Nilai Kampanye di mata seorang Biker
Rasuna Said – Kuningan, Jakarta
Sudah beberapa kali diperhatikan, lajur lambat di sepanjang jalan Rasuna Said dan Casablanca yang sangat memprihatinkan, apabila di bandingkan dengan lajur cepat.
Pengendara motor harus sering menerima benturan keras pada shock breaker mereka, dikarenakan lubang yang belum tertutup, atau aspal tambalan yang berkesan tidak serius, yang hasilnya, jalanan menjadi bergelombang, dan cekung kedalam.
Ironisnya, lajur kiri adalah lajur dimana pengendara motor harus berada, dan “terpaksa” menerima semua “karya seni” dari para koruptor di DKI Jakarta ini, entah apa yang ada dalam pemikiran pemerintah provinsi kita? atau ada indikasi untuk menjadi penjilat? karena ketimpangan yang sangat terlihat pada lajur cepat, yang biasanya di lewati oleh para pejabat negara. Mengapa para pejabat negara tidak pernah melewati lajur paling kiri? pasti keadaan akan tidak seperti sekarang ini jadinya. Apakah selalu harus menunggu menelan banyak korban, baru pemerintah bisa buka telinga dan buka mata? Apakah selalu seperti itu kebobrokan Pemerintah Jakarta?.
Pengendara motor memang harus menggunakan lajur kiri, tapi, mohon dukungan untuk memperbaiki prasarana yang ada, agar sistem yang selalu di publikasikan menjadi kenyataan, membuat Jakarta lancar, dan teratur.
Mengapa selalu mengadaptasi sistem dari negara lain, tapi tidak pernah sama sekali memperhatikan, faktor apa yang membuat sistem tersebut berhasil dan berjalan dengan baik di negara itu?
Terlalu banyak pekerjaan rumah yang belum dikerjakan oleh Pemprov DKI, dibandingkan harus selalu mengadaptasi sistem yang notabene harus membuka “keran” APBD cukup besar, sudah menjadi rahasia umum, bagaimana birokrasi tender dalam pemerintahan berjalan, tanpa adanya sama sekali kekuatan dari rakyat kecil untuk berbicara. Kenapa tidak dibenahi dulu, apa yang menjadi tugas inti untuk membuat Jakarta menjadi lancar. Salah satunya, membenahi internal staff dari Pemerintahan Daerah Provinsi Jakarta, kalo untuk masalah lalu lintas, ANGKUTAN UMUM!!!!!!
Rupanya para oknum PemProv kita tidak terlalu perduli dengan hal seperti ini, atau mungkin terlalu banyak mengambil “keuntungan” dibalik kesengsaraan pengguna jalan?. Pada saatnya meraih posisi untuk menjadi orang nomor satu di Jakarta, uangnya lebih baik dihabiskan untuk kampanye, daripada memperlihatkan “hasil” dimata masyarakat-nya.
Kampanye atau Mau Mencelakakan rakyat??
Salah satu contoh, dari arah by pass cawang uki, ke arah casablanca kuningan, kembali, motor harus menggunakan lajur paling kiri, tapi apa yang terjadi, bendera-bendera Partai Politik, dan Calon Gubernur berkibar mengganggu dan membahayakan pengendara motor, bagaimana tidak, dari pemasangannya yang tepat di muka pengendara motor, dan menjorok ke dalam badan jalan. Pemprov tidak tahu?? OMONG KOSONG!!! Tidak mungkin aparat tidak ada yang melihat fenomena luar biasa kota Jakarta ini. Sering di beritakan, bahwa ada aksi pencopotan atribut kampanye, atau membersihkan bendera-bendera, di expose besar-besaran, maksudnya apa? kampanye tambahan via media?? lalu apa? dibiarkan dulu, setelah dirasa cukup banyak orang yang melihat..baru di copot??apakah ada “deal” politik sendiri dibelakangnya? hmmm..silahkan terka sendiri yaa….
Dalam masa perkenalan saja, ParPol atau CaGub itu sudah menyusahkan rakyat nya…berbuat apapun yang dirasakan penting untuk melangengkan kepentingan kelompok tanpa memperhatikan bagaimana nasib rakyat nya, bagaimana nanti bila sudah terpilih, atau menjadi partai besar??? tanda tanya yang besar..atau tanda tanya yang banyak??? tinggal pilih….
Kampanye di jalan raya, terlihat jelas, dari KorLap tidak sanggup memberikan pengarahan kepada peserta “rolling kampanye” untuk selalu menggunakan helm, menghormati pengguna jalan lain, nah, kalo ngurusin peserta “rolling kampanye” aja gak sanggup, gmana mao ngurusin rakyat satu Jakarta? dengan masalah yang berbeda-beda….
HOOOAAAHHHH…intinya…Cappeee Deeeyyyy……kapan kita mao maju yah? Apa harus dengan protes-protes seperti ini terus?? Atau dengan harus timbul korban terlebih dahulu? hmm..maunya korban nyawa atau korban luka yah??? Begitu udah ada korban, bukannya menjadi koreksi unutk individu, tapi malah dijadikan komoditi politik….



