Years of my Self-Defense journey

  Posted in Senjata, Tarung on

  by digitalmbul

Dulu, saya sering berkhayal, dalam pertarungan dibutuhkan keahlian khusus yang harus dilatih dengan tekun. Saya sering melakukan hal-hal konyol dulu, di stimulasi oleh film kungfu yang saya tonton hasil dari video rental (dulu masih VHS). Walhasil, tiang ayunan saya jadikan ajang adu kuat dengan tulang lengan saya, memanfaatkan “serangan balik” dari tiap tiang yang tergantung, pada saat itu ada 4 tiang dan bangku dudukan ayunan saya copot saat itu, berasa seperti pemeran kungfu yang sedang berlatih tangkisan di tonggak-tonggak kayu.

 

Penasaran saya berlanjut dengan mengikuti convesional martial art saat itu, tae kwon do, tidak lama, tapi saya mengerti tentang arti tahapan yang diajarkan saat itu, memang betul, saya belum bisa sparing sampai sabuk tertentu, sayangnya saat itu saya belum bisa mengikuti dengan penuh, karena kendala perekonomian yang tidak memungkinkan saya melanjutkan pelatihan.

 

Umurpun makin bertambah, kehidupan di jalan makin menjadi variatif, seperti layaknya para bijak yang mengatakan, bahwa umur muda sering tidak bisa menahan emosi, akhirnya yang terjadi pencurahan emosi di jalan yang tidak keruan, dari tawuran sampai sok-sok an jadi tukang palak, yang berakhir saya sendiri di palak plus di sodet leher dengan cutter berkarat saat itu.

 

Beberapa tahun terakhir, saya ikut pelatihan Krav Maga, yang menurut saya menarik, karena saat pertama kali saya bergabung, saya berpikir dengan hebatnya gaya demi gaya yang keluar dari pelatihan Krav Maga ini. Keren, seperti di film-film laga, pikir saya saat itu. Tapi, waktu berlalu, saya mencoba memahami bela diri yang mengambil seluruh gerakan dari bela diri lokal sampai luar negeri. Yang akhirnya berlabuh pikiran saya terhadap ilmu Krav Maga ini, yang kebetulan saya coba mengerti, bahwa Krav Maga sendiri tidak memiliki acuan baku gerakan, alias bebas. Saya ikuti, beberapa perguruan yang mengambil nama Krav Maga melakukan aturan yang sangat variatif, bahkan ada yang menggunakan sabuk untuk tingkatan, dan juga menggunakan seragam.

 

Well, itu hak orang untuk menginterpretasikan apa itu Krav Maga, karena memang tidak pernah ada yang membakukan semenjak diciptakan, karena saat itu, Krav Maga dibuat untuk pertarungan di militer, yang akhir-akhir ini saya mulai mendalami kehidupan militer yang memang memiliki multi dimensi dalam gerakan bela diri nya.

 

Krav Maga menurut saya adalah sebuah konsep bela diri yang mengutamakan pola pikir, konsep pengertian bahaya yang akan diterima, maka dari itu, saya sering menyampaikan bahwa gerakan adalah hasil dari ancaman yang kita terima di jalan, kembali lagi, konsep bahaya yang akan kita hadapi.
Kenapa saya berpikir seperti itu, karena kerap kali saya melakukan pendalaman tentang berbagai video atau literatur yang saya perhatikan, banyak sekali yang akhirnya menjadikan gerakan sebagai ekslusivitas suatu perguruan, tanpa memikirkan apa yang sebetulnya akan terjadi.
Saat itu ada video dari youtube yang mmenggunakan quote yang menarik :

 

“STOP COREOGRAPHING STREET FIGHT”

 

Hal itu juga yang makin menggelitik saya membuat tulisan ini, setelah sampai saat ini, saya tetap memegang terhadap konsep Krav Maga yang saya terapkan kepada beberapa student di FIST Krav Maga, yaitu :

 

Gerakan adalah hasil dari ancaman yang kita terima

 

