan public ( walau masih banyak cacat disana sini ) berbeda dengan pengemudi angkutan umum lainnya yang cenderung kearah bagaimana mendapat penumpang sebanyak banyaknya, tidak perduli kenyamanan penumpangnya.

Seorang awak angkutan umum, dalam suatu debat public tentang transportasi mengatakan bahwa jika para supir angkutan umum bisa mendapat gaji seperti paramudi bus Trans Jakata, dia menjamin pelayanan dari angkutan umum yang lainpun bisa, setidaknya menyamai bus Trans Jakarta.

Berarti harus ada subsidi dari Pemda DKI kepada seluruh pengemudi angkutan umum Jakarta, bisakah ?, mari kita berhitung. Menurut Organda ada 6.500 bus besar, 14.000 bus kecil, dan hanya 30 % nya saja yang beroperasi, tanpa menghitung keberadaan Taksi, berarti hanya ada 6500 kendaraan angkutan umum yang beredar di Jakarta, angka inipun diyakini masih terlalu besar jika dibandingkan dengan kenyataan yang ada, mengingat mahalnya biaya peremajaan angkutan umum, anggap saja ada 6000 unit kendaraan angkutan umum yang real beroperasi, jika Pemerintah harus mensubsidi rata-rata 1 juta rupiah perbulannya, maka berarti pemerintah harus mensubsidi sebesar 6 Miliar perbulan, atau 72 Miliar pertahun, masih jauh lebih kecil dari biaya kemacetan sebesar 7 Triliun pertahun ! – walau data yg digunakan tahun 2003, tapi saya yakin pertumbuhan kendaraan angkutan umum tidak berubah banyak hingga tahun ini -

Skemanya pendanaannya pemerintah bisa menaikan tarif pajak kepemilikan kendaraan pribadi, menerapkan pajak kemacetan ( Road Pricing ), dll.

Akhirnya ini akan menjadi keputusan politik, dan pernyataan Masalah Transportasi di Jakarta, Politis atau Teknis ? menjadi menarik untuk ditelaah lebih jauh.


Speak!  ayah, pekerja, dan penggiat keselamatan jalan...


One Response to “Masalah Transportasi Di Jakarta, Masalah Teknis Atau Politis ?”

  1. gue berpendapat?

    Politis,
    mungkin kurang tepat yah??
    gmana kalo di rubah menjadi profit oriented para oknum Pemprov?

    gue sering menyoroti ini dalam tulisan gue…salah satunya…

    5. Gak mau kena macet dan dibelakang bis
    Bis / kendaraan umum laiinya adalah fenomena luar biasa dari ibu kota tercinta kita ini, para pejebat lalu lintas sibuk mencari keuntungan pribadi, daripada mengatur kendaraan ini. Apabila memang keadaan memaksa anda berada di belakang knalpot “kurang ajar” kendaraan umum, tetaplah bersabar, gunakan selalu masker yang layak pakai dengan filter karbon, jangan memaksakan kehendak untuk mendahului kendaraan umum tersebut, pada akhirnya, membuat susah orang lain.

    dan beberapa yang emang gak masuk kedalam artikel2 gue…lebih banyak jawaban dari masalah2 yang dituangkan kedalam mailing list…
    dimana sebetulnya pemerintah punya banyak sekali PR untuk transportasi umum ini, tapi mereka lebih memilih untuk menciptakan solusi daripada memperbaiki untuk mendapat solusi, yang pada akhirnya, tiap solusi yang di ciptakan tersebut tidak akan bertahan lama, mengingat, kebiasaan bangsa kita tercinta ini, sangat minim dengan yang namanya maintenance…
    apabila kita bicara PR pemerintah, tidak hanya terjadi di masalah transportasi saja…banjir misalnya…(lain topik..)
    Saya sangat mengacungkan jempol kepada gubernur yang bersifat “maju terus pantang mundur..” walah dihadang dengan berbagai hujatan…
    tapi maju terusnya koq malah nyusahin??

    Ketika kita menghadapi permasalahan, misalnya tugas kantor, ada salah satu tugas yang sangat susah atau tidak bisa diselesaikan…untuk mengatasinya, kita mencari tugas lain..atau menciptakan tugas lain, dengan harapan rehat dari tugas sebelumnya. Tapi apa yang terjadi, bila tugas kita sebelumnya terlupakan? atau sengaja dilupakan? maka akan terjadi efek akumulasi permasalahan.
    Dan itu juga yang ada dalam permasalahan transportasi umum kita.

    So…
    bila ditanya..kenapa transportasi kita mengalami kendala yang cukup rumit?
    tanyakan kembali kepada pemprov, mengapa permasalahan sebelumnya tidak pernah diselesaikan…dan tanyakan juga..sudah berapa lama dibiarkan??

    Reply

Leave a Reply

CommentLuv badge