Quote inilah yang sering saya sampaikan kepada student, karena pertanyaan mereka sendiri, yang melihat dari berbagai media tentang gerakan Krav Maga, Sistema, atau lainnya. Pertanyaan mereka semua hampir sama, “bang, kalau begini gimana? kan bisa juga?”, dan memang betul, karena bila terpaku dengan gerakan, maka kita kehilangan esensi ancaman di jalan.
Karena gerakan ini juga, menimbulkan banyaknya ego pribadi, yang menyatakan “kamilah yang terbaik” dengan berbagai macam bungkusnya.
Sering saya baca tulisan yang membandingkan satu bela diri dengan lainnya, ada yang menyamakan semua kondisi itu sama, di ring dan di jalanan. Tapi satu yang pasti sama, kalau kena pukul itu sakit..itu aja sih..

 

Ini yang biasanya terjadi dalam pelatihan,

 

 

Tapi, seringkali yang terjadi adalah dalam tarung di jalanan adalah seperti ini,

 

 

Sangat beda kan? Karena dalam tarung di jalan banyak yang terlibat, bukan hanya kita dan musuh, tapi dalam “kita” juga terlibat banyak hal, antara lain, marah, khawatir, cemas, takut dan lain sebagainya. Dalam kelas, yang terjadi adalah koreografi atau skenario yang memang sudah kita buat untuk melatih reflek dalam bertarung. 180 derajat beda dengan di lapangan. Lalu bagaimana dengan musuh kita di jalan? Ini yang lebih tidak terprediksi lagi, apakah dia bawa senjata? Senjata apa? Pisau? Pistol?, lalu bagaimana kemampuan dia dalam bela diri? Bagus, atau biasa-biasa saja?, Lalu bagaimana dengan teman-temannya? Apakah itu lingkungan dia? Dan masih banyak lagi, maka dari itu saya selalu setuju dengan quote :

 

The Best Way To Win a Fight, Is To Avoid It..

 

Dalam tarung di jalan, bahkan kita lupa dengan keseimbangan tubuh kita, terjadi dengan saya ketika di jalan, saya kehilangan keseimbangan ketika memukul, karena memang tidak ada yang ada dalam skenario saat itu.
Maka yang terbaik memang menghindari potensi pertarungan, tapi akal sehat ini seringkali dikalahkan dengan yang namanya emosi sesaat, emosi inilah yang paling bahaya, karena kita bicara adrenalin saat itu.

 

Makanya, kami tidak pernah mengatakan satu bela diri itu buruk, karena semua bela diri itu baik, ya, karena Krav Maga juga lahir dari konsep bela diri yang sudah ada sebelumnya, konsep anatomi tubuh yang sudah dipelajari oleh para suhu bela diri jaman dulu. Hanya saja, saya selalu menegaskan tentang pentingnya konsep pertarungan dulu, bukan gerakannya. Karena bila bicara hanya gerakan, pertanyaan tentang perbandingan dengan gerakan lainnya pasti akan muncul.

 

Ini saya baru bicara tentang tangan kosong, belum lagi dengan pisau, yang dalam pelatihan kita sudah di cekoki dengan skenario knife defense, atau knife offense,

 

Tapi tidak yang terjadi di jalanan,

 

 

Walau amit-amit, jangan sampai terjadi sama saya di jalan, karena saya sangat mengerti, bila tarung dijalan, hal yang terburuk harus tetap dipikirkan, apa sih hal yang terburuk terlibat tarung dengan pisau?

 

 

So, jangan membanding-bandingkan gerakan kamu dengan perguruan lain, karena di jalan, setangguh apapun kamu, belum tentu akan survive dalam street fight.

 

 

Bagaimana dengan senjata api? Apa yang ada dalam benakmu adalah ini?

 

 

Tapi, sadar kah kamu, untuk menembak tepat, membutuhkan waktu beberapa detik untuk melakukan bidik?

 

AVOID THE FIGHT, AND STAY SAFE!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